Semarang, (Tagar 5/12/2018) - Bukan tanpa alasan jenazah NH Dini disemayamkan di Wisma Lansia Harapan Asri, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah. Itu adalah salah satu permintaan almarhum semasa hidup.

Kepala Wisma Lansia Harapan Asri, Bruder (Br) Heri Suparno mengungkapkan hal itu saat ditemui wartawan, Rabu (5/12). "Beliau pernah bilang, tolong kalau saya dipanggil nanti disemayamkan di sini, di wisma lansia ini," ungkap Heri.

Permintaan novelis kelahiran asli Semarang ini disampaikan pada pihak keluarga dan diwujudkan. Sepulang dari RS St Elizabeth Selasa (4/12) malam sekira pukul 19.30 WIB jenazah sastrawan bernama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin tersebut langsung dibawa ke Wisma Harapan Asri. Jenazahnya kemudian disemayamkan di aula Santa Ana sejak tadi malam pukul 20.15 WIB.

Hingga tadi pagi ratusan pelayat datang. Mereka berdoa sekaligus memberi penghormatan terakhir di hadapan jenazah NH Dini. Hadir pula anaknya, Marie Claire Lintang Coffin dari Perancis yang kebetulan tengah dinas di Tanah Air.

Br Heri menambahkan wasiat lain NH Dini adalah keinginan agar jenazahnya diperabukan. "Beliau minta abu jangan dikubur di tanah namun dilarung ke lautan," kata dia. Karenanya, jelang siang tadi sekitar pukul 10.40 WIB, jenazah almarhum dibawa ke Ambarawa, Kabupaten Semarang untuk prosesi kremasi. Selanjutnya abu akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dilarung ke laut, sesuai permintaannya.

Bagi Br Heri, NH Dini adalah sosok panutan. Ia menghabiskan waktu dengan menulis, merawat tanaman dan membimbing penghuni wisma. "Beliau bilang mendapatkan kedamaian di sini," imbuhnya.

Hal senada terkait kemandirian NH Dini disampaikan pihak keluarga. Cucu keponakan, Aisa R Jusmar menyatakan Eyang Bibi adalah sosok yang enggan merepotkan keluarga. Sempat diajak tinggal di luar negeri oleh kedua anaknya, Lintang dan Pierre Louis Padang Coffin, namun sastrawan feminis ini lebih memilih tinggal di Indonesia.

Dan uniknya, NH Dini juga tidak mau tinggal di rumah saudaranya di Semarang. Ia lebih suka berkumpul bersama lansia lain di Wisma Harapan Asri. Di tempat tersebut, penulis Pada Sebuah Kapal sudah tinggal empat tahun. Sebelumnya ia tinggal di sebuah di daerah Lerep, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.  

"Beliau memang sosok yang benar-benar tidak mau merepotkan keluarga. Dan meski tinggal di wisma, kami sering menengok dan beliau juga sering berkunjung ke rumah kami," tutur perempuan yang akrab disapa Achie ini. []