Jakarta, (Tagar 4/1/2019) - Bagi kita yang hidup di era modern seperti saat ini, sudah tentu pernah  menikmati hiburan berupa gambar bergerak yang disebut film. Industri visual yang telah berkembang sejak awal abad ke-20 ini merupakan salah satu pilihan hiburan favorit bagi masyarakat dunia.

Di Indonesia sendiri, industri perfilman berkembang pesat seiring membaiknya infrastuktur dan teknologi pendukung. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir jumlah penonton film Indonesia tercatat mengalami kenaikan signifikan. Data jumlah penonton film Indonesia tahun 2015 mencapai 16,2 juta. Angka ini meningkat lebih dari seratus persen di tahun 2016, penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta penonton. Di tahun 2017 penonton film nasional meningkat lagi menjadi 40,5 juta.

Pada akhir tahun 2018, sutradara muda Ernest Prakasa bahkan sanggup mengumpulkan sebanyak 1 juta penonton dalam waktu hanya 11 hari lewat film terbarunya, Milly dan Mamet.

Berkembangnya indutri perfilman bisa berarti juga meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Bersumber dari cuitan sutradara dan penulis skenario kenamaan nasional, Joko Anwar via akun Twitternya, berikut ini Tagar News rangkumkan 5 profesi dalam dunia perfilman nasional selain sutradara dan bintang film yang bisa kamu jadikan referensi sebagai jalur berkarier.

1. Asisten Sutradara (Astrada)

Asisten SutradaraRieviena Yulieta (berkacamata), salah seorang astrada terbaik di industri perfilman Indonesia. (Foto: Instagram/Pinung)

Asisten Sutradara bisa berarti juga tangan kanan dari  seorang sutradara. Astrada bertugas mengatur jadwal yang memastikan kapan waktu para pemain dan kru melakukan proses syuting, agar sutradara bisa berkonsentrasi mengurus hal lain semisal urusan kreatif.

Asisten Sutradara tidak mengurusi hal yang berhubungan dengan kreatif. Dengan kata lain mereka bukanlah orang yang bertugas di pengadeganan, menentukan letak kamera dan lain-lain. Setelah menerima skenario, biasanya seorang astrada akan merunut segala keperluan dari departemen lain, mengatur jadwal aktor dan aktris, untuk kemudian menentukan jadwal syuting.

Dalam sebuah proyek film, biasanya dibutuhkan satu atau dua orang astrada yang menangani beberapa urusan yang berbeda. Dalam sebuah proyek film besar, kadang bahkan bisa melibatkan empat orang asisten sutradara sekaligus.

Untuk urusan gaji, bayaran seorang astrada bisa mencapai sepertiga dari pendapatan sutradara. Juga karena biasanya tugas seorang astrada bisa lebih lekas selesai sebelum proses syuting selesai. Seorang astrada bisa mencari banyak pekerjaan dalam satu tahun.

2. Penata Artistik (Art) dan Desainer Produksi (PD)

Penata ArtistikIlustrasi artistik dalam film. (Foto: Twitter/Joko Anwar)

Di Indonesia, kedua profesi ini biasanya dipegang oleh satu orang. Seorang Desainer Produksi atau Penata Artistik bisa dibilang memiliki porsi tugas yang besar dalam sebuah proses pembuatan film. Setelah menerima skenario dan mendapat arahan dari sutradara, biasanya desainer akan memulai tugasnya membuat set sesuai kebutuhan syuting. Menurut Joko Anwar, seorang desainer produksi adalah orang yang mencipta "dunia" dalam film.

"Production Designer dan Art Director bertugas mewujudkan visi sutradara, dan mengembangkannya. Kalau mereka pintar, filmnya juga keren," kata Joko.

Karena langkanya orang yang menggeluti kedua profesi itu, kebutuhan industri perfilman akan keterampilan mereka menjadi amat tinggi dan kerap menjadi rebutan di Indonesia.

Jika berminat, kamu bisa mendalami kedua profesi tersebut. Beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki adalah "memiliki cita rasa yang tinggi" dan "bisa menggambar/sketsa".

3. Penata Rias

Penata RiasHasil karya penata rias dalam industri perfilman. (Foto: Twitter/Joko Anwar)

Tidak hanya sekadar merias wajah aktor dan aktris, tugas utama seorang penata rias atau make up artist adalah menegaskan karakter pemain, sesuai tuntutan skenario dan arahan sutradara.

Tidak cuma bermodal bedak, seorang make up artis harus menguasai kemampuan membuat efek visual berbagai kebutuhan pengambilan gambar semisal efek luka pada kulit, kucuran darah dan lain-lain.

Sama seperti penata artistik, profesi ini juga termasuk langka di Indonesia. Jika berminat, kamu bisa memulai untuk kursus atau mempelajari profesi ini secara otodidak.

4. Casting Director

Casting DirectorIlustrasi suasana casting. (Foto: Instagram/grupostage)

Profesi ini bertugas mencari aktor dan aktris yang cocok untuk karakter-karakter yang ada dalam sebuah skenario. Seorang Casting Director yang baik bukan sekadar memberikan informasi lowongan posisi pemain kepada manajemen aktor dan aktris yang ia kenal, tapi juga harus aktif mencari dari tempat lain dan dari mana saja.

Untuk bisa menggeluti profesi ini, dibutuhkan kejelian dan "mata khusus" yang bisa melihat kemampuan dan potensi, bukan sekadar mencari berdasar tampan dan cantiknya saja. Tidak hanya itu, profesi ini juga menuntut pelakunya untuk memiliki pemahaman tentang akting. Pergaulan yang luas di kalangan aktris dan aktor juga bisa menjadi nilai plus bagi mereka yang berkecimpung di profesi ini.

5. Pengatur Lokasi

Pengatur LokasiLatar bangunan yang menjadi lokasi syuting film Joko Anwar yang terbaru berjudul "Gundala". (Foto: Instagram/JokoAnwar)

Location manager bertugas mencari lokasi yang sesuai dengan kebutuhan skenario dan arahan sutradara sebagai tempat syuting. Setelah menemukan kandidat yang sekiranya tepat, pengatur lokasi juga bertugas untuk mengurus perizinan, melakukan kesepakatan sewa tempat dan lain-lain.

Seorang pengatur lokasi harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan luwes, agar pemilik tempat mau memberikan izin sekaligus memberikan harga murah, juga memperlancar proses perizinan ke instansi atau pihak terkait di daerah lokasi syuting.

Menurut Joko Anwar, meskipun tidak membutuhkan skill atau sekolah khusus, profesi pengatur lokasi di dunia perfilman Indonesia juga terhitung langka. Jika kamu mungkin berminat, Joko Anwar menyarankan untuk selalu menjadikan kejujuran sebagai modal utama bergelut di profesi itu.

"Ini adalah salah satu profesi yang sangat jarang di perfilman Indonesia. Padahal tidak harus menempuh pendidikan khusus. Sudahlah jarang, yang ada banyak yang tidak jujur. Sering mark-up harga atau kongkalikong dengan pemilik lokasi untuk menaikkan harga. Jadi kalau ada yang jujur, pasti akan sering dipakai jasanya," jelas Joko. []