SemarangInnalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kabar duka, Mbah Bandiyem telah meninggal dunia bakda Isya malam ini di rumah duka Jalan Borobudur Utara Raya No 78c, RT 5 RW 3, Kelurahan Manyaran.

Jenazah akan dimakamkan di Klaten besok hari Minggu. Semoga almarhumah Mbah Bandiyem meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

Demikian bunyi sebuah informasi yang dishare di grup WhatsApp jurnalis yang biasa bertugas di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng), Sabtu 16 Juni 2019 jelang tengah malam.

Mbah Bandiyem, sosok nenek yang memang tidak asing bagi para jurnalis maupun pegawai di Kantor Gubernuran Jateng, di Jalan Pahlawan No 9, Semarang.

Lantas siapakah Mbak Bandiyem hingga terasa istimewa bagi para kuli tinta? Sampai mereka langsung merespons kabar itu dengan beragam ucapan duka dan balasan doa.

Wanita kelahiran tahun 1933 ini bukan siapa-siapa. Ia hanya wanita yang lahir dan menjalani hidup layaknya warga dari kalangan umum akar rumput. Bukan seorang pejabat utama maupun orang tua yang punya kekerabatan dengan pejabat penting di Jateng.

Wild Card

Dia adalah seorang wanita yang mengandalkan hidup dari berjualan pisang gepok. Dan semasa hidup menjadi penjual asongan, ia mudah ditemui di lingkungan Kantor Gubernuran.

Tapi Mbah Bandiyem bukan sembarang penjual asongan. Karena lama berjualan di Kantor Gubernuran itu lah ia menjadi sosok yang melegenda. Legenda yang menjadi saksi beragam gaya kepemimpinan Gubernur Jateng sejak 64 tahun lalu.

Dan karena itu lah, Mbah Bandiyem menjadi mendapat tempat spesial di hati para pegawai dan pejabat Pemprov Jateng. Ketika muncul larangan penjual asongan beraktivitas di kompleks gubernuran beberapa tahun lalu, ia satu-satunya pedagang yang mendapat wild card.

Mbah Bandiyem seakan mempunyai akses ke segala ruangan. Termasuk leluasa menawarkan dagangannya hingga ruang kerja Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Seperti dikisahkan laman resmi Pemprov Jateng, Mbah Bandiyem bahkan pernah menghadap ke Ganjar seorang diri di ruang kerjanya hanya karena kangen.

Hari itu, Mbah Bandiyem sengaja menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk bersilaturahmi, bukan untuk menawarkan pisang gepok. Kebetulan kehadirannya di jelang siang pada 25 Juni 2018 silam ini usai kegiatan halalbihalal Ganjar bersama kolega dan para pegawainya.

Acara halalbihalal sengaja digelar di hari pertama Ganjar masuk kerja setelah cuti kampanye Pemilihan Gubernur Jateng 2018. Selama lebih dari empat bulan berkeliling ke seantero Jateng untuk kampanye, Ganjar tidak pernah menampakkan batang hidungnya di gubernuran.

Rupanya, ketidakmunculan Ganjar menimbulkan kerinduan tersendiri bagi Mbah Bandiyem. Bahkan mendorong wanita lanjut usia ini pernah ingin ke rumah kontrakan Ganjar. Namun sayang karena tidak tahu arah, niat itu diurungkan.

Selama ini juga telah dilakukan Dinas Sosial Jateng. Selain menumbuhkan rasa berperikemanusiaan, harapannya agar para lansia dan anak yatim terurus dan kemiskinan di Jateng teratasi

"Meh limang wulan mboten ngetok. Meh ning Tengger (rumah kontrakan Ganjar) tapi ora ngerti dalane (Hampir lima bulan tidak pernah kelihatan. Mau ke Tengger tapi tidak tahu jalannya)," aku dia.

Pertemuan Ganjar dan Mbah Bandiyem berlangsung gayeng. Tak ubahnya obrolan antara seorang ibu dengan anaknya, keduanya duduk berdampingan. Berlangsung sekitar 10 menit namun tidak terlihat ada jarak di antara Ganjar dan Mbah Bandiyem. Meski Ganjar adalah orang nomor satu di Pemprov Jateng.

Kepada Ganjar, Mbah Bandiyem yang berbalut busana khas orang tua Jawa ini bercerita sudah mulai jualan di gubernuran mulai era Gubernur Hadisoebeno Sosrowerdojo. Ia pun masih hafal di luar kepala nama-nama gubernur yang pernah menjabat dari dulu hingga sekarang.

"Sudah di sini sejak tahun 1955, zamannya Pak Beno. Setelah pensiun diganti Pak Mochtar, diganti Pak Moenadi, terus Pak Ismail, setelah itu Pak Supardjo, Pak Mardiyanto, Pak Bibit, terus Anda (Ganjar)," kata Mbah Bandiyem dalam bahasa Jawa.

Ganjar sempat menawari Mbah Bandiyem untuk makan siang bersama. Tapi ditolak meski sudah dirayu beberapa kali. Akhirnya Mbah Bandiyem mau menerima parcel berisi buah-buahan dan minuman.

Obrolan santai dan penuh canda antara Ganjar dan Mbah Bandiyem berhenti karena Mbah Bandiyem pamitan untuk mencari nafkah, keliling jualan pisang gepok. Di akhir pertemuan Ganjar mendoakan agar Mbah Bandiyem selalu diberikan kesehatan.

Komunitas Motor

Kini Mbah Bandiyem telah tiada. Mbah Bandiyem meninggal dunia setelah menanggung sakit sekitar satu bulan karena kecelakaan. Sempat dirawat di ortopedi tradisional, Mbah Bandiyem menjalani perawatan di rumah Pleburan Semarang didampingi anaknya, Sani Sarah (45). Ia mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu 15 Juni 2019 malam.

Ganjar TakziahGubernur Ganjar saat takziah di rumah duka Mbak Bandiyem di Klaten, Jawa Tengah, Minggu 16 Juni 2019. (Foto: Humas Pemprov)

Terkesan atas sosok Mbah Bandiyem, Gubernur Ganjar menyempatkan datang langsung ke rumah duka di sela kesibukannya. Ganjar melayat ke tempat asal Mbah Bandiyem di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu 16 Juni 2019.

"Permintaan terakhir simbok (ibu), ingin dimakamkan di dekat ibu dan saudara-saudaranya di Klaten. Simbok juga memberi alasan, agar anak-anaknya tetap mengingat kampung halaman karena kini anak-anaknya berpencar, tidak hanya di Klaten," tutur Sani.

Ada rasa campur aduk yang dialami anak dan kerabat Mbah Bandiyem. Pasalnya, tepat lima hari sebelum kepergiannya, suami Mbah Bandiyem telah mendahului menemui Sang Khalik. Sedih dan takjub dirasakan Sani. Sedih karena ke dua orangtuanya telah tiada. Takjub karena sedemikan lekatnya rasa cinta mereka.

"Meski sama-sama tinggal di Semarang, ibu dan bapak tidak tinggal satu rumah karena pekerjaan. Bapak di Manyaran, ibu di Pleburan. Tapi setiap seminggu sekali beliau berdua ketemu. Ibu ingin dimakamkan di Klaten meski bapak dimakamkan di Semarang," katanya.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, Ganjar pun bersaksi bahwa Mbah Bandiyem adalah sosok wanita yang baik. "Mbah Bandiyem niku tiyang sae (Mbak Bandiyem itu orang baik," ucap dia.

Ganjar juga berpesan agar wasiat Mbah Bandiyem bisa dilaksanakan anak keturunannya. Bahwa keinginan dimakamkan di Klaten terkandung arti agar yang ditinggal bisa selalu rukun.

"Ojo rebutan warisan. Karo tonggo teparo seng rukun. Ben uripe ayem. Kabeh niku keleh Mbah bandiyem love (jangan berebut warisan, rukun juga dengan tetangga agar tentram hidupnya. Semuanya itu jika dengan Mbah Bandiyem cinta)," papar Ganjar.

Untuk mengenangnya, Ganjar meminta izin melabeli komunitas motor gubernuran, di mana ia jadi anggota, dengan nama Bandiyem. "Nyuwun izin niki konco-konco karena tresna karo Mbah Bandiyem, pengen ndadekke jenenge dadi jeneng group motor (minta izin, karena sayangnya kawan-kawan dengan Mbah Bandiyem, ingin menjadikan namanya sebagai label klub motor). Grup Montoran Bandiyem," kata Ganjar.

Klub motor tersebut, janji Ganjar, bakal menebar spirit persaudaraan yang salah satu agendanya adalah wisata hati. Tur menyambangi para lansia, anak yatim serta warga kurang mampu.

"Selama ini juga telah dilakukan Dinas Sosial Jateng. Selain menumbuhkan rasa berperikemanusiaan, harapannya agar para lansia dan anak yatim terurus dan kemiskinan di Jateng teratasi," tukas Ganjar.[]

Artikel lainnya: