Pematangsiantar - Siang itu, cuaca di Siantar cukup panas. Sudah beberapa hari tak turun hujan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, Arya Kusuma Wijaya, 16 tahun, bergegas masuk ke rumahnya melihat kondisi ayahnya. Dia baru pulang sekolah. 

Setelah ngobrol sebentar dan membantu ayahnya yang terbaring sakit di tempat tidur, Arya lalu menemui Tagar dan mulai bercerita tentang kondisi keluarga mereka.  

Arya mengatakan kini menanggung beban besar di pundaknya sejak ayahnya, Norman Syahputra, 49 tahun, lumpuh dan sakit-sakitan sejak awal 2019 lalu. Ibunya, Suri Fatimah, sudah meninggal dunia 5 tahun lalu. Dia kini hidup bersama ayah dan seorang adiknya yang masih kelas 1 SMA. Arya sendiri kini masih duduk di kelas 3 SMA di SMA Negeri 6 Pematangsiantar

Baca juga: Di Siantar, Pencuri Pisang Ditahan, Tersangka Korupsi Berkeliaran

Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana ukuran 5 x 12 meter di Jalan Viyatha Yudha, Perumahan BTN, Blok 9 B5, Kelurahan Bahkapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, Pematangsiantar. Rumah itu mereka kontrak dengan biaya Rp 2 juta per tahun. 

Arya bercerita, sepulang sekolah dia langsung bekerja di sebuah rumah makan di Jalan Simbolon, Kecamatan Siantar Barat. Tak ada waktu lagi bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya. 

"Pulang sekolah kerja di rumah makan. Apa yang bisa kukerjakan, kukerjakanlah, bang," ucapnya, Jumat, 9 Agustus 2019.

Arya juga mengatakan, selain kerja di rumah makan, dia juga kerap bekerja sebagai pencuci sepeda motor. 

Setiap hari, dia mengaku bisa membawa uang minimal Rp 20 ribu dari hasil kerja di rumah makan atau mencuci sepeda motor orang lain. "Kadang kalau pas banyak rezeki mau lebih, bang. Cuma segitulah uang yang kubawa per harinya ke rumah," kata Arya.

"Itulah kubagi-bagi, sama ayah, sama adik. Sisanya kutabung untuk biaya sekolahku. Uang sekolahku sebulan Rp 70 ribu," katanya lagi, air matanya mulai tumpah dan langsung dia usap. 

Selain itu, kata Arya, dia juga kerap membawa makanan dari rumah makan tempatnya bekerja, sebagai bekal makan mereka malam hari. 

Baca juga: Wali Kota Siantar Tidak Tahu Pembangunan GOR Langgar RTRW

Menurut Arya, setiap hari pekerjaan itu dilakukannya sepulang sekolah pukul 14.00 hingga pukul 22.00. Mengenai pekerjaan rumah (PR) sekolah, dia menyebut dibawa ke tempat kerjaan dan di sela-sela bekerja disempatkan menyelesaikan PR tersebut. "Kalau belum (selesai) kukerjakan semua kubawa lagi ke rumah. Bangun pagi subuh kulanjutkan," katanya.

Arya menambahkan saat dia bekerja maka adiknya yang merawat ayahnya, termasuk bantu memandikan, buang air besar, atau buang air kecil. "Tapi kalau pas aku di rumah, ya aku yang melakukannya," kata Arya.

Arya bercita-cita jadi orang sukses. Dia pun tak menampik jika ada saja yang membantu kehidupan keluarganya. "Saya mau jadi orang sukses. Kuingat selalu bang, siapa yang selama ini bantu keluarga kami. Nanti kalau udah sukses, akan kubalas itu," katanya.

Sementara itu, Norman Syahputra, ayah Arya, kini hanya bisa berbaring di atas kasur. Di sisi kasur disediakan tempat pembuangan air besar dan air kecil. Sebelum sakit, Norman bekerja serabutan, tak menentu. Setelah sakit, Norman sama sekali tak bisa beranjak dari tempat tidur. Norman juga diketahui mantan ketua PAC Partai Nasdem Kecamatan Siantar Sitalasari.

PematangsiantarNorman Syahputra, 49 tahun, ayah Arya, pada awal 2019 tubuhnya lumpuh dan sakit-sakitan. Kondisinya sangat memprihatinkan membuat dirinya tak mampu menghidupi dua orang anaknya secara ekonomi. (Foto: Tagar/Jonatan Nainggolan)

"Saya sakit sudah hampir  2 tahun. Kemarin sempat berobat ke Rumah Sakit (RS) Tentara awal tahun 2019, yang ngurus semua Partai Nasdem. Keluar dari RS, sudah mendingan. Tapi tak lama kemudian drop lagi," ucap Norman.

"Sekarang saya hanya bisa terbaring saja. Coba mau ke sana-kesini nggak bisa. Mau duduk saja langsung sesak kurasakan," katanya lagi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kata Norman, ia divonis penyakit TBC (tuberkulosis). Namun Norman merasa tak mengidap TBC. "Saya lihat bukan (TBC) karena saya tidak mengeluarkan dahak yang berdarah. (TBC) itu sudah sembuh," katanya.

Dia mengaku tak tahu penyakit apa sebenarnya yang dideritanya. "Bangun dari tempat tidur pun susah," ujarnya.

Dengan tubuh kering kerontang, Norman berharap bangkit dan ingin sembuh. Norman pun berharap ada dermawan dan Pemerintah Kota (Pemkot) Siantar membantunya.

Baca juga: Bocah Penderita Tumor Ginjal di Siantar, Butuh Donasi

"Sebenarnya pengennya berobat ke RS, tapi aku tak punya biaya perobatan. BPJS saya sebelumnya sudah kena tunggakan 7 bulan. Rasanya sudah capek sekali di tempat tidur ini," katanya.

"Saya berharap pada dermawan dan Pemerintah Kota Siantar membantu biaya perobatan. Aku tak punya uang untuk berobat. Aku mau sembuh dan menghidupi kedua anakku," ucapnya. []