Jakarta, (Tagar 14/3/2019) - "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki."

Demikian penggalan kalimat yang terlontar dari salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia yang juga wakil presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta atau akrab dikenal dengan Bung Hatta.

Bung Hatta yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902 memang dikenal jujur, salah satu sifat yang patut diteladani dari sang proklamator.

Dalam buku karya Adhe Firmansyah bertajuk Si Bung yang Jujur & Sederhana halaman 104-105 (Yogyakarta: Garasi, 2010), Bung Hatta dikenal sebagai tokoh yang hidup sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Beliau pemimpin yang jujur, sederhana, tekun, dan tidak kenal kompromi. Antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan selaras. Hatta bukan tipe pemimpin yang hanya memperkaya diri dan keluarga. Baginya, kepentingan negara lebih utama.

Ada sebuah pelajaran menarik mengenai bagaimana Bung Hatta teguh dengan kejujurannya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1950-an. Saat itu beliau masih menjabat sebagai wakil presiden. Saat itu, istri Hatta, Rahmi Rachim, sedang berjuang keras menabung karena berniat untuk membeli sebuah mesin jahit.

Belum sampai uang yang ditabung memenuhi jumlah untuk membeli mesin jahit, pemerintah membuat kebijakan pemotongan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Tentu saja, Rahmi Rachim kecewa dengan kebijakan tersebut. Hal itu diutarakan ketika Hatta pulang dari kantor.

"Aduh, Ayah... mengapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang? Uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi," kata Rahmi Rachim.

"Yuke (panggilan kesayangan Hatta kepada istrinya), seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberitahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!," jawab Hatta.

"Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruhnegara. Kita coba menabung lagi, ya!," tambahnya.

Ihwal teladan Hatta dalam bersikap jujur diakui putrinya, Meutia Hatta. Meutia memberikan penjelasan, dia maupun adiknya bakal mencatat dengan detail pengeluaran maupun pemasukan ketika mendapat uang titipan untuk membeli oleh-oleh ketika pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Detail catatannya termasuk berapa uangnya, kursnya berapa, belanjanya berapa, dan sisanya sampai ke sen-sennya.  

"Kami terbiasa jujur, biar pun Rp 100 akan dikembalikan. Kami menganggap, sesama kakak beradik harus jujur dan adil, karena kita harus bergaul selama seumur hidup. Betapa pun masing-masing itu saudara, itu berbeda. Namun, berkat ajaran ayah dan ibu mengenai kejujuran dan kasih sayang, kami merasakan pentingnya bersatu," ujar Meutia dalam buku karya Adhe Firmansyah.

Tepat pada hari ini, 14 Maret, Bung Hatta meninggal dunia pada 1980. Sebagai bentuk mengenang kematiannya, mari kita mengingat sikap-sikap teladan Bung Hatta semasa hidup, salah satunya soal kejujuran.