Musim mudik Lebaran tahun ini menjadi lebih istimewa karena hari kemenangan yang jatuh pada 15 dan 16 Juni 2018 berada dalam masa libur sekolah.

Tidak heran Pantai Karnaval Ancol yang menjadi tempat dilaksanakannya acara Mudik Bareng Guyup Rukun BUMN 2018 menjadi lebih meriah, tidak hanya karena jumlahnya yang lebih banyak tapi juga pemudik ciliknya yang juga banyak.

Bayangkan, pada 2017 jumlah pemudik hanya 99.576 orang, kini meningkat menjadi 164.412 orang.

Bertambahnya jumlah BUMN dari 27 menjadi 62 yang mensponsori kegiatan mudik bareng tentu berpengaruh pada peningkatan kapasitas angkut pemudik. Namun ada faktor lain yang sebenarnya juga mempengaruhi peningkatan jumlah pemudik kali ini, yakni masa libur sekolah.

Lastri (32) warga Depok yang ikut mudik bareng ke Madiun contohnya, memutuskan mudik tahun ini karena anak-anaknya sedang libur sekolah.

"Biasanya nggak mudik, sudah dua tahun sebenarnya nggak mudik. Ini karena pas anak-anak libur sekolah jadi bisa ikutan mudik," katanya.

Sayangnya sang suami tidak bisa ikut mudik karena masih harus bekerja, menurut Lastri. Alhasil dirinya hanya bersama dua anak.

Saat ditemui, Lastri sedang mengantri di salah satu posko layanan kesehatan di zona biru Mudik Bareng Guyup Rukun BUMN 2018. Sambil berbincang, ia memberikan obat antimasuk angin cair khusus untuk anak kepada kedua anaknya, sebagai antisipasi mabuk atau masuk angin selama perjalanan.

Ia ingin memastikan anak-anaknya nyaman selama perjalanan, karenanya dirinya juga menyiapkan berbagai macam obat-obatan untuk anak-anak dan dirinya.

Jika Lastri memang sebelumnya lebih sering memilih moda transportasi bus atau kereta api untuk mudik bersama anak-anaknya, berbeda pula dengan Maulana (39) seorang sopir ojek online yang hendak mudik ke Babakan, Cirebon. Mudik dengan menggunakan bus baru pertama kali dilakukannya bersama istri dan seorang anak laki-lakinya.

Maulana biasanya menggunakan kendaraan roda dua bersama keluarganya untuk mencapai kampung halaman saat mudik Lebaran. Tapi kali ini dirinya memutuskan mencoba ikut mudik gratis dengan bus BUMN, dan mengirimkan kendaraan roda duanya ke kampung halaman.

Dengan cara ini memang lebih nyaman karena tinggal duduk di bus sampai ke tempat tujuan. Tapi sayangnya ia tidak mendapatkan tiket gratis pulang-pergi, dan saat ditanya rencana kepulangannya ke Jakarta usai Lebaran, Maulana mengatakan jika terpaksa akan mengendarai kendaraan roda duanya sampai rumah.

"Kalau dapat yang naik kereta api lebih enak, bisa gratis pulang-pergi. Tapi susah sekali untuk mendapat tiket mudik bareng dengan kereta api, persaingannya terlalu ketat," lanjutnya.

Setia Mudik Bareng 

Sofyan (55) yang bekerja sebagai mandor di salah satu proyek Light Rapid Transit (LRT) di sekitar Cawang, Jakarta Timur, termasuk setia dengan program mudik bareng, karena ini sudah masuk tahun kelima pulang kampung ke Cirebon ramai-ramai dengan yang lain.

Anaknya yang juga bekerja di jasa konstruksi yang mendapat tugas berburu tiket mudik gratis bareng PT Jasa Raharja secara daring. 

"Pendaftarannya gampang-gampang susah, tapi alhamdulillah selalu dapat," ujar laki-laki paruh baya yang sejak 2005 sudah bekerja di salah satu jasa konstruksi ini.

Ia mengaku senang bisa terus ikut program mudik bareng ini, karena artinya tidak menghabiskan biaya untuk bisa berkumpul dengan keluarga di Cirebon saat Lebaran. Terlebih fasilitas yang disediakan juga membantu pemudik, termasuk pelayanan kesehatan oleh dokter di lokasi pemberangkatan mudik bersama.

Sofyan sempat ikut memeriksakan kesehatan matanya di pos pelayanan kesehatan zona biru sebelum naik bus. Dirinya meminta obat untuk matanya yang berair belakangan ini karena terkena debu di proyek pengerjaan LRT.

Yang setia dengan acara mudik bareng lainnya adalah Yani (48) asal Purworejo. Dirinya bersama sang suami dan anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) sudah untuk kesekian kalinya mengikuti acara mudik bareng.

Keluarga Sofyan dan Yani sama-sama sudah merasakan mudik bareng Jasa Raharja yang sebelumnya diberangkatkan dari Senayan, Monas, maupun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Harapan mereka sama, agar kesempatan ikut mudik bareng terus bisa dilakukan di tahun-tahun berikutnya, selain itu waktu menunggu pemberangkatan bisa semakin dipersingkat.

Mudik Ramah Anak 

Belum genap pukul 06.00 Wib Yuli (35) bersama dua anak laki-lakinya Refantio (8) dan Natan (7), yang hendak mudik ke Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah duduk di tiga kursi terdepan bus nomor 23 jurusan Jakarta-Yogyakarta yang terparkir di zona biru area mudik bareng di Pantai Karnaval Ancol.

Kali ini Yuli dan dua jagoan kecilnya mudik hanya bertiga tanpa suaminya. Sang suami hanya mengantarkan saja hingga mereka naik bus dan memastikan istri dan dua anaknya aman tiba di lokasi mudik bareng di Ancol dan mendapatkan kursi.

Yuli merasa lebih nyaman dan aman ikut mudik bareng karena tidak perlu berdesak-desakan dan menunggu lama di terminal bus. Dirinya bersama sang suami ingin memastikan anak-anak juga nyaman sepanjang perjalanan.

Maklum, waktu tempuh antara Jakarta menuju Wates cukup lama, mencapai 14 jam.

Refantino dan Natan sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, tampak duduk dan menkmati perjalanan. Sama halnya anak-anak lain seusianya, tiada hari tanpa bermain dan bercanda, kakak beradik ini tidak selesai-selesai saling menggoda.

Sesekali mereka bernyanyi bersama atau melihat keluar jendela jika menemukan pemandangan yang menarik perhatian. Natan pun bahkan ikut bernyanyi saat sopir bus menyetel musik dangdut.

Bus nomor 23 yang mereka tumpangi menuju Yogyakarta bersama 47 pemudik lainnya hampir separuhnya merupakan penumpang cilik. Mereka juga menikmati musik melalui layar monitor yang terpasang di bagian belakang kursi.

Mendekati patung kuda Wates, Yuli membangunkan Refantino yang sedang tidur, sementara Natan yang duduk persis di belakang sopir tampak senang sudah sampai tujuan. 

Pemuda cilik lain dalam satu rombongan bus adalah Brian (8) yang mudik bersama dua adik balitanya bersama orangtuanya ke Wonosari.

Saat rehat sesaat di Brebes setelah bus keluar dari pintu tol Pejagan, anak laki-laki yang duduk di kelas dua sekolah dasar yang sedang menjadi musafir ini sedang menikmati mie instantnya. Ia bercerita sering ikut mudik bersama ayah dan ibunya menggunakan bus maupun kereta api ke Yogyakarta untuk menjumpai eyangnya di Wonosari.

Ia mengaku senang saja bisa mudik bareng menggunakan bus kali ini. Sama senangnya jika bisa mudik dengan kereta api.

Ada cerita menarik di balik mudiknya Brian bareng Jasa Raharja. Ibunya Brian menerima telepon salah sambung yang hendak menanyakan token pendaftaran Mudik Bareng Guyup Rukun BUMN 2018 dari calon pemudik lain yang tidak ia kenal.

Karena penasaran, ibunya langsung membuka website Jasa Raharja dan melihat program mudik bareng ini dan memutuskan mencoba mendaftar. Alhasil Sabtu (9/6) Brian bisa ikut mudik bareng bersama BUMN untuk pertama kalinya bersama ayah, ibu dan dua adik balitanya.

Brian dan keluarganya menjadi pemudik bareng di bus nomor 23 yang turun terakhir, sekitar pukul 23.00 Wib di ruas Jalan Parang Tritis, sebelum melanjutkan perjalanan ke Wonosari. Mereka menjadi penumpang terakhir karena penumpang lainnya lebih banyak yang turun di Kebumen, Purworejo, Wates dan Ring Road Selatan Yogyakarta.

Akhirnya perjalanan Mudik Bareng Guyup Rukun BUMN 2018 selama 15 jam dengan bus nomor 23 bersama Jasa Raharja ke Yogyakarta tiba di Terminal Giwangan sebagai tujuan akhir sekitar pukul 23.39 Wib. Bus mudik bareng yang sudah kosong ini merupakan bus keempat dari 23 bus tujuan Yogyakarta yang tiba di Terminal Giwangan dan disambut oleh seluruh staf Kantor Cabang Jasa Raharja di Yogyakarta. (vir/ant/af)