Semarang (Tagar 7/12/2018) - NH Dini merupakan sastrawan tak kenal lelah. Usia uzur di atas 80 tahun, tak membuatnya surut berkreasi. Malah sebelum tutup usia, novelis bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini melahirkan karya anyar.

Karya itu berbentuk novel, dinamai Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya. Karya ke-15 tersebut bisa dibilang novel kenangan dalam tulisan terakhir NH Dini.  

Sesuai dengan judul novel yang dipilih, tulisan di Gunung Ungaran merupakan hasil pergulatan jiwa NH Dini semasa tinggal di Wisma Lansia Langen Werdasih, di kaki Gunung Ungaran, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Diikuti kisahnya di Wisma Lansia Harapan Asri, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

"Sebelum menghuni Wisma Lansia Harapan Asri, NH Dini memang lama menghuni di Wisma Langen Werdasih, Lerep," ungkap Kepala Wisma Lansia Harapan Asri, Bruder Heri Suparno, kepada Tagar News, Kamis (6/12).

Di Wisma Harapan Asri ini lah, novelis feminis itu menghabiskan sisa umurnya selama lebih empat tahun. Selain menyukai tanaman, membangun taman mungil di wisma sambil merawat tumbuh-tumbuhan di sana, NH Dini menuangkan buah pikiran dan rasa ke tulisan.  

Baca juga: Sinopsis "Pada Sebuah Kapal", Novel NH Dini Paling Ngetop dan Laris

Jam demi jam, hari demi hari, dia sempatkan waktu untuk membangun konstruksi tulisan. Hingga lahir lah Gunung Ungaran. "Sudah empat tahun di wisma. Tiap pagi jam 9 sampai 12 siang dia akan masuk kamar mengetik, kadang sampai larut malam jam 1 malam," kata Heri.

Heri tak menyangka, NH Dini mampu menghasilkan karya novel Gunung Ungaran. Novel setebal 408 halaman itu sebagian besar berisi tentang kisah hidup NH Dini selama di Wisma Harapan Asri dan di Wisma Langen Werdasih.

"Saya kira isi tentang biografi, ternyata kebanyakan kisah dia selama di wisma. Bedah bukunya di UGM Agustus 2018 dan sudah beredar, dijual untuk umum," imbuhnya.

Baca juga: Karya Sastra NH Dini Menjadi Rujukan Sekolah di Indonesia

Ketua Lesbumi Nahdhatul Ulama (NU) Jawa Tengah, Lukni Maulana, menilai jika NH Dini merupakan seniman perempuan yang memiliki kepekaan tajam dalam menguraikan apa yang terjadi di sekitar lingkungannya.

"Untaian wawasan estetika dalam karyanya mengatakan bahwa penciptaan karya bukan semata-mata bersifat simbolis, akan tetapi suatu cara berhubungan dengan alam seisinya hingga puncak transendental yakni berhubungan dengan sang Illahi," tutur pria yang juga rutin menulis sajak itu.

Baca juga: Mengenal 2 Anak NH Dini, Pencipta Animasi Minions dan Penggiat Pendidikan

Gunung Ungaran diketahui diterbitkan Media Pressido, Yogyakarta. Novel sastrawan kelahiran Semarang, 29 Februari 1939 itu diluncurkan pada Maret 2018 lalu. Di saat itu lah anak terakhirnya bertemu NH Dini.

Berpulangnya NH Dini menjadi duka mendalam, khususnya bagi dunia kesusastraan nasional. Ia berharap semangat pantang menyerah dalam menjalani kehidupan bisa mejaladi teladan bagi generasi muda.

"Dunia pun mengakuinya ketokohannya sebagai sastrawan wanita yang memiliki kemampuan bercerita yang detail dan tangguh," pungkasnya.

NH Dini meninggal di usia 82 tahun. Ia berpulang usai mengalami kecelakaan di ruas jalan tol KM 10, Tembalang Kota Semarang pada Selasa, (4/12).