Jakarta - Saat cuaca sedang panas-panasnya, sinar mentari menyinari Kota Jakarta. Semua tampak terang benderang, begitu jelas pandangan. 

Dari kejauhan terlihat mobil pemadam kebakaran berwarna merah bergaris putih, terpakir di halaman Kantor Sektor Pusat Jatinegara (KSPJ), Jakarta Timur, Senin, 15 Juli 2019. Tidak jauh dari tempat mobil pemadam kebakaran (Damkar) terdapat pos petugas.

Tahta Dirgantoro, 30 Tahun

Berbaju hitam dengan celana panjang, Tahta Dirgantoro tiduran di pos jaga. 

"Saya lagi istirahat. Tadinya mau beli makanan, tapi nanti saja," katanya saat di temui Tagar.

Menjadi petugas pemadam kebakaran, pekerjaan berbahaya, penuh risiko, tantangan. Meskipun demikian, Tahta mengaku sangat menikmatinya. 

"Karena saya senang membantu orang. Ini pekerjaan yang mulia," tuturnya dengan seulas senyum.

Tiga tahun menjalani profesi ini, Tahta tak akan pernah bisa lupa satu kejadian.

"Waktu itu pertengahan bulan puasa tahun 2019. Rumah berlantai dua di daerah Kebun Singkong, Jakarta Timur, hangus terbakar. Pemilik rumah meninggal. Menurutku itu hal yang paling mengerikan," Tahta mengenang.

"Tangan kiriku terkena seng, kepalaku ketiban genteng. Untung pengaman sebelum bekerja sudah aku perhatikan, jadi alhamdulillah lukanya tidak serius," tuturnya.

Sebelum dikontrak menjadi petugas pemadam kebakaran, Tahta adalah seorang relawan tanpa digaji sepeser pun.

"Hanya dikasih makan aja, nasi kotak, sehari tiga kali, pagi, siang, dan malam," katanya. Meskipun demikian semangatnya tak pernah luntur karena ia senang menolong orang.

Setahun menjadi relawan pemadam kebakaran, dari 2015 sampai 2016, akhirnya Tahta dikontrak menjadi petugas pemadam kebakaran. "Alhamdulillah, sekarang saya sudah dikontrak dari tahun 2017," katanya.

Ada kucing tercebur ke kolam, ada sarang tawon, ada ular, pasti akan menelepon kami.

Pemadam KebakaranSuyatno dan Tahta Dirgantoro. (Foto: Tagar/Moh Irkhamni)

Suyatno, 28 Tahun

Berbadan gempal, berbaju hitam, berambut cepak, berjalan pelan menuju pos, menghampiri seorang teman. Tak jauh dari pos, banyak mobil pemadam kebakaran siap melayani masyarakat yang terkena musibah kebakaran. Bekerja satu hari selama 24 jam, petugas pemadam kebakaran siap melayani masyarakat yang membutuhkan.

Suyatno, sebelum menjadi petugas pemadam kebakaran adalah pelayan rumah makan Padang di Cipulir, Jakarta Selatan. Ia satu angkatan sama dengan Tahta Dirgantoro,

"Alhamdulillah, saya bersyukur menjadi petugas pemadam kebakaran, karena pekerjaan ini sangat mulia," ujar Suyatno.

Meskipun pekerjaannya berisiko tinggi, Suyatno percaya kemampuannya sebagai petugas."Setiap hari ada pelatihan cara mengevakuasi korban. Kami percaya dengan skill kami," kata Suyatno.

Sebagai petugas pemadam kebakaran, ia dituntut memiliki fisik yang kuat dan prima. 

"Setiap pagi jam 9 sampai jam 11 kami diwajibkan berolahraga, senam pagi hingga, lari," kata Suyatno.

Ia pria asal Lampung yang memutuskan merantau ke Jakarta untuk mencari kesuksesan. 

Kejadian tak terlupakan baginya ketika suatu hari pukul empat pagi mendapat telepon dari masyarakat.

"Kami meluncur ke Kali Sodong, Jatinegara, untuk memadamkan kebakaran di wilayah perumahan warga di Pondok Bambu. Itu kejadian paling tidak mengenakkan selama karier sebagai petugas pemadam kebakaran," katanya.

Medan yang susah, mobil tidak bisa parkir, membuatnya terlambat melakukan evakuasi. Membuat warga merasa kesal kepada petugas pemadam kebakaran.

Agushut, 42 Tahun

Pemadam KebakaranAgushut. (Foto: Tagar/Moh Irkhamni)

Berperawakan proporsional, tinggi tegap, keluar dari balik pintu berwarna cokelat, pria itu muncul dengan senyum ramah. 

"Sudah pada makan apa belum?" kata Agushut kepada temannya. Ia sudah 15 tahun menjadi petugas pemadam kebakaran.

"Sebelum di sini, saya bertugas di Cakung," katanya.

Pria yang pernah menjadi anggota Satpol PP dari tahun 2000 sampai 2002 ini mengatakan, "Menjadi petugas pemadam kebakaran itu adalah panggilan jiwa, pekerjaan yang mulia."

Ia berusia 42 tahun. Sejak awal sudah siap menerima risiko. Bukan takut, ia malah bangga karena bisa membantu dan menyelamatkan warga yang kesulitan. Ia sering mengevakuasi warga.

"Alhamdulillah, selama belasan tahun ini saya tidak pernah mengalami luka-luka karena saya mengutamakan keselamatan diri, menggunakan alat pelindung diri," ujarnya.

Plider Simanulang, 57 Tahun

Pemadam KebakaranPlider Simanulang. (Foto: Tagar/Moh Irkhamni)

Berbaju biru, berbadan tegap, lengkap dengan seragam, terkesan gagah. Plider Simanulang Kepala Seksi Sektor Jatinegara (KSSJ). Ia duduk santai di kursi berwarna cokelat, tak jauh dari tempat duduknya terdapat mobil berwarna merah yang siap meluncur kapan saja.

Dengan jabatannya ia tahu apa yang harus dilakukan. "Setiap pagi kami memberi pelatihan kepada petugas pemadam kebakaran, dan juga pelatihan fisik," kata Plider.

Ia mengatakan saat ini apa pun masalah terkait penyelamatan, warga pasti akan menelepon kantor pemadam kebakaran.

"Ada kucing tercebur ke kolam, ada sarang tawon, ada ular, pasti akan menelepon kami," katanya. 

Sarang tawon yang dilaporkan warga biasanya sudah berukuran besar, hingga berukuran helm dewasa, cerita Plider.

Ia sering mendatangi kawasan padat penduduk untuk memberikan pengertian kepada warga. 

"Mensosialisasikan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap sekitar. Menganjurkan penggunaan kabel yang tebal. Agar tabung gas yang berkarat segera diganti," kata Plider.

Sebelum sampai posisi terkini, Plider pernah merasakan menjadi petugas pemadam kebakaran di lapangan.

"Menjadi petugas pemadam kebakaran, kami harus siap kapan pun dibutuhkan masyarakat. Pas enak-enaknya beristirahat sama keluarga, dapat telepon ya kami harus berangkat," katanya. []

Tulisan feature lain: