Jeneponto - Setelah melintasi perbatasan Kabupaten Takalar menuju Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya setelah melewati Pasar Allu Pacceleng, Kecamatan Bangkala anda akan menemukan sejumlah penjual kuliner Lemang Bambu atau dalam bahasa lokal biasa disebut Lammang.

Terdapat puluhan kios yang berjejeran sepanjang 100 meter menawarkan Lemang Bambu yang masih panas atau masih sementara dibakar dengan api yang membara. Lemang Bambu yang di jual di Jeneponto ini juga sudah menjadi ciri khas sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman atau dibawa kembali pulang ke kota perantauan.

Lemang Bambu yang dijual di Allu Pacceleng ini tidak pernah kehabisan stok untuk dijajakan kepada para pelanggan yang singgah hanya untuk sekadar menyantap langsung ataupun dibawah pulang.

Baca juga: Oleh-Oleh Mochi Semarang, Camilan Libur Lebaran

Saat melintas di depan tempat penjualan Lemang Bambu ini, maka sejumlah penjual akan megisyaratkan bagi pengendara untuk singgah membeli Lemang Bambu dengan mengucapkan kata sengkaki’ nganre’ Lemang atau mari singgah makan Lemang Bambu.

JenapontoMenikmati Lemang Bambu akan lebih enak jika disandingkan dengan telur asin. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Salah seorang pelanggan bernama Santi yang ditemui Tagar dilokasi penjualan Lemang Bambu mengatakan sudah sekian lama telah menjadi pelanggan setia, dan setiap kali melintasi daerah ini tidak pernah lupa mampir untuk kembali mengigat rasanya.

“Salah satu makanan yang wajib di coba saat pulang atau dari kampung halaman adalah singgah memakan Lemang Bambu panas yang baru dikeluarkan dari bambunya ketika baru dipesan,” ujar Santi sembari menikmati Lemang Bambu ditangannya.

Menurut wanita yang bekerja sebagai pegawai swasta di Kota Makassar ini, untuk menikmati Lemang Bambu yang khas ini akan lebih nikmat jika dimakan saat masih hangat-hangat dengan tambahan telur asin yang sudah disediakan oleh pemilik warung.

Baca juga: Dodol Khas Indonesia, Asyik Buat Oleh-oleh Lebaran

“Kalau hanya makan Lemangnya saja itu rasanya sudah enak, tapi kalau ditambah lagi dengan telur asin rasa nikmatnya jauh lebih terasa. Perpaduan rasa santan dan asin dari telur itu sangat nikmat,” ujar Santi menggambarkan kenikmatan menikmati Lemang Bambu khas Jeneponto.

Di lokasi penjualan Lemang Bambu, pemilik kedai selalu menyajikan Lemang yang baru dibakar, kalaupun ada yang sudah dibakar tapi belum laku akan dipanaskan kembali saat akan ada pelanggan yang ingin membeli.

Saat berada di area ini juga, pengunjung akan merasakan hawa panas yang ditimbulkan akibat suhu panas dari bara api dan juga ganguan asap yang bisa membuat peri mata, tidak hanya bagi pelanggan, namun juga bagi para pengendara yang lewat.

Maka tidak heran, jika saat arus mudik lebaran kondisi jalan di tempat penjualan lemang bambu ini kondisinya akan padat, sebab banyak kendaraan yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan.

Beromzet Hingga Puluhan Juta

Penjualan Lemang Bambu ini juga membuat warga yang berjualan mendapatkan rejeki yang melimpah, jika di hari-hari biasa atau akhir pekan di bulan selain musim mudik hanya bisa mendapatkan omset hingga belasan juta, pada musim mudik bisa mendapatkan omset hingga puluhan juta.

Salah seorang warga yang telah menjajakan Lemang Bambu selama belasan tahun, Saenab mengakui banyak keuntungan yang bisa diraih khususnya pada musim lebaran.

Baca juga: Bika Ambon Oleh-oleh Khas Medan, Apa Alasannya?

“Kalau diakhir pekan pada bulan biasa, kadang omzet mencapai hingga belasan juta. Tapi kalau masuk musim mudik Lebaran seperti saat ini bisa sampai puluhan juta omzet yang didapatkan,” kata wanita yang berusia 42 tahun ini.

Wanita yang telah berjualan Lemang sejak belasan tahun lalu ini mengakui menjalankan usahanya tidak hanya sendiri, tapi mendapat bantuan dari tetangganya yang kemudian ia rekrut sebagai karyawan untuk memudahkan dan menyiapkan stok yang akan dijual kepada pelanggan.

JenepontoSuasana pembakaran Lemang Bambu yang dilakukan oleh sejumlah karyawan kedai penjualan Lemang Bambu di Kabupaten Jeneponto Sulsel. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Dengan banyaknya pelanggan yang dimilikinya, Saenab dalam seharinya mengakui selalu menyiapkan sebanyak 500 liter beras ketan hitam dan putih. Dan pada saat musim mudik Lebaran jumlah stok beras ketan akan meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan.

“Dalam sehari, dengan dibantu oleh puluhan karyawannya mampu menyiapkan ribuan Lemang Bambu untuk disiapkan kepada para pelanggan setia,” ujar wanita yang terkenal memiliki banyak kios penjualan lemang bambu ini.

Lemang Bambu selain menjadi makanan khas bagi pemudik yang melintas di Kabupaten Jeneponto juga menjadi salah satu kuliner khas Idul Fitri di Sulawesi Selatan.

Cara Membuat Lemang Bambu

Dalam membuat Lemang Bambu khas Sulsel, cukup menyediakan bahan pokoknya yang sangat mudah didapatkan di pasar tradisional. Diantaranya beras ketan putih atau juga bisa ketan warna hitam.

Selain beras ketan, bahan lain yang dibutuhkan dalam pembuatan Lemang Bambu adalah santan, kelapa, garam, kerat buluh bambu yang panjangnya disesuaikan serta daun pisang.

Langkah awal, beras ketan yang biasanya disediakan sebanyak 1 kg dicuci bersih terlebih dahulu dan direndam kurang lebih 2 jam.

Setelah itu, beras ketan tersebut dimasukkan ke dalam buluh bambu yang telah diberi alas daun pisang. Jangan lupa beras ketan terlebih dahulu dicampurkan dengan santan kelapa yang kental beserta garam secukupnya.

Setelah seluruh beras ketan sudah dimasukkan ke dalam buluh bambu yang diberi alas daun pisang, langkah berikutnya memasuki proses pembakaran. Agar matangnya alami, sebaiknya sediakan pembakaran alami menggunakan batang kayu.

Waktu lama pembakarannya pun cukup sekitar 3 jam tergantung dari panasnya bara api. Setelah Lemang Bambu diperkirakan sudah matang, jangan buru-buru mengeluarkannya dari dalam bambu.

Tapi biarkan dulu bambu dingin. Setelah itu silahkan keluarkan lemangnya dan potong sesuai selera.

Jika tidak ingin repot untuk membuat sendiri, bisa langsung datang ke Jeneponto untuk menikmati rasa khasnya, juga jangan lupa padukan dengan telur asin. []

Baca juga: Mudik Lebaran ke Semarang, Beli Oleh-oleh di Sini