Jakarta - Viktor Ardyansyah seorang pedagang nanas di Jalan Cawang Baru Utara, Jakarta Timur merasa kasihan dengan Prabowo Subianto. Namun, Viktor dipaksa golput, tidak bisa memilih karena e-KTP nya belum selesai sejak dua tahun yang lalu.

"KTPnya ga berlaku. Diurus sudah jamannya 2 tahun nggak jadi-jadi sampai sekarang. Pertama foto bayar, pokoknya bayar 30 ribulah, terus dikasi suket (foto kopi kertas) kena hujan robek, jadi sekarang saya nggak punya KTP," tutur Viktor, Rabu 17 April 2019.

Viktor menambahkan, alasannya tidak memilih karena merasa tidak puas dengan calon yang ada. Menurutnya, keduanya merupakan calon yang telah bersaing sejak 2014 yang lalu.

"Nggak milih, saya Golput. Karena nggak punya pilihan, lagian cuma dua orang itu aja, dari tahun kemaren itu-itu doang. Harusnya ada tiga. Kalo nggak satu aja aturannya. Uda jaman lima tahun. Kalo ada tiga pilihannya tiga kan enak, bisa milih yang terbaik, kalo dua kan namanya egois, harus milih salah satu," ujar pria asal Cirebon itu.

Pria 27 tahun itu juga mengatakan rasa simpatinya pada Calon Presiden Prabowo Subianto, karena sudah tiga kali mencalonkan diri sebagai calon presiden, tapi selalu mengalami kekalahan.

"Kan kasian dijaman SBY dia nyalonin kalah, empat tahun kemaren juga sama Jokowi dia kalah. Udah gak punya bini, presiden kaga jadi, kan kasian," tambahnya.

Selain Viktor, beberapa pedagang lainnya yang berasal dari luar Jakarta juga tidak memiliki kesempatan untuk menyumbangkan suara kepada pemerintah lima tahun kedepan.

Seperti seorang pedagang martabak yang tidak mau disebut identitasnya. Dia tidak dapat menyumbangkan suaranya, karena e-KTP tidak dapat diurus di kampung halamannya.

"Saya nggak milih, karena KTP nya nggak bisa diurus, ya golput. Tapi ada yang bisa, ada juga yang nggak bisa. Ya udah saya ikut yang jadi aja udah," ucap pria asal Tegal itu. []

Baca juga: