Jakarta, (Tagar 14/3/2019) - Tony Samosir sudah menderita gagal ginjal sejak 2009 silam. Mengidap penyakit ini, Tony masih berstatus belum menikah, hingga akhirnya dia menikah dengan perempuan yang baik hatinya mau menerima segala kekurangannya dengan tulus.

Eva Saulina Tampubolon (32) adalah sosok istri yang sangat mencintai Tony dengan segala keadaannya. Perempuan berdarah Batak ini memang sudah mengenal Tony sejak tahun 2010.

"Sebenarnya Tony itu sudah divonis gagal ginjal sebelum kenal saya. Saya bertemu Tony di tahun 2010," kata Eva saat dihubungi Tagar News,  Rabu (13/3).

Dia mengakui memang Tony sudah divonis dokter, gagal ginjal sejak tahun 2009.

"Jadi dia itu divonis gagal ginjal tahun 2009. Di 2009 divonis gagal ginjal habis itu dia ke Malaysia cuci darah selama sebulan. Pulang dari Malaysia itu dia tidak wajib cuci darah, hanya dokter Malaysia itu bilang ke dia itu untuk diet. Pulang dari Malaysia, dia udah gak cuci darah dulu kalau gak salah itu sekitar 8 bulan deh. Pada saat dia gak cuci darah ini, dia ketemu dengan saya tahun 2010," ucap dia.

"Sekitar tahun 2010 dari situ dia akhirnya mungkin udah waktunya dia untuk rutin cuci darah akhirnya dia masuk rumah sakit dan divonis untuk rutin cuci darah. Jadi sudah suatu rutinitas," ujarnya.

Dia mengatakan sejak pertemuan dirinya dengan Tony, kondisi ginjal Tony sudah semakin memburuk. Akhirnya sejak itu, Tony sudah harus rutin melakukan cuci darah.

"Dan itu gak lama dari kita ketemu, akhirnya dia yang mungkin udah gak kuat lagi dan kondisi ginjalnya udah semakin buruk. Akhirnya dia cuci darah yang rutin," tuturnya.

Pada Juni 2011, Eva dan Tony memutuskan untuk menikah. Keputusan Eva memilih Tony menjadi suaminya memang karena pasangan ini saling mencintai dengan tulus.

"Saya sih sebetulnya udah tahu penyakit Tony itu gak akan sembuh, kecuali dengan transplantasi (ginjal). Cuman karena mungkin cinta dan kasih, akhirnya ya udah saya menerima dia dengan segala kelebihan dan kekurangan dia. Akhirnya kita menikah tahun 2011.

"Kalau dari awalnya saya udah nemenin Tony dari Tony yang mulai cuci darah sampai rutin saya nemenin dia, selalu sampai akhirnya kita menikah. Saya melihat kondisi Tony ya kayaknya kondisinya menurun," ungkapnya.

Dia bercerita saat dirinya hendak menikah dengan Tony, orangtua Eva tidak mengetahui kondisi kesehatan Tony, suaminya. Eva dan Tony memang sengaja menutup-nutupi kesehatan Tony.

"Untuk orangtua saya itu dari awalnya gak tahu kalau dia itu sakit (gagal ginjal). Jadi kita menutupi sampai saya menikah. Mungkin sekitar beberapa bulan kita menikah baru orangtua saya tahu," tuturnya.

Saya berani menawarkan karena kita sudah dapat informasi bahwa dengan golongan darah yang sama itu udah membuka jalan. Jadi pertama itu golongan darah sama yaitu sama-sama golongan darah O, maka itu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium. Dan dari hasil pemeriksaan laboratorium itu ternyata ada kecocokan antara ginjal saya dan dia

Meskipun demikian, masing-masing keluarga akhirnya dapat menerima kondisi Tony sejak saat itu. Hingga akhirnya tahun 2013, Eva dan Tony dikarunia seorang anak perempuan yang cantik dan lucu bernama Feodora  Samosir (5).

Menjadi seorang istri sekaligus ibu dari dari satu anak, tak membuat dirinya menyerah dengan kondisi suaminya itu. Di sinilah Eva harus menjadi penyemangat suami untuk tetap pulih dari sakit yang dideritanya tersebut.

Memang dia akui cobaan saat itu datang bertubi-tubi. Tahun 2014 dia bersama suami sudah berencana untuk melakukan transplantasi ginjal. Saat itu Eva sudah bertekad untuk mendonorkan ginjal sebelah kirinya kepada suami tercintanya itu.

Namun sayangnya, hal itu harus tertunda. Itu dikarenakan saat hendak dilakukan pemeriksaan, sebelum dilangsungkannya transplantasi ginjal itu, ternyata Tony juga mengidap hepatitis C.

"Tahun 2014 kita mulai cek-cek mau transplantasi. Cuma itu tertunda karena hampir sekitar 90 persen pemeriksaan itu ketahuan kalau Tony itu mengidap hepatitis C. Dari situ kita harus mengikuti pengobatan sampai September 2015," ungkapnya.

Dengan Hepatitis C yang dialami Tony ini, dia mengatakan proses transplantasi ginjal belum dapat dilakukan. Tetapi bukan berarti Tony tidak punya harapan untuk proses transplantasi tersebut.

"Dari situ kita harus mengikuti pengobatan sampai September 2015. Jadi dia terapi penyembuhan, itu untuk penurunan virusnya itu selama setahun. Jadi tertundanya di situ. Nah setelah 2015, setelah dia hepatitis C nya sembuh baru kita mendaftarkan lagi untuk jadwal operasi (transplantasi). Dan baru dapat jadwal operasi itu Maret 2016 di RSCM," ujarnya.

Bagaimana akhirnya ibu dari satu anak ini hingga mau mendonorkan salah satu ginjalnya itu. Meskipun tekadnya itu memang sudah sejak awal ingin memberikan ginjalnya itu kepada Tony.

"Saya bilang saya pengen-nya itu ingin lihat anak saya bisa tumbuh besar itu didampingi sama bapaknya. Ya udah dari situ saya ikhlas untuk memberi ginjal saya," tuturnya.

"Iya saya mengingat anak dan saya melihat kondisi Tony, saya pengen Tony itu bisa lebih sehat dan untuk beraktivitasnya lebih maksimal," tuturnya.

Dalam hal ini memang sebelum melakukan transplantasi ginjal, harus melewati berbagai pemeriksaan medis sampai akhirnya dokter menyatakan pendonor layak memberikan salah satu ginjalnya kepada pasien.

Sungguh bahagianya Eva sejak itu, dokter mengizinkan dirinya menjadi pendonor ginjal untuk sang suami. Tentunya pun melalui berbagai pemeriksaan medis.

"Saya berani menawarkan karena kita sudah dapat informasinya bahwa dengan golongan darah yang sama itu udah membuka jalan. Jadi pertama itu golongan darah sama yaitu sama-sama golongan darah O, maka itu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium. Dan dari hasil pemeriksaan laboratorium itu ternyata ada kecocokan antara ginjal saya dan dia," tandasnya.

"Dari golongan darahnya dan dilakukan pengecekan secara laboratorium dengan laboratorium sampai semuanya dilakukan pemeriksaan, dan dinyatakan layak jadi pendonor," ucapnya.

Dengan satu ginjal yang dia miliki sekarang ini, lanjut dia tak ada yang beda dari kondisi kesehatannya itu. Namun memang, dia juga tak lupa untuk mengecek kondisi satu ginjalnya itu.

"Kalau ditanya kondisi saya  gak ada perbedaan ya antara dua dan satu. Jadi saya bisa beraktivitas dan ini saya pergi pagi pulangnya malam. Saya itu biasanya melakukan tes laboratorium untuk fungsi ginjal  paling gak sekali 6 bulan. Ya untuk antisipasi saja," tuturnya.

Dia sangat bersyukur Tuhan sudah memberikan jalan untuk proses transplantasi ginjal suaminya itu. Meskipun, suaminya Tony seumur hidupnya harus meminum obat dari dokter akibat sakit yang dideritanya.

"Kita manusia cuman bisa berusaha ya kan. Semuanya Tuhan yang menentukan, karena saya selalu bilang sama Tony, ya kalau memang udah waktunya ya pasti waktunya. Orang sehat aja bisa tiba-tiba meninggal besok kan. Puji Tuhan sampai saat ini dia itu masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk hidup," pungkasnya. []

Baca juga: