Air matanya menetes deras, tanda hatinya begitu sedih. Tepatnya sedih bercampur lega dan bersyukur, karena anak kecil yang ditangisi atas kepergiannya kini sudah "bebas'.

"Rafa sekarang sudah senang dan bahagia di surga. Tidak lagi merasakan sakitnya tusukan jarum. Sudah tidak lagi  kesakitan sepanjang hari," ujar Ibu Verra Jonathan Karuntu kepadaku setelah memberi kabar duka akan kepergian anak itu.

Rafa adalah anak berusia dua tahun dari Lampung, yang sudah harus menjalani proses cuci darah. Beberapa hari sebelumnya, ia dirawat di RSCM, akan dilakukan operasi pengambilan ginjalnya.

Hatiku selalu tersentuh bila melihat orang sakit. Apalagi kalau dia begitu menderita, jauh dari sanak keluarga

Ibu Verra sendiri bukan siapa-siapanya Rafa. Saudara juga bukan, baru kenal lewat Facebook ketika kisahnya sering aku tulis. Pertemuan pertama dengannya saat membezuk, sudah membuat ibu itu jatuh hati. Berkali-kali anak itu dibezuk, bahkan diantarnya sampai  ke ruang operasi, walau akhirnya dibatalkan karena kondisi sang bocah sedang kepayahan.

Sosok Ibu Verra Jonatan Karuntu ini memang unik dan langka. Jarang aku menemui sosok yang begitu mencintai apa yang ia kerjakan,  membezuk pasien yang dia tidak kenal. Hanya berbekal info dari Facebook sudah bisa menggerakkan hati dan kakinya untuk menghibur si pasien di rumah sakit.

Sosoknya mengingatkan ku kepada Ibu Ade Rostina Sitompul. Seorang ibu dengan rasa kasih sayang yang tulus,  bertahun-tahun mengunjungi tahanan politik dan narapidana politik yang dipenjarakan oleh Orde Baru.

Baca Juga: Kekuatan Cinta Eva Saulina Donorkan Ginjal untuk Suami

Dia rutin mengunjungi para tahanan yang idiologinya berbeda-beda itu di penjara. Tidak itu saja, Bu Ade bersedia menjadi tempat mengeluh dan meminta bantuan. Dia dengan senang hati melakukan hal itu. Ia lakukan bertahun-tahun lamanya. "Saya melakukan ini karena kemanusiaan," ujarnya kepadaku.

Atas pengabdiannya yang luar biasa itu, pada Tahun 1996, Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia menganugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award" kepadanya. Sebuah penghargaan yang diberikan  kepada sosok yang  dengan teguh berjuang  menegakkan hak asasi manusia.

Ketika kutanya sejak kapan Bu Verra melakukan kegiatan sosial itu? Dia menjawab sejak tahun 90-an. “Hatiku selalu tersentuh bila melihat orang sakit. Apalagi kalau dia begitu menderita, jauh dari sanak keluarga,” ungkapnya.

Ibu Verra dilahirkan di Manado pada tahun 1965. Tahun 1980 ia pindah ke Jakarta. Suaminya bernama Glady Jonathan. Mereka berdua dikaruniai tiga anak.

Aku kagum kepada pribadinya yang begitu welas asih kepada sesamanya, yang sedang membutuhkan uluran tangan orang lain. Ia lakukan seorang diri. Ibu Verra tidak mengatasnamakan organisasi apapun. Ketika melihat penderitaan dorongan hatinya untuk menolong begitu kuat dan tidak bisa ditahan.

Banyak temannya memberi kabar kalau ada orang sakit dan meminta Ibu Verra untuk menengoknya. Sang pasien datang dari luar Jakarta dan tidak ada sana famili di sini.

Dengan senang hati ibu Vera akan mencari info di ruang apa si pasien dirawat. Bila sudah ketemu dia akan bergegas ke sana.

Kutanya apa yang dilakukannya di sana. Aku cukup tercengang, ibu Vera tidak hanya datang tapi juga menghibur. Bahkan menolong membersihkan muntahan pasien tatkala keluarga yang menunggu tak mampu melakukannya.

"Dalam tas ku ada tisu, minyak angin, tas plastik untuk muntah, tutup hidung dan sarung tangan. Sering pasien menangis di hadapanku dan aku sudah siap dengan tisu," ujarnya dengan tawa kecilnya.

Menurutnya, bila si pasien seiman diajaknya berdoa. Kalau berlainan agama ia akan ajak bergembira. "Aku tak pernah bertanya apa penyakitnya. Aku tak pernah mengajak bicara tentang penyakitnya. Aku hanya ingin mengajak bergembira dan tertawa. Memberi semangat agar pasien punya kekuatan," ujarnya berapi-api.

Kedatangan pertama hanya membawa buah tangan seadanya. Ketika sudah bertemu, ibu Verra akan menanyakan si pasien mau dibawakan apa saja. "Aku berusaha memenuhi keinginan mereka. Dan aku sangat senang bila mampu mewujudkan permintaan mereka."

Yang ini menambah aku berdecak kagum. Aku pernah ke rumahnya di Depok. Rumahnya besar, halaman  lebih tepat disebut kebun, lumayan luas bagi orang yang tinggal di Kota Depok. Tapi juga tidak bisa dibilang Ibu Verra ini orang super kaya dan  berlebihan uang.

"Suamiku sudah pensiun dari Perusahaan Astra. Tapi kami tak pernah kuatir akan datangnya rezeki. Tuhan selalu buka jalan berkat buatku. Datangnya bisa dari mana saja," ucapnya dengan syahdu.

Kata perempuan penggila bercocok tanam buah dan bunga ini, suaminya sangat suport. Selain membantu keuangan dia juga selalu siap sedia antar ke rumah sakit.

"Tapi aku lebih suka naik kereta sendirian  kemanapun aku pergi," ujar ibu yang masih terlihat bugar ini.

Selain menghibur dan menolong orang sakit, ibu Verra rutin mengunjungi orang jompo di tiga panti. Bersama mereka ibu Verra bisa bernyanyi dan menari. Sering juga ia membawa alat peraga agar bisa mendongeng.

Para orang tua yang sudah  jompo itu  tentu saja terharu. Terkadang mereka memberi uang kepada ibu Verra. Ibu Verra selalu menolaknya dengan halus.

"Saya menolong mereka bukan mencari uang tapi mencari kebahagian diri. Karena Tuhan sudah beri kelimpahan kepada saya,  saya salurkan lagi kepada orang yang membutuhkaan uluran tanganku,” ujarnya dengan serius.

Kebahagian Ibu Verra bertambah kalau sang pasien menjadi lebih baik lagi. Katanya, suatu ketika dia mengunjungi anak remaja dari Gorontalo yang dirawat di rumah sakit di DKI. Ketika foto bersamanya diunggah ke Facebook, saudara-saudara mereka yang di Jakarta membacanya. Keesokan harinya mereka membezuk anak itu.

Hanya tangis bahagia menyelimuti ibu Verra menyaksikan kebahagian anak itu.

Baginya, ia ingin hidup seperti orang Samaria yang baik hati. Seperti diceritakan dalam Alkitab. Walau ia dibenci oleh bangsa Yahudi dia tetap menolong orang Yahudi ketika benar-benar membutuhkan pertolongan.

Verra Jonatan KaruntuVerra Jonatan Karuntu saat menghibur para lansia di panti jompo (Foto: Petrus Hariyanto/Istimewa)

Dalam menolong, Ibu Verra tidak memandang suku, agama, status sosial. “Para pasien yang saya kunjungi dan saya tolong lintas agama. Bagi saya  semua mahkluk hidup sama di hadapan Tuhan,” jelasnya.

Ia ingin sepeti embun Gunung Hermon yang turun atas Gunung-Gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan, kehidupan untuk selamanya.

Baginya, bila sesama umat manusia tercipta kerukunan, berbagai berkat akan mengalir ke tempat yang jauh. Ia ingin berperan turut menciptakan dan menjaga keindahan dan kerukunan umat manusia di hadapan Tuhan.

Kini kesibukan sosialnya bertambah, Ia menjadi Pengurus KPCDI (Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia)  Cabang Depok. Ia rajin menghadiri kopi darat yang diselenggarakan  KPCDI. Sudah mengunjungi beberapa pasien cuci darah, di sana dia mengalirkan berkat.

Sungguh sebuah sosok yang dinantikan banyak pasien. Karena kita melihat diberbagai daerah masih banyak pasien yang kurang mendapat perhatian dari keluarga. Bahkan,  terkadang  dia terbuang dari keluarga karena mengindap penyakit seumur hidupnya. Mereka butuh uluran tangan, tidak hanya melalui medis tetapi lewat sentuhan tangan-tangan yang hatinya lembut, penuh dengan berkat. []

Oleh: Petrus Hariyanto (Sekjen KPCDI)