Jepara, (Tagar 12/1/2019) - Siapa bilang limbah kayu tak lagi berfaedah? Di tangan perajin kayu Jepara, sisa akar pohon jati disulap menjadi bentuk binatang yang laku hingga Benua Biru.

Kabupaten Jepara melegenda dengan berbagai produk kerajinan kayu. Bila mengunjungi wilayah ini, di setiap sudut banyak ditemukan showroom furniture. Memamerkan berbagai jenis kerajinan, satu di antaranya toko tersebut adalah milik Agus.

Bertempat di tepi Jalan Raya Jepara-Kudus, galeri yang dinamakan Veda Sabrina Furniture, memamerkan berbagai kerajinan dari limbah kayu. Satu produk yang menarik perhatian adalah patung hewan yang disusun dari potongan-potongan kayu jati berumur puluhan tahun, yang berbentuk kuda, gajah, babi, hingga burung elang.

Uniknya, saking tuanya umur kayu, sebagian di antaranya berubah menjadi fosil.

"Umur dari limbah akar kayunya saja sekitar 50 tahun, belum lagi sebelum diambil sudah tertimbun didalam tanah selama belasan tahun,, sehingga ada yang sudah jadi fosil, mengeras seperti batu akik," ujar Murianto (37) Kepala Produksi Veda Sabrina kepada Tagar News saat disambangi di tempat produksi yang ada di Jalan Kramat RT 10 RW 5 Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Sabtu (12/1) siang.

Menurutnya, pengembangan kerajinan limbah akar kayu berkembang sesuai dengan pangsa pasar yang tumbuh pesat, terutama dari kawasan Eropa.

Kerajinan JeparaKerajinan Limbah Kayu Jepara Laris di Benua Biru. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto )

Untuk membuat kerajinan ini, limbah kayu didatangkan dari Blora, Randublatung, Ngawi dan Bojonegoro. Meski demikian, proses pembuatan dilakukan sepenuhnya di Jepara.

"Kami memiliki enam perajin, yang khusus membuat kerajinan ini (limbah kayu). Untuk satu produk hewan yang disusun dari potongan kayu ini waktu pembuatannya bervariasi mulai dari dua hari hingga satu bulan untuk ukuran tinggi tiga meter," urainya.

Menurutnya, pembeli dari Eropa memesan produk dengan hanya mengirimkan foto hewan asli. Hal itu memaksa para perajin untuk bermain dengan imajinasi yang tinggi, untuk mewujudkan pesanan pelanggan.

"Pernah suatu kali, pelanggan memesan patung dari susunan limbah kayu berbentuk dinosaurus. Tingginya saja tiga meter, untuk pengirimannya pun kami harus menggunakan metode khusus agar muat di kontainer dan tidak rusak saat pengirimannya," imbuh Murianto.

Dikatakannya, kerajinan patung dari susunan limbah kayu memiliki kualitas tersendiri. Selain tahan akan terpaan cuaca, motif kayu juga lebih menonjol, nampak alami dan artistik. Hal itulah yang menyebabkan banyak pembeli dari mancanegara menyukai produk ini.

Namun demikian, untuk dapat sampai ke pasar Eropa dibutuhkan berbagai persyaratan, termasuk asal dan legalitas limbah kayu.

"Mulanya untuk masuk ke pasar Eropa cukup sulit karena dibutuhkan legalitas. Kemudian pemasok dari Jawa Timur membantu kami terkait hal tersebut sehingga produk kami bisa diterima oleh konsumen. Karena dari Perhutani sendiri juga tak ada masalah," tuturnya.

Untuk ekspor luar negeri, setiap bulan bisa sampai empat kali pengiriman menggunakan kontainer. Harga kerajinan ini berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. (Padhang Pranoto)