Jakarta - Ipda Junaidi anggota Brimob Kalimantan Timur sudah dua bulan bertugas pengamanan di Jakarta pasca KPU mengumumkan rekapitulasi hasil suara Pemilihan Presiden 2019.

Ipda Junaidi menceritakan bagaimana menjadi salah satu anggota yang ditugaskan melakukan pengamanan saat terjadinya kekisruhan 21 dan 22 Mei 2019 di Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Usai kerusuhan di depan Bawaslu, Ipda Junaidi belum kelar tugasnya. Dia masih harus bertugas pengamanan jalannya sidang sengketa Pilpres 2019 di gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Selama di Jakarta, dia tinggal di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta bersama sejawatnya.

"Kami datang ke Jakarta tanggal 22 Mei, kami dari seluruh Indonesia. Kami dibagi untuk back-up kewilayahan karena dikhawatirkan imbasnya ke mana-ke mana," kata Ipda Junaidi kepada Tagar, di sela-sela tugas menjaga gedung MK, Jumat 14 Juni 2019.

"Kami dari satuan Brimob Polda Kaltim. Kami dikirim untuk back up Polda Metro sebanyak dua batalyon," ucapnya.

Ipda Junaidi menuturkan rasa rindu kepada keluarga menyelimuti selama di Jakarta. Tapi, demi tugas pengamanan harus rela meninggalkan keluarga.

"Kalau rasa kangen itu manusiawi. Kami sebagai manusia biasa, Brimob juga manusia. Sama keluarga pastinya kangen," tutur ayah beranak tiga itu. 

Kalau rasa kangen itu manusiawi

Untuk melepas rasa kangen itu, Ipda Junaidi kerap melakukan panggilan video call di sela-sela tugasnya. Rindu keluarga pun tuntas terbayarkan.

"Anak, istri, orangtua pasti itu kangen. Alhamdullilah, sekarang ada teknologi kita bisa video call. Jadi agak mengurangi rasa kangen kita sama keluarga. Jadi setiap hari video call, kita sudah bisa melepas kangen," ujarnya.

Dia berharap tugasnya di Jakarta cepat selesai agar segera bertemu dengan keluarga tercintanya.

"Anak nomor dua selalu menanyakan kapan ayah pulang. Tapi ini sudah biasa. Tugas seperti ini kan bukan hal baru. Kami (Brimob) siap ke mana-ke mana . Yang penting kan dukungan dan doa keluarga," tuturnya.

Kendati rasa rindu menyergap di sela-sela tugas sebagai abdi negara, dia tak bisa melepaskan tanggung jawabnya untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jadi terlepas dari kegiatan kami seperti meninggalkan keluarga itu sudah hal yang biasa. Tidak menjadi halangan buat kami selama ini karena memang tugas adalah yang nomor satu. Meskipun keluarga juga tanggung jawab kita, tapi semua keluarga juga sudah paham semua dengan hal ini," katanya.

"Kami sebagai aparat, dalam hal ini sebagai Polri, dan Brimob khususnya sudah jadi tugas kami untuk mengamankan bangsa ini," ujarnya.

Selama bertugas mengamankan gedung Bawaslu dan MK, Ipda Junaidi menuturkan tidak ada persiapan khusus.

"Kalau kesiapan enggak ada yang khusus. Kami sebagai prajurit dan sebagai anggota Brimob sudah latihan tiap hari. Jadi tidak ada hal khusus, karena tugas ini bukan tugas baru. Jadi kapan pun dibutuhkan kami sudah siap," tuturnya.

Ipda Junaidi berharap bangsa Indonesia menjaga keutuhan NKRI. Jangan terpecah belah setelah pemilu. Masyarakat harus cerdas jangan termakan berita hoaks.

"Jangan terpengaruh isu-isu hoaks. Informasi harus dipilih dan dipilah. Harapan saya, tolong jaga keamanan ini. Jangan terpancing dengan isu yang berkembang yang cuma ikut-ikutan. Nanti kalau ada korban siapa yang mau tanggung jawab. Kan yang rugi keluarga sendiri," ujar.

Berita terkait: