Jakarta, (Tagar 10/7/2018) - Mantan ibu negara Ani Yudhoyono kembali meluncurkan sebuah buku. Kali ini berjudul Ani Yudhoyono, 10 Tahun Perjalanan Hati. Buku yang bercerita tentang pengalamannya mendampingi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono selama dua periode.

Sehari usai peluncuran buku tersebut, Ani mengunggah sebuah foto dalam akun Instagram miliknya. Dalam foto unggahan tersebut Ani didampingi SBY, dua anaknya, menantu, dan cucu. Mereka mengenakan seragam batik biru kompak. Masing-masing memamerkan buku terbaru Ani ke arah kamera.

Ani mengucap syukur dan terima kasih atas terlaksananya peluncuran bukunya dalam keterangan foto tersebut. Ia berharap, bukunya mampu menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin menjadi atau ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan Ibu Negara.

Hingga Senin (9/7) sore, unggahan tersebut telah di-like oleh 29 ribu lebih pengguna Instagram. Beberapa di antaranya turut meninggalkan komentar untuk Ani.

"Selamat Bu @aniyudhoyono, semoga selalu menginspirasi seluruh wanita di Indonesia maupun di luar negeri," tulis pemilik akun @meimelisaf.

"Sukses selalu buat ibu... semoga bapak dan ibu selalu diberikan kesehatan dan kemudahan... aamiin,” ungkap pemilik akun lainnya," @diantjatjo.

"Ibu, saya kok nggak diundang padahal followers setia lho," celoteh akun @yunitahanindyawati.

Di laman Facebooknya, Ani menulis:

"Ketika mengingat waktu pertama kali saya mengemban amanah sebagai Ibu Negara, sama sekali tidak ada bayangan dalam benak dan pikiran saya tentang tugas serta apa yang harus saya kerjakan guna menyukseskan kerja suami saya ketika ia menjadi Presiden ke-6 RI.

Saya bertanya pada Staf Kepresidenan, "Sebetulnya apa, sih, tugas dan tanggung jawab seorang Ibu Negara?" Jawaban yang saya terima adalah, " Tidak ada, Bu. Yang tertulis hanya Ibu Negara Mendampingi tugas Presiden baik di dalam maupun di luar negeri". Hanya itu? Pikir saya. Saya tetap penasaran. Saya cari tahu ke Sekretariat Presiden, mungkin masih ada berkas-berkas dari para Ibu Negara yang mendahului saya. Ternyata tidak ada juga. Sampai sekarang pun kita tidak pernah mendengar ada 'Sekolah Khusus untuk Ibu Negara'.

Akhirnya saya tanya pada Bapak SBY. Beliau berkata, 'Lakukan apa saja yang dianggap positif dan inspiratif di dunia kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan budaya. Tidak boleh berbisnis dan berpolitik praktis.' Rambu-rambu dari Bapak SBY sebagai partner, sekaligus yang saya dampingi dalam memimpin negara ini tentu saya patuhi. Kumpulan cerita masa lalu tentang apa yang saya lakukan, suka-duka, kritik-fitnah yang pernah saya hadapi, saya tuangkan ke dalam buku ini."

Seorang netizen bernama Hasanuddin berkata apakah ada jabatan bernama Ibu Negara. 

Perempuan bernama asli Kristiani Herrawati ini sebelumnya meluncurkan sebuah buku berjudul Kepak Sayap Putri Prajurit pada 2010. 

Terlihat selalu ingin eksis meski masa pemerintahan SBY telah berakhir sejak empat tahun lalu, sindrom apakah yang melekat pada Ibu Negara Indonesia ke-6 ini?

Saat dikonfirmasi, Psikolog Kasandra Putranto mengatakan tak ada sindrom atas tingkah laku yang dilakukan Ani, apalagi jika disangkut-pautkan dengan Sindrom Queen Bee. Kasandra justru menanggapi positif peluncuran buku tersebut.

Sindrom Queen Bee tanda-tandanya di antaranya adalah selalu tampak ingin seperti ratu, menjadi pusat perhatian, merasa paling hebat.

"Dalam psikologi klinis nggak ada istilah Queen Bee Syndrome. Bagus kan sudah pensiun masih bikin buku. Kita tekankan pada prestasi dan itikad baik memberikan informasi kepada negeri," ungkapnya kepada Tagar News, Senin (9/7).

Walaupun demikian, Kasandra menilai tak menutup kemungkinan jika ada indikasi lain soal kesempatan berkampanye dan persuasi.

"Bahwa ada indikasi lain soal kesempatan kampanye dan persuasi bisa jadi. Semakin banyak data semakin baik untuk bangsa kita menjadi lebih paham dan bisa mengambil pilihan," jelasnya.

Senada dengan Kasandra, Psikolog Astrid Novianti mengatakan tidak ada sindrom tertentu yang dialami Ani. Astrid menilai merupakan kelaziman jika Ani membuat sebuah buku biografi.

"Tidak ada sindrom tertentu sih, karena kan menulis biografi sendiri juga lazim, namanya autobiografi," pungkasnya saat diwawancarai Tagar.

Pengalaman Langka

Di Jakarta, Minggu (8/7) Ani Yudhoyono meluncurkan buku Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati

Dalam kesempatan itu ia mengatakan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjabat memberi rambu-rambu agar ibu negara tidak berpolitik praktis.

"Tidak boleh berpolitik praktis. Saya tidak boleh hanya mementingkan parpol di mana Pak SBY berada," ujar Ani, dilansir Antara.

Untuk itu, saat mulai menjadi ibu negara, Ani Yudhoyono mengundurkan diri dari posisi sebagai wakil ketua umum Partai Demokrat yang sudah diembannya selama 2,5 tahun.
Selain tidak berpolitik praktis, rambu-rambu dari SBY kepadanya saat itu adalah untuk tidak berkecimpung dalam bisnis karena akan menyita waktu dan perhatian.

Selain itu, SBY juga mendukungnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap positif, inspiratif dan bermanfaat.

Ani Yudhoyono menekankan tugas paling utama sebagai seorang ibu negara adalah berada di samping presiden untuk memberikan semangat serta dukungan moril dan membantu memelihara kondisi presiden setiap hari.

"Saya total menjalankan tugas sebagai ibu negara saat itu," kata Ani Yudhoyono.
Dalam buku itu, perempuan yang baru saja berulang tahun ke-66 itu membeberkan hal-hal penuh gejolak dan emosi yang dilalui sehingga membutuhkan kekuatan fisik dan batin selama bekerja dalam buku setebal 539 halaman.

"Menjadi pembelajaran hidup luar biasa dan mendapat pengalaman luar biasa karena tidak semua perempuan Indonesia bisa memperolehnya," ujarnya.

Pernah menjalankan peran sebagai ibu negara yang hanya dijabat satu orang perempuan dalam satu masa tertentu, disampaikannya sangat disyukurinya.

Ani Yudhoyono pun merasa pengalaman tersebut harus dibagikan kepada sahabat, kerabat dan rakyat Indonesia dalam sebuah buku.

"Saya ceritakan pengalaman kepada Agus, Ibas, Annisa dan Aliya. Mereka antusias mendengarkan cerita saya. Mengapa tidak pengalaman langka saya bagikan pada rakyat Indonesia," ucap Ani Yudhoyono.

Apalagi ia teringat saat awal menjadi ibu negara dan mencari panduan, tidak satu pun menemukan buku mengenai pengalaman ibu negara untuk dibaca dan dipelajari.

Selanjutnya, ia berbincang dengan suami, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta putra-putranya dan menyampaikan keinginannya menuangkan pengalaman selama mendampingi SBY dalam sebuah buku. Keluarga mendukung keinginannya tersebut.

Ani Yudhoyono mengaku cukup lama menyusun buku berhalaman 539 dan diterbitkan Gramedia itu karena menemui banyak kendala, seperti kesibukan penulis Alberthiene Endah serta dirinya.

Selain kisah perjalanan mendampingi SBY, buku tersebut juga berisi foto-foto sehingga menurut dia tidak membosankan untuk dibaca meski cukup tebal.

"Meski cukup tebal tidak membosankan untuk dibaca, selain bahasa enak, cerita menarik dan penuh dokumentasi," ucap dia.

Dalam kesempatan tersebut, SBY mengatakan buku tersebut merupakan buku yang baik untuk dibagikan karena berisi perjalanan hati selama mendampinginya.

Ia membenarkan apa yang disampaikan oleh istrinya mengenai rambu-rambu yang diberikannya serta mendukung istrinya merumuskan sendiri hal yang paling baik dan relevan.

"Saya katakan yang penting jangan bisnis dan politik praktis. Paguyuban istri para menteri dan wakil menteri, jajaran kabinet dari berbagai kalangan dan parpol banyak, maka tolong dipastikan bebas politik praktis," ucap SBY. 

SBY mengatakan dalam suka dan duka ibu negara dan presiden harus dapat saling menguatkan, apalagi dukungan moril dari ibu negara merupakan hal penting.

Ia pun membagikan resep menjalani pernikahan harmonis yang dibangunnya sejak 1976 itu, yakni dengan cinta, kepedulian dan saling berbagi.

Saat berbagi resep tersebut, ia menggoda para tamu yang menghadiri acara itu dan memberikan wejangan.

"Dalam ruangan ini saya lihat banyak capres potensial dan cawapres potensial. Jika nanti ditakdirkan memimpin Indonesia, antara presiden dan ibu negara harus saling memperkuatkan," ucap dia.

Ia berencana membuat memoar tentang pengalaman menjadi orang nomor satu di Indonesia untuk diluncurkan tahun depan saat genap berusia 70 tahun.

"Yang jelas Ibu Ani meluncurkan buku kedua, menantang saya. Bahasa menantang kalau diperhalus menginspirasi untuk menerbitkan buku yang kurang lebih sama," tutur nya.

Menurut SBY, biasanya mantan presiden atau perdana menteri menulis memoar atau biografi setelah dua hingga tiga tahun lengser dari posisinya.

Sementara dirinya sudah lebih dari empat tahun sejak meninggalkan pemerintahan sehingga dinilainya sekarang saat yang tepat mulai membuat memoar.

"Tahun depan tepat usia saya 70 tahun saya ingin mempersembahkan biografi atau memoar kepada para sahabat dan rakyat Indonesia," kata SBY.

Ada pun terkait buku biografi istrinya, ia memberikan komentar, yakni untuk judul Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati sesungguhnya tidak hanya menunjukkan perjalanan hati, melainkan juga pikiran dan tindakan selama menjadi ibu negara.

Selanjutnya, dalam memulai tugas sebagai ibu negara, Ani Yudhoyono mencari tahu peran dan tugasnya, tetapi tidak menemukan satu sumber pun yang menentukan tugas dan peran ibu negara.

SBY sepakat pada hal itu karena memang tidak ada undang-undang yang mengatur peran dan tugas ibu negara, berbeda dengan presiden yang jelas merujuk konstitusi, undang-undang dan konvensi yang berlaku.

Ia berharap buku tersebut akan memberikan gambaran mengenai peran seorang ibu negara yang hingga kini tidak didefinisikan dalam berbagai sumber.

Peluncuran buku tersebut dihadiri sejumlah mantan menteri yang dulu turut membantunya saat memimpin pemerintahan, di antaranya adalah Hatta Rajasa, Mari Elka Pangestu, Marty Natalegawa dan Fadel Muhammad. (sas/af)