Jakarta, (Tagar 8/1/2019) - Muslim minoritas etnis Uighur mengalami penindasan oleh pemerintah China, demikian isu yang berkembang. Benarkah isu tersebut? 

Wartawan Antara M Irfan Ilmie dan empat kantor berita asing lain yang memiliki perwakilan di Beijing mendapatkan kesempatan eksklusif mengunjungi kamp etnis Uighur yang oleh pemerintah China diklaim sebagai zhiye jineng jiaoyu peixun zhongxin atau pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Berikut ini pengalaman Irfan Ilmie dua hari menyibak gelap lorong kamp vokasi Uighur Xinjiang.

Hari Pertama, Jumat 4 Januari 2019

Jarum jam sudah menunjuk angka 8, tapi sinar matahari tertutup kabut sehingga dinginnya pagi bertemperatur -5 derajat celcius makin terasa sampai menembus tulang.

Sekelompok orang berseragam hitam-hitam dengan motif merah di lengan berlarian mengejar bola ditingkahi sorak-sorai dan yel-yel pengobar semangat.

Tak sedikit pun mereka merasa menggigil, tak acuh akan dinginnya lima level udara di bawah nol itu. Keceriaan mereka mencairkan kebekuan pagi hari di pinggiran kota oasis yang membentengi daratan Tiongkok di perbatasan Kirgizstan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan itu.

Demikian pula dengan air muka mereka yang tidak sedikit pun memancarkan kegundahan layaknya tawanan atau pesakitan kejahatan lain, seperti ramai dibicarakan orang-orang di luar dinding sana.

UighurPara peserta di kamp pendidikan vokasi etnis Uighur mengikuti kelas melukis di Moyu, Daerah Otonomi Xinjiang, Sabtu (5/1/2019). Di Xinjiang terdapat sedikitnya 19 kamp yang disorot PBB karena pola pendidikan tersebut dinilai melanggar HAM, namun China menyangkalnya dan menyebut sebagai upaya mencetak tenaga terampil. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Tujuan memperoleh penghidupan yang lebih menjanjikan ditambah fasilitas-fasilitas yang lebih memadai membuat mereka abai akan apa yang diperbincangkan dunia.

Mereka tidak ingin berlama-lama hidup di bawah garis kemiskinan tanpa jelas arah dan tujuan masa depan.

Ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang mereka alami selama 23 tahun lebih masih terus menghantui pikiran sehingga mereka butuh pelarian.

Amat sayang, kalau hanya kekuatan fisik mereka yang lebih mirip ras Asia Tengah ketimbang Asia Timur itu tidak dikembangkan dan tidak diberdayakan.

Sementara di bagian dalam, kawan-kawan mereka menirukan ucapan guru yang mengeja karakter demi karakter Hanzi.

Melihat dari usia mereka yang rata-rata 20 tahun hingga 30 tahun tidak seharusnya duduk di ruang kelas untuk melafalkan kata demi kata layaknya murid sekolah dasar.

Tapi itulah kenyataan bahwa mayoritas yang ada di kamp itu tidak bisa berbicara dengan menggunakan bahasa nasional mereka sendiri.

Hal ini yang menjadi alasan utama perlunya pemerintah China membangun tempat belajar bagi mereka agar bisa berbahasa Mandarin, meningkatkan kemampuan individu sesuai peminatan dan keahlian yang sekaligus mempertebal nasionalisme dengan memahami konstitusi negaranya secara utuh.

Oleh karena pola pendidikan dan pelatihan menyasar pada objek tertentu, yakni etnis minoritas Uighur yang membentuk populasi utama Daerah Otonomi Xinjiang, maka pemerintah China pun harus menghadapi hujatan kritikan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, aktivis HAM, dan kelompok muslim lainnya di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

UighurSejumlah wartawan asing tiba di kamp pendidikan vokasi Uighur di Hotan, daerah otonomi Xinjiang, Sabtu (5/1/2019). Di Xinjiang terdapat sedikitnya 19 kamp yang disorot PBB karena pola pendidikan tersebut dinilai melanggar HAM, namun China menyangkalnya, dan menyebut sebagai upaya mencetak tenaga terampil. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Kamp etnis Uighur oleh pemerintah China diklaim sebagai zhiye jineng jiaoyu peixun zhongxin atau pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Dibandingkan dengan Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, fasilitas di dalam kamp vokasi di Kota Kashgar jauh lebih lengkap dan memadai.

Tidak hanya sarana praktik keterampilan siswa, melainkan juga sarana pendukung lainnya. 

Kalau melihat kualitas sarana dan prasarana, sangat jelas bahwa pusat pelatihan itu dibangun dengan dana yang tidak sedikit.

Namun jika dilihat dari luar, tampilannya sama sekali tidak menunjukkan sebagai tempat pelatihan kerja. Apalagi kalau melihat model bangunan dengan pagar berlapis dan beberapa bagian dipasangi kawat berduri lengkap dengan kamera pemantau di mana-mana serta lokasinya yang sepi dan jauh dari permukiman, maka tidak berlebihan jika tempat itu mirip sebuah kamp daripada lembaga pendidikan.

Kamp di pinggiran kota yang berjarak sekitar 1.500 kilometer di sebelah selatan Ibu Kota Xinjiang di Urumqi itu dibangun di atas lahan seluas 16 hektare pada pertengahan 2017 dengan daya tampung sesuai perencanaan sebanyak 3.000 orang.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, mengikuti kelas ilmu hukum, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Kepala kamp, Mijiti Meimeiti, menyebutkan bahwa sampai saat ini jumlah anak didiknya sebanyak 2.000 orang etnis Uighur yang tinggal di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan.

Mayoritas dari mereka berisiko terpapar paham radikal dan ekstremis sehingga ada yang memang darurat untuk dikirim ke kamp. Namun untuk pelaku terorisme, penjara menjadi tempat yang ideal, bukan kamp itu.

Oleh karena itu, Mijiti membantah keras tuduhan lembaga pengawas HAM internasional bahwa anak didiknya itu hasil pemaksaan otoritas dan aparat setempat.

"Di desa, saya pernah terpengaruh ekstremisme. Kemudian diingatkan oleh tetangga untuk menjauhi pengaruh itu dan disarankan pergi ke sekolah ini. Selanjutnya, saya pamit kepada orangtua," kata Mirkamiljan, peserta didik kamp pendidikan vokasi Kota Kashgar, Jumat (4/1), memperkuat klaim kepala sekolahnya.

Pria berusia 20 tahun itu mengaku kemampuannya di bidang elektronik makin terasah dengan memperdalam ilmu di kamp. Namun karena belum teruji dalam bercakap bahasa Mandarin, dia tidak diizinkan meninggalkan kamp.

Padahal dia berkeinginan segera bekerja sepeninggalnya dari kamp agar bisa memperoleh penghasilan sendiri sekaligus membahagiakan kedua orangtuanya di desa yang sampai saat ini masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Ia dan beberapa teman senasib lainnya merasa semua kebutuhan di dalam kamp tercukupi, mulai dari sarana belajar, peralatan latihan praktik kerja, tempat tidur di asrama, dan makan tiga kali dalam sehari.

"Enaknya di sini tidak bayar apa pun, bahkan kami dapat belajar menjahit. Tentu saja kami senang," kata seorang siswi saat ditemui di kelas menjahit.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Makan yang tersedia di kantin kamp pun tidak bisa dibilang sebagai menu ala kadarnya. Saat jam istirahat, menu yang mereka santap adalah nasi putih, sayur, dan ikan goreng cincang.

"Makanannya enak sesuai selera dan pasti halal," kata seorang siswa sambil bersantap siang bersama teman-temannya di kantin yang dapat menampung sekitar 500 orang tersebut.

Menurut siswa yang tidak bersedia ditulis namanya itu, menu makanan di dalam kamp berganti agar tidak membosankan. "Namun selalu ada daging ayam dan ikan di setiap menunya. Kadang-kadang juga daging kambing," ujarnya.

Layaknya penduduk yang tinggal di gurun bertemperatur udara rendah, makanan utama mereka tidak bisa lepas dari daging kambing yang dipercaya bisa menghangatkan tubuh dibandingkan dengan daging lainnya.

Tempat tidur mereka juga beralaskan kasur dan terpisah antara satu dengan lainnya, baik dalam ranjang paralel maupun susun.

Pria dan wanita pun ditempatkan dalam asrama terpisah, meskipun di kelas mereka tetap disatukan dalam ruang yang sama.

Demikian pula dengan kamar mandi. Meskipun bersifat umum, tetap privasinya terlindungi dengan sekat-sekat yang terbuat dari pelat aluminium di setiap pancuran air yang bisa disetel dingin dan panas.

"Fasilitas lengkap. Ilmu dan keterampilan bisa kami dapat. Sabtu masih diizinkan pula untuk pulang menengok keluarga. Bagaimana kami tidak suka tinggal di sini?" kata siswi perempuan berusia 30 tahun yang memiliki seorang anak kecil di desanya itu. 

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, antre makan siang di kantin saat jam istirahat, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Hari Kedua, Sabtu 5 Januari 2019

Jarum jam telah menunjuk angka 7 waktu Kota Moyu, wilayah barat China, tapi suasananya masih sangat gelap.

Jangankan mentari, fajar pun masih belum menyingsing. Namun, bayangan beberapa orang berbaris terlihat samar-samar. Lamat-lamat mereka menaiki bus satu-persatu.

Meskipun tidak sama persis dengan mobil tahanan seperti di Inodnesia, teralis baja yang melapisi kaca jendela dan membatasi ruang kemudi, menjadikan bus itu tidak seperti biasanya.

Satu bus penuh penumpang lebih dulu keluar dari areal kamp pendidikan vokasi di salah satu daerah tertinggal di Daerah Otomomi Xinjiang, itu, Sabtu pagi (5/1).

Namun wartawan Antara masih bisa mencegat satu bus lainnya yang bersiap mengantarkan penghuni kamp pulang ke rumahnya di perdesaan yang berbatasan dengan Pakistan dan India itu.

Sementara di dalam kamp, beberapa siswa-siswi sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang menari sambil bernyanyi, ada yang memainkan alat musik tradisional Uighur untuk mengiringi nyanyian berbahasa lokal yang mirip dengan bahasa Turki. Dan, ada pula yang sibuk mencorat-coret kanvas dengan kuas beraneka warna.

Beberapa lagi sibuk dengan urusan masak-memasak karena memang mereka sedang mempelajari ilmu tata boga.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, mengikuti kelas Bahasa Mandarin, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Sebagian dari mereka sudah berdandan cantik layaknya pelayan hotel bintang lima dengan pakaian rapi dan formal.

"Sebelum ke sini, saya tidak bisa apa-apa," kata Adilla, siswi berusia 20 tahun, di sela-sela kesibukannya menata aneka penganan yang sebagian besar mengandung daging kambing dan daging sapi itu di ruang kelas memasak Kamp Moyu.

Di belakang dia, sekelompok pria mengenakan baju koki (chef) sibuk memasak. Ada yang membuat kue, ada yang mengiris sayur, dan ada yang mengaduk-aduk nasi di atas penggorengan besar.

Pokoknya pada saat itu tidak ada yang kelihatan menganggur. Sekilas, aktivitas di pagi buta itu terkesan horor.

Tapi kalau menurut jadwal, mereka sudah harus memulai kegiatan setiap hari pada pukul 06.00 waktu setempat (05.00 WIB) dan berakhir pada pukul 18.00.

Apalagi kalau melihat matahari di Moyu baru terbit pada pukul 09.00 (08.00 WIB), maka aktivitas mereka mulai pagi buta bukan hal yang aneh, meskipun situasi jalanan di luar kamp masih sangat sepi.

Belum sempat mencicipi masakan para peserta didik kamp, wartawan Antara sudah harus bergeser menuju Kota Hotan untuk mengunjungi kamp yang sama.

Hari mulai terang ketika sebagian siswa-siswi berpakaian olahraga melakukan aktivitas di lapangan basket depan ruang kelas utama kamp pendidikan vokasi di kota penghasil kurma itu.
Selain menari, di kamp ini juga terdapat kelas keterampilan memangkas rambut dan pedikur-manikur.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Seorang siswi berusia 30 tahun menuturkan pengalamannya tinggal di desa yang terpengaruh oleh radikalisme dan ekstremisme.

"Saya dipaksa pakai cadar dan dipengaruhi pikiran saya sebelum akhirnya ada beberapa orang yang menyelamatkan saya ke tempat ini," kata Pazilet Wubur, sambil sejenak menghentikan praktik riasnya.

Perempuan berambut keriting warna emas itu mengaku bisa menengok anaknya di desa setiap Sabtu selepas kelas praktik dan kembali ke kamp pada malam keesokan harinya.

Sama dengan para penghuni kamp lainnya, dia juga berharap dapat pekerjaan selesai menjalani program pendidikan bahasa Mandarin, konstitusi nasional, dan keterampilan.

Menurut dia, berbagai fasilitas yang tersedia di kamp vokasi Kota Hotan jauh berbeda dengan di desanya. Apalagi di kamp itu ada beberapa bilik telepon yang bisa digunakan secara cuma-cuma untuk menghubungi keluarganya.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, belajar menjahit pakaian, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Sejauh ini model pembinaan di dalam kamp tersebut masih menimbulkan pro dan kontra. Aktivis internasional menyorotinya dengan berbagai dalih pelanggaran HAM karena ada indikasi model pelatihan dan pendidikan kejuruan di dalam kamp itu ada indikasi pengekangan dan pengebirian.

Berkali-kali China membantah tuduhan itu dengan menyatakan bahwa lembaga itu didirikan sebagai upaya untuk membekali rakyatnya dari kelompok etnis minoritas Uighur yang sampai saat ini masih banyak hidup di garis kemiskinan.

Upaya memutus rantai paham ekstrem yang memicu serangkan konflik berdarah sepanjang 1992-2015 akan efektif jika dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri, papar Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir.

Masyarakat Uighur yang mendiami kawasan gurun di wilayah selatan Xinjiang hanya berpenghasilan 300 RMB hingga 600 RMB (Rp 630.000 - Rp 1.260.000) per bulan. Hal itu tidak saja menjadikan Xinjiang selatan jauh tertinggal dibandingkan dengan wilayah lainnya di China, melainkan juga sangat sulit bagi Etnis Uighur untuk terentaskan dari jurang kemiskinan.

Sebagian masyarakat yang lulus dari kamp vokasi sudah bisa merasakan penghasilan 1.600 RMB hingga 2.000 RMB (Rp 3.360.000 - Rp 4.400.000) per bulan dengan bekal keterampilan yang didapatnya selama beberapa bulan.

UighurKepala Kamp Pendidikan Vokasi Etnis Uighur Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, Mijiti Meimeit (kanan) memandu wartawan yang berkunjung, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Oleh karenanya, pemerintah China masih akan terus membangun lembaga-lembaga sejenis. Bahkan Shohrat menargetkan setiap kabupaten/kota di wilayah selatan harus punya satu lembaga sejenis.

Untuk kamp terkecil diproyeksikan menampung 300 hingga 700 orang, sedangkan terbesar 1.000 orang. Sampai saat ini di wilayah selatan terdapat sedikitnya 19 kamp sejenis.

Menanggapi pihak-pihak yang menyinyirinya, Shohrat justru mengundangnya untuk datang ke Xinjiang, asalkan didasari niatan yang baik dengan memberikan penilaian objektif sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Kami menyambut baik berbagai komunitas di dunia untuk melihat situasi yang sebenarnya. Kami juga berharap siapa saja yang datang tidak mencampuri urusan dalam negeri China dan persatuan nasional karena kami ingin membahagiakan masyarakat kami," katanya dalam pertemuan eksklusif dengan lima kantor berita asing, termasuk Antara, di Urumqi, Sabtu (5/1).

Sebenarnya, hal yang tidak kalah penting dari pro dan kontra seputar isu kemanusiaan adalah kamp itu langkah konkret dari strategi China memperkuat perekonomian domestik dalam menghadapi perekonomian global, terutama di tengah rivalitas menghadapi dominasi Amerika Serikat.

UighurPara peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, makan siang bersama dengan menu halal, di kantin, saat jam istirahat, Jumat (4/1/2019). Kamp pendidikan tersebut disoroti PBB dan dunia Barat karena dianggap sebagai pola deradikalisasi yang melanggar HAM, namun China menyangkal karena para peserta didik diajari berbagai keterampilan. (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Mereka tidak sekadar membangun kamp. Kawasan dan sentra industri di sekitar kamp sudah dipersiapkan sangat cermat dan prospektif bisnis.

Pabrik garmen di Desa Gazong, Kecamatan Xiaoerbage, tidak jauh dari kamp vokasi Kota Hotan salah satu contohnya.

Mereka mempekerjakan hampir seratus perempuan terampil menjahit berbagai jenis dan model baju sesuai pesanan vendor. Sangat mungkin, jika sebagian dari pekerja itu adalah jebolan kamp vokasi.

Namun hal yang lebih penting lainnya terkait pemenuhan spiritual para penghuni yang mayoritas etnis Muslim Uighur karena di dalam kamp tersebut tidak ada sarana pendukung.

Sayang sekali Shohrat yang juga dari kalangan etnis Muslim Uighur tidak memberikan jawaban secara spesifik pertanyaan Antara mengenai kekurangan fasilitas di dalam kamp dalam memberikan hak penghuni memenuhi kewajiban rohaninya.

"Mereka sudah mendapatkan gratis tempat tinggal dan makan. Setelah lulus, kami tidak pernah menahan atau melarang mereka kembali ke masyarakat," ujar Shohrat yang juga menjabat Deputi Sekretaris Partai Komunis China (PKC) Komite Xinjiang itu. []