Jakarta - Pemilik nama lengkap Wishnutama Kusubandio menapaki karier di industri penyiaran menuntutnya harus selalu yang harus berpikir kreatif dan inovatif, untuk menghasilkan program siaran yang berkualitas.

Kepiawaian pria kelahiran Jayapura, 4 Mei 1976 itu sebagai seorang broadcaster sudah tak perlu diragukan lagi. Pria yang akrab disapa Tama itu menempuh pendidikan di berbagai tempat, yakni sempat mengenyam pendidikan di Kooralbyn International School di Queensland dan International School Of Singapore, Tama kemudian melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat.

Tama lalu mengambil pendidikan sarjananya di dua studi sekaligus yaitu Communication and Liberal Arts di Mount Ida College dan Television Production di Emerson College.

Selain mendalami bidang komunikasi dan pertelevisian, ia terlebih dahulu menjalani pendidikan militer pemberian beasiswa yang ia peroleh di Military College Of Vermont, Norwich University. 

Lulus pada 1992, Tama lalu mengambil pendidikan sarjananya di dua studi sekaligus yaitu Communication and Liberal Arts di Mount Ida College dan Television Production di Emerson College. Kedua kampusnya terletak di Boston. Selama kuliah, ia kerap mempraktikkan apa yang ia pelajari di setiap kegiatan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia mencoba peruntungan sebagai Production Assistant di New England Cable News pada 1992. Tama juga sempat mencicipi pengalaman sebagai On-Air Promotion Assistant Director di WDHD TC Boston sebelum kembali ke tanah air.

Merasa cukup dengan ilmu yang diperolehnya di Boston, ia pulang ke Indonesia.bermodal kreatifitas dan keuletan Tama langsung direkrut oleh Indosiar sebagai Supervisor On Air Promotion. Sebagai lulusan luar negeri yang telah berpengalaman, ia menuangkan idenya selama tujuh tahun di televisi yang berkantor di Daan Mogot itu.

Tak heran dalam waktu yang cukup lama itu, ia telah berhasil mencetuskan beberapa program yang sudah dikenal masyarakat, antara lain Gebyar BCA, Satu Jam Bersama, Patroli, dan Saksi.

Namun sayang, belum sampai 10 tahun ia mengundurkan diri dan memutuskan untuk bergabung dengan media yang dipimpin Chairul Tanjung, Trans Corp pada tahun 2011. Awal bekerja ia langsung dipercaya menjadi Kepala Produksi. 

Meski masih baru bergabung ia berhasil membawa Trans meraih rating tertinggi di Indonesia dengan program-program seperti Extravaganza, Dunia Lain, dan Termehek-Mehek. Selain itu, tahun 2011-2012 ia juga sempat menjabat sebagai CEO detik.com. 

Melihat kesuksesannya memimpin beberapa program hingga populer, Chairul Tanjung langsung menobatkan dia menjadi Managing Director di Trans TV. Sebelumnya, saat TV 7 akuisisi pada tahun 2006 yang dinamakan Trans 7, ia ditunjuk sebagai Direktur Utama Trans 7. Jabatan itu tak lama, hanya setahun saja.

Setelah malang melintang di dunia pertelevisian Indonesia selama 10 tahun lebih, Wishnutama memutuskan untuk rehat, dengan mengundurkan diri sebagai CEO Trans TV pada 2012. Meski demikian, ia masih aktif sebagai komisaris Spacetoon TV,  saat itu sudah tak populer lagi.

Banyak mendapat pengalaman di dunia pertelevisian, ia merasa jengah kualitas program televisi di Indonesia. Akhirnya, ia bersama pengusaha Agus Lasmono dari Indika Group memutuskan untuk mendirikan sebuah stasiun televisi baru yang dapat merevolusi dunia penyiaran Indonesia, dengan membuat sebuah konten siaran yang berkualitas tinggi, baik dari segi kemasan, konteks, serta dapat diakses dimanapun.

Akhirnya ia membeli saham Spacetoon, yang kemudian ganti nama menjadi News and Entertainment Television (NET TV) pada 18 Mei 2013. Tama dengan keyakinan timnya mampu membawa masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi konten yang disajikannya.

Setelah menguras tenaga, kreatifitas, dan perjuangannya NET TV pun mampu menghadirkan inovasi dan program-program unggulan, baik dari segi produksi maupun berita. Hal ini sejalan juga dengan keinginan Tama, memadukan unsur berita yang menghibur dan hiburan yang informatif di setiap eksekusi programnya.

Hal itu terlihat dari sepak terjang dia dalam mencetuskan beberapa program yang mengisi televisi yang didirikannya itu mulai dari acara The Comment, Ini Talk Show, NET.24, NET Update, NET Special Report, Warna-Warni, The Newsroom, dan Tonight Show.

Nama NET TV semakin melambung, demikian juga nama pendirinya Wishnutama saat dianugerahi Panasonic Awards dan Asian Television Awards selama menjabat sebagai CEO Trans TV. 

Selain itu, ia juga pernah meraih penghargaan SWA Best CEO in Indonesia 2010,Markplus Indonesia Marketing Champion for The Broadcast, TV Pay & Media Sector 2015, Richtopia List of 500 Most Influential CEOs in The World 2015, dan Tempo Best Chief Strategy Execution Officer Across All Industries in Strategy-Into-Performance Execution Excellence (SPEX2) Awards 2016.

Selain sibuk di televisi, Tama memiliki usaha sampingan di bisang kuliner yang diberi nama Parc19 Bistro di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.Salah satu tempat kumpul dan resto anak-anak muda dan kaum millennial yang sedang hits.

Pria yang memiliki hobi bermain musik dan fotografi itu ternyata tak hanya menghabiskan waktunya dalam karir, tapi juga kerap menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Ia dikaruniai empat orang anak dari dua perkawinannya dengan Wina Widodo dan Wina Talia. Keempat anaknya itu adalah Muhammad Sabian Tama, Sakina Tama, Salvaditya Tama, dan Sultan Saladyne Tama.

Dedikasi penuh Wishnutama dalam dunia pertelevisian Indonesia telah terbayar dengan kesuksesan NET TV. Wishnutama dan NET TV pun telah membuktikan bahwa dunia pertelevisian Indonesia masih mempunyai masa depan yang baik dengan menyajikan program-program yang bermutu. []