Tegal - ‎Nurhayati, 45 tahun, sudah keluar dari rumahnya di Desa Getaskerep, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah begitu matahari sudah naik, Minggu, 11 Agustus 2019.

Ia bergegas menaiki sepedanya. Ia mendatangi sejumlah masjid, lalu menunggu pembagian daging kurban. Salah satu masjid yang didatangi yakni Masjid Nurul Iman di Jalan Pala 8 RW 11 Desa Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Ketika Nurhayati berada di masjid itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30.

"‎Ini masjid ketiga yang saya datangi," katanya kepada Tagar sembari duduk bersandar di tembok salah satu rumah untuk melepas lelah.

Baca juga: Foto: Sapi Kurban Mengamuk dan Lepas

‎Saat itu Nurhayati sedang menunggu pembagian daging kurban bersama ratusan warga lainnya. Sebagian besar dari mereka sudah sudah berdiri berdesak-desakan menunggu selama satu jam lebih. Namun panitia pembagian belum menunjukkan tanda-tanda akan membagikan daging kurban.

"Ngantre lama tidak apa-apa. Yang penting bisa dapat daging," tutur Nurhayati.

Dari dua masjid yang sebelumnya sudah didatangi, ‎Nurhayati mengaku masing-masing mendapat seperempat kilogram daging kurban. "Dagingnya buat dimasak sendiri," akunya.

‎Seperti Nurhayati, Sayem, 55 tahun, juga sudah antre berjam-jam di masjid yang sama demi bisa mendapatkan satu kantong plastik daging kurban. Bahkan warga Desa Jatilawang, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, itu sempat jatuh terjungkal saat terjadi dorong-dorongan di barisan antrean.

"Tangan saya terluka karena terjatuh tadi," kata perempuan berjilbab ini sambil menunjukkan luka lecet di tangan kirinya.

Tegal‎Sayem, 55 tahun, menunjukkan luka lecet di tangannya setelah terjatuh saat berdesak-desakan mengantre daging kurban di Masjid Nurul Iman Desa Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Minggu 11 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Berbeda dengan Nurhayati, Sayem sudah mendatangi empat masjid demi bisa mendapatkan daging kurban sebelum sampai di Masjid Nurul Iman. "Saya berangkat dari rumah pukul 07.30. Diantar anak pakai sepeda motor," ucapnya.

Warga lain yang ikut mengantre pembagian daging kurban, Udin, 53 tahun, mengatakan warga yang antre ada yang berasal dari luar Kabupaten Tegal.

"Tadi saya ngobrol-ngobrol, ada yang dari Pemalang. Jadi bukan dari lingkungan sini saja," kata warga Desa Tarub, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, ini.

Udin juga mengaku daging kurban yang didapatkannya nantinya akan dimasak sendiri. "Kalau dijual ya harganya Rp 20 ribu. Biasanya ada yang mau beli, daripada ngantre lama," ujarnya.

Daging Kurban yang Dibagikan 5 Ons

‎Setelah mengantre lama, pembagian daging kurban yang ditunggu-tunggu Nurhayati, Sayem, dan Udin baru dimulai sekitar pukul 17.00 WIB. Tiap warga yang sudah menerima daging oleh panitia pembagian diberi tanda menggunakan tinta di salah satu jari.

Sebelum pembagian dilakukan, sejumlah panitia harus bekerja keras untuk menertibkan antrean, saking banyaknya warga.‎ Beberapa kali saling dorong terjadi.

Baca juga: Tradisi Idul Adha, dari Gunungan Hingga Rebutan Darah

‎Padahal, ada beberapa warga yang mengantre sambil menggendong anak mereka yang masih kecil. Beberapa yang lainnya ada yang sudah berusia lanjut.

"‎Tiap tahun memang banyak warga yang datang menunggu pembagian daging kurban. Bukan hanya warga sekitar masjid saja. Dari mana-mana. Jadi kami harus berupaya agar tertib," ujar Ketua Panitia Pembagian Daging Kurban Masjid Nurul Iman, Indra Hidayat.

Jumlah daging kurban yang dibagikan sebanyak 1.500 kantong plastik‎. Daging itu berasal dari 11 ekor kambing dan sembilan sapi yang dikurbankan warga sekitar masjid.

TegalRatusan‎ warga harus berdesak-desakan saat mengantre pembagian daging kurban di Masjid Nurul Iman Desa Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Minggu, 11 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

"Satu kantong plastik isinya lima ons daging. Jumlah yang warga ngantre sekitar seribuan. Jadi jumlahnya lebih dari cukup," ungkapnya.

Baca juga: Lima Meme Tingkah Hewan Kurban Saat Idul Adha

Menurut Indra, selain dibagikan ke warga sekitar masjid dan warga umum yang mendatangi masjid, daging kurban juga diberikan ke sejumlah panti asuhan.

"Kami hanya menyampaikan amanat dari warga yang kurban. Kalau dagingnya apakah untuk dimasak sendiri atau dijual‎, ya terserah yang menerima," ujar dia. []