Jakarta (Tagar 5/12/2018) - Sastrawan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau akrab disapa NH Dini tutup usia. 82 tahun masa hidupnya diisi beragam kegiatan yang memenuhi arsip sastra nasional.

Karya NH Dini tak hanya dikonsumsi penggiat literasi dan kalangan sastra saja. Siswa dan siswi di sejumlah Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Indonesia tak asing lagi mendengar namanya.

Kasubbid Penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nur Hayati mengungkapkan karya NH Dini kerap menjadi rujukan guru-guru untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Terutama novel NH Dini berjudul Pada Sebuah Kapal yang dicetak pertama pada 1972.

"Jika ada pelajaran mengenai bahasa dan sastra itu dirujuk untuk membaca karya sastra Pada Sebuah Kapal," kata Nur ketika dihubungi Tagar News melalui sambungan telepon, Rabu (5/12).

Baca juga: Sinopsis "Pada Sebuah Kapal", Novel NH Dini Paling Ngetop dan Laris

Rujukan langsung itu tidak terdaftar dalam kurikulum, namun spontan dilakukan guru karena karya NH Dini dinilai memiliki bobot yang baik untuk kegiatan belajar mengajar mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.  

Biasanya, lanjut Nur, rujukan itu dijadikan bahan untuk menggarap tugas mata pelajaran terkait. Penuturan dan jalan cerita menarik yang diulas satrawan asal Semarang itu dalam sebuah novel menjadi titik penting kenapa Pada Sebuah Kapal dirujuk para guru.

"Lalu mereka suruh membuat berbagai macam, misalnya dibuat sinopsis, suruh menceritakan isinya. Ini kan menarik karya-karya NH Dini banyak mengupas tentang lika-liku perempuan," tambahnya.

Nur menilai, karya-karya NH Dini memang memiliki unsur-unsur sastra dan jalan cerita yang baik. Apalagi kerap mengangkat sosok lain dari kehidupan perempuan yang menentang gejolak patriarki.

Sebab itu, kata Nur, sejumlah novel NH dini pantas diganjar trofi. Salah satunya novel berjudul Jepun Negerinya Hiroko yang dirilis tahun 2000 mendapat penghargaan dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 2003.

Kemudian, atas rekomendasi Badan Bahasa, NH Dini dikirim ke Thailand untuk menerima penghormatan penulis Asia Tenggara terbaik dalam ajang sastra S.E.A. Write Awards. Dalam penghargaan itu, NH Dini menerima langsung plakat dari Raja Thailand

"Beliau pernah mendapat penghargaan dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu dikirim oleh kami ke Thailand mendapat penghargaan S.E.A. Write Awards," urai Nur.

NH Dini mengembuskan napas terakhir di RS St Elizabeth Semarang, Selasa (4/12) sore, setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Tol Tembalang KM 10 Semarang, Jawa Tengah, di hari yang sama, sekitar pukul 11.00 WIB.

Perempuan itu meninggalkan dua anak dari hasil pernikahannya dengan diplomat Perancis bernama Yves Coffin. Adapun dua anak NH Dini Pierre Louis Padang Coffin yang berprofesi sebagai animator film Minions, dan Marie Claire Lintang Coffin yang memutuskan menjadi guru di Conseil Scolaire Catholique Providence di Ontario, Kanada.

Saat ini jenazah NH Dini telah melalui proses kremasi di sebuah krematorium di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Rabu (5/12).

Baca juga: Berita Foto: Jelang Proses Kremasi Sastrawan NH Dini