Banda Aceh, (Tagar 6/1/2018) - Setelah 14 tahun bencana gempa dan tsunami menghantam Aceh, masyarakat kembali bangkit dari keterpurukan. Pemerintah setempat juga terus mencari cara menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah Tanah Rencong ini.

Salah satu cara itu adalah dengan membangun objek wisata Museum Tsunami Aceh. 

Museum yang menjadi ikon wisata religi ini dibangun oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD Nias dengan luas luas 2.500 meter persegi. Dengan struktur empat lantai, dengan dinding lengkung berlapis relief geometris dirancang arsitek ternama asal Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil yang saat ini menjabat Gubernur Jawa barat.

Kemegahan Museum Tsunami Aceh ini sekilas sangat mirip kapal pesiar penyelamat dengan geladak yang sangat luas. 

Museum ini sengaja dibuat untuk mengenang dahsyatnya bencana yang terjadi di Aceh hingga membuka mata dunia untuk memberikan bantuan. Museum juga berfungsi sebagai wisata edukasi serta escape building jika sewaktu-waktu tsunami kembali terjadi.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, Museum Tsunami Aceh ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. 

Tidak susah mencari museum ini sebab lokasinya sangat strategis, yakni tepat berada di jantung Kota Banda Aceh berjarak 500 meter dari Masjid Raya Baiturrahman.

Museum Tsunami Aceh dibuka setiap hari pukul 09.00-12.00 WIB dan pukul 14.00-16.45 WIB.

Museum tutup saat memperingati hari-hari besar Islam. 

Sebelum masuk, Anda harus membeli tiket dengan harga untuk dewasa Rp 3.000 dan anak-anak Rp 2.000 per orang berdasarkan qanun Aceh nomor 2 tahun 2016 tentang restribusi jasa.

Begitu memasuki museum, Anda akan mendapati lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air tinggi, menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami (Space of Fear). 

Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius Suku Aceh.

Atap museum membentuk gelombang laut, lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami. 

Bangunan ini dibuat untuk mengenang para korban, yang ribuan namanya dituliskan di dinding ruang terdalam museum. Dalam suasana remang-remang berbentuk cerobong seakan menggambarkan perjuangan para korban tsunami saat gelombang datang.

Museum ini pembangunannya menelan biaya mencapai Rp 140 milliar dalam, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009, namun baru dibuka untuk umum pada 8 Mei 2011. 

Museum ini setiap hari tidak pernah sepi, selalu dipenuhi pengunjung.

Pada bagian langit-langit gedung terdapat sekitar 53 bendera negara dari seluruh dunia sebagai bentuk rasa terima kasih Aceh pada negara-negara yang telah memberikan bantuan dalam proses rekonstruksi dan pemulihan pasca tsunami.

Museum tsunami ini dibangun juga sebagai mitigasi bencana yaitu sebagai media edukasi masyarakat tentang kebencanaan seperti gempa dan tsunami.

Di lokasi ini para wisatawan membuat foto-foto atau berswafoto. Banyak spot menarik memang di sini.

Pratiwi seorang pengunjung ditemui Tagar News, mengaku begitu penasaran sebelumnya apa yang ada di dalam Museum Ttsunami. Sebab sebelumnya ia hanya melihat di media sosial, foto-foto kemegahan museum tampak luar. Maka saat bisa berkunjung, ia merasa penasarannya tuntas.

"Yang paling menarik ruang yang ada nama-nama korban tsunami dengan lantunan ayat suci itu membuat saya merinding dan mengerti begitu besar bencana di Aceh," kata Pratiwi.

Ia yang berasal dari Medan ini memilih liburan ke Aceh bersama keluarganya sebab menurutnya di sini banyak wisata religi yang ia bisa kunjungi. 

"Tapi, yang membuat saya begitu penasaran ya Museum Tsunami. Benar. Megah sekali," tuturnya dengan tatapan tercengang.

Fadhil seorang pengunjung lain. Ia mengaku sudah sering berkunjung ke Museum Tsunami. Yang membuatnya paling berkesan, pemutaran film pendek yang mengulas kembali detik-detik kejadian tsunami menerjang Aceh pada 2004.

"Itu membuat kita kembali mengingat dan jadi pembelajaran bagi kita," kata Fadhil.

Berikut ini foto perjalanan Tagar News di Museum Tsunami Aceh:

Museum TsunamiKerangka pesawat milik kepolisian RI yang hancur saat melakukan upaya penyelamatan saat tsunami mengguncang pada 2004. Jejak pesawat hancur ini diabadikan di Museum Tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiPengunjung melewati lorong beraura suram mencekam di dalam Museum Tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSisi bagian dalam Museum Tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiNama ribuan korban terpatri pada dinding ruangan dalam Museum Tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiTampak di langit-langit, bendera 53 negara yang membantu pemulihan korban selamat dan pemulihan keadaan Aceh pasca tsunami 2004. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiKitab Suci Alquran tercabik tsunami, sumber segala sumber kekuatan hidup masyarkat Aceh pada umumnya. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiKerangka motor yang selamat dari tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiMasjid tetap berdiri kokoh, simbol kekuatan iman masyarakat Aceh. Bencana besar tsunami tidak menggoyahkan iman masyarakat Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSepeda yang terselamatkan dari tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSeorang anak memperhatikan replika patung yang menggambarkan banyak orang bergelimpangan saat diterjang gelombang tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSeorang anak memperhatikan bangunan rumah hancur diguncang gempa bumi. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiAtap museum didesain menyerupai gelombang laut, dan lantai dasar seperti rumah panggung tradisional yang selamat dari guncangan tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSeorang anak membaca papan yang menerangkan cerita di balik benda-benda yang koyak oleh terjangan tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiSeorang wisatawan berpose di bagian depan gedung Museum Tsunami di Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Museum TsunamiPara wisatawan berjalan menuju pintu masuk Museum Tsunami. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)