Jakarta, (Tagar 17/3/2019) - Sabtu malam, suara isak tangis seorang wanita dan anak kecil terdengar, di antara sunyinya pemukiman warga Distrik Sentani. Sambil terisak, wanita itu memohon untuk diselamatkan seperti yang terdengar dalam sebuah audio video yang dibagikan salah satu warga Twitter Andreas Immanuel S.

"Seseorang siapa pun tolong kami, kami terjebak, kami mohon tolong kirim seseorang ke sini, selamatkan, selamatkan ibu saya tolong," tutur seorang wanita dalam sebuah video audio yang dibagikan akun Twitter Andreas Immanuel S (@andreassilaban), pukul 8:28 AM, Minggu (17/3).

Derasnya banjir bandang yang mengalir, meluluhlantakkan, dan merendam pemukiman ibu kota Kabupaten Jayapura, Papua, itu rupanya mencekam pasca diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi.

Banjir SentaniBanjir Sentani. (Foto: Twitter)

Terdengar putus asa, wanita itu terus memohon untuk menyelamatkan ibunya saja, sembari terisak. "Selamatkan ibu saya saja tidak apa-apa, saya mohon," harapnya.

Tak hanya suara putus asa wanita, akun Twitter turut membagikan video, seorang anak kecil yang diselamatkan setelah hanyut dalam banjir bandang bersama seorang warga lain yang berlumuran lumpur.

"Ada anak kecil ditemukan hanyut di rumahnya Pak Bob," ujar seeorang pria dakam video yang diunggah @suarasosmed pada 7:03 AM, Minggu (17/3).

Ternyata, banjir bandang pada Sabtu malam (16/3) Distrik Sentani bukan banjir bandang biasa. Karena, tidak hanya merusak pemukiman warga, pun menelan sekitar 50 korban jiwa yang membuahkan duka.

Tapi di balik duka di Jayapura, salah satu cerita melegakan datang dari seorang pemilik akun Twitter @parkjiminvi. Meski rumahnya turut terendam luapan banjir bandang, di distrik Sentani, keluarganya selamat dari peristiwa tersebut.

"Ini rumah saya di Sentani, Jayapura yang sekarang tenggelam dan penuh dengan tanah. Alhamdulillah Mama, Ayah dan adik-adik saya selamat. Untuk teman-teman mohon doanya untuk korban luka-luka dan meninggal di sana. #PrayForJayapura," tulisnya pukul 7:20 AM, Minggu (17/3).

Banjir SentaniBanjir Sentani. (Foto: Twitter)

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho keganasan banjir bandang di Distrik Sentani, diduga akibat longsor di bagian hulu yang materialnya kemudian menyumbat sampai membuat air meluap, seperti karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia.

"Banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (17/3).

"Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur, dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar," papar dia.

Ditambah dengan curah hujan tinggi dalam waktu yang lama. Jadilah banjir bandang menerjang. "Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama," sambungnya lagi.

Banjir SentaniBanjir Sentani. (Foto: Twitter)

Sebenarnya, menurut Sutopo, banjir bandang pun bukan pertama terjadi di sana. Karena banjir pun pernah menerjang pada 2007.

"Pada tahun 2007, kejadian banjir bandang juga pernah terjadi di Distrik Sentani," jelasnya.

Hingga kini, jumlah korban bencana banjir bandang di Distrik Sentani, terus bertambah menjadi 63 orang, 17 jenazah telah berhasil teridentifikasi di RS Bhayangkara, Kota Jayapura dan 11 di antaranya sudah diserahkan kepada keluarga.

Untuk proses identifikasi sendiri, masih akan dilanjutkan hingga pukul 20.00 WIT.

"Proses identifikasi akan dilanjutkan sampai jam 8 malam. Setelah itu besok akan dilanjutkan kembali sampai semua jenazah teridentifikasi," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Kombes Pol AM Kamal, Minggu Sore (17/3).

Dalam catatan Polda Papua, selain korban meninggal sementara ini banjir bandang telah mengakibatkan korban luka sebanyak 43 orang yang dirawat di Puskesmas Sentani Kota, RS Yowari, RS Marthen Indey dan RS Bhayangkara.

Kemudian untuk kerusakan, ada 350 rumah rusak berat, 3 jembatan rusak berat, 8 drainase rusak berat, 4 jalan rusak berat, 2 gereja rusak berat, 1 masjid rusak berat, 8 sekolah rusak berat, 104 ruko rusak berat dan 1 pasar rusak berat. []

Baca juga: