Jakarta - Matahari belum bersemangat untuk bergerak, dikalahkan oleh semangat mereka yang mendatangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Guntur, Jakarta Selatan. Pagi itu sepeda motor mulai berdesakan di depan, orang tua siswa silih berganti datang dan pergi mengantar buah hati untuk menimba ilmu.

Gedung sekolah berlantai tiga tersebut berdiri kokoh menghadap ke arah utara dengan posisi bangunan membentuk huruf 'U', seakan memeluk lapangan upacara luas di depannya. Seorang petugas keamanan berdiri tepat di belakang meja sebelah pintu masuk.

Dengan sigap tapi ramah petugas yang seragamnya bertuliskan nama Suwito itu menjelaskan kalau dalam satu gedung ada 3 Sekolah Dasar. Lantai 1 merupakan SDN 01 Guntur, Lantai 2 SDN 08 Guntur, Lantai 3 SDN 09 Guntur. 

Setelah mendapat penjelasan itu, Tagar bergeser ke gedung sebelah barat. Disana tampak kerumunan orang tua didominasi ibu-ibu yang sedang mengantar dan menunggui anaknya di kelas paling ujung barat. Mereka sedang mengantar anaknya yang baru dua hari menginjakkan kaki di SDN 01 Guntur.

Guru kelas sudah mulai memasuki ruangan meskipun belum waktunya pelajaran. Sang Guru mengajak para siswa yang mengenakan seragam olah raga untuk bersalaman sembari menanyakan masing-masing namanya. Saat itu tepat pukul 06.30. Uniknya, secara kompak mereka mengenakan kaos olahraga bekas sekolahnya di Taman Kanak-kanak sebab belum diambilkan seragam SD.

Saat bel berbunyi, wajah imut itu berlarian di lapangan, tapi ada juga yang duduk manis di kelas dengan ditunggui orang tuanya, bahkan masih ada yang menggelendot bersama ibunya seolah masih belum mau berpisah.

Rayan, salah satu murid kelas 1 yang dari hari pertama masuk sekolah diantar Ibunya, masih kebingungan ketika ditanya apa cita-citanya kelak. Dia hanya tersenyum sambil memandang Ibunya. Sebelumnya, bocah itu belajar di TK Aisiyah yang masih di kawasan Guntur Jakarta Selatan.

"Senang," jawabnya singkat saat ditanya perasaannya belajar di sekolah tersebut.

Sang Ibu, Iis menceritakan kalau anaknya dari pertama masuk Sekolah sudah terlihat bahagia sekali karena saat di TK, Rayan kurang banyak temannya. Sedangkan di SD, dia bisa menemukan banyak teman.

Dia bangga dengan Rayan yang tidak cengeng. Setelah diantar ke Sekolah, tidak lama Iis langsung meninggalkannya untuk mengurus pekerjaan rumah. Rumahnya kebetulan tidak jauh dari sekolah. Dia akan kembali ke sekolah menjelang Rayan pulang.

"Pulangnya setengah 10. Mungkin semingguan ini," kata Iis.

Iis merasa tidak kesulitan menghadapi awal masuk sekolah Rayan karena pernah mengalaminya saat anak pertamanya masuk SD. Sekarang, dia sudah kelas 1 SMP. Sebagai istri seorang TNI, Iis merasa harus sigap dan tertib dalam menyiapkan segala sesuatunya, termasuk bekal makan siang buat sang anak.

Suka Iseng

Keceriaan juga dirasakan oleh Natasha Aulia. Gadis mungil itu juga terlihat gembira di lingkungan barunya sembari meminta jajan kepada sang Ayah yang mengantarnya ke sekolah.

Ade Anton, Sang Ayah, yang sehari-hari bekerja sebagai Office Boy di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga turut merasakan kegembiraan Natasha. Ia yang kebetulan masuk shift kerja siang, rela mengantar buah hatinya terlebih dahulu.

Putrinya, lanjut Ade, memang cepat bergaul dan suka iseng. Saat melihat jaring-jaring di gawang sepak bola lapangan sekolah, Natasha lalu menarik-nariknya hingga ditegur oleh guru kelasnya.

Sejak pukul 05.30, Natasha sudah bangun dan mandi, kemudian bersiap-siap untuk berangkat. Padahal, sebelumnya dia selalu bangun siang karena saat TK dia berangkat siang.

Ade berharap bisa menyekolahkan putrinya ke jenjang yang paling tinggi.

"Niatnya sih ingin sampai kuliah di perguruan tinggi Kedokteran UI," katanya.

Berbeda dengan Rayan dan Natasha, Mikhaela adalah salah satu siswa baru bertipe melankolis. Yakni dia tidak mau ditinggal setelah diantar ke sekolah. Dia minta ibunya tetap menunggu sampai bel pulang berbunyi.

"Saya sendiri juga belum tega sih karena yang lain juga ditunggui, jadi dia minta ditunggui," kata Manda, ibunda Mikhaela.

Pengen Jajan

Pemandangan menarik tampak ketika Khoirul Azam sedang bergelendot di pundak ibunya. Dia meraung-raung meminta uang jajan untuk membeli sesuatu di kantin sekolah.

"Lima ribu, ma," kata Azam sambil merenggek kepada Ibunya.

karena waktu masih pagi, Fatrika Emeli, sang ibu menyarankan Azam untuk masuk kelas dulu. Jajannya ditunda ketika sudah bel istirahat saja. Namun, Azam tetap merayu ibunya hingga bel masuk berbunyi.

Fatrika, mengakui kalau anaknya suka begitu kalau ada kemauan. Namun sebenarnya, Azam adalah anak yang baik dan aktif. 

Setelah bel berbunyi, semua murid memasuki kelasnya masing-masing. Petugas keamanan mulai berkeliling memeriksa seluruh ruangan dan lorong untuk memastikan semuanya aman. Sementara itu, orang tua satu per satu keluar dari lingkungan sekolah untuk menunggui anaknya di luar sekolah. Beberapa dari mereka membeli sarapan atau sekedar membeli gorengan di depan sekolah sembari mengobrol dengan sesama orang tua. []