Semarang, (Tagar 6/12/2018) - Marie Claire Lintang Coffin (57) anak sulung NH Dini, tangisnya pecah di aula Santa Ana, Wisma Lansia Harapan Asri, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Rabu (5/12). Ia memeluk seorang nenek yang duduk di kursi roda tak jauh dari peti jenazah ibunya.

Ia bersimpuh dan sungkem di kaki nenek yang masih kerabat dekat ibunya itu. Tangis, peluk dan rasa hormat di antara mereka tidak bisa memungkiri kedekatan keduanya. Sejenak berbincang, Lintang lantas kembali memeluk dan mencium pipi nenek.

Tak lama, Lintang yang berwajah bule mendekat ke peti jenazah NH Dini di tengah Santa Ana. Berdiri di pinggir peti jenazah dan menatap dalam wajah sang ibu. Air matanya kembali menetes di pipi. Tangan disatukan, mulut pun menyeru doa. Sesekali Lintang menyeka air mata. Mengenakan kaca mata hitam, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa kerinduan yang membuncah terhadap sang ibu.

Lama tak sua karena selama ini Lintang tinggal di luar negeri dan hari itu mereka dipertemukan dalam momen perpisahan. Ini lah kesedihan yang sontak menyergap segenap pelayat yang hadir dan menyaksikan pemandangan tersebut.

Empat hari lalu, NH Dini dan Lintang sebenarnya bertemu di Bandung, Jawa Barat. Tentunya waktu singkat pertemuan belum bisa memupus segenap rindu di antara ibu dan anak itu.

Lintang diketahui tinggal dan bekerja di Kanada. Selama puluhan tahun menetap di perantauan jelas membuatnya jarang bertemu dengan bunda. Kebetulan ia mendapat tugas ke Indonesia belum lama ini sehingga momen itu digunakan mengontak NH Dini dan keduanya lantas bertemu di Bandung.

"Saat bertemu dia terlihat cantik. Saya tak ada firasat, hanya Ibu bercerita masih bekerja membuat tulisan sampai tengah malam," ujar Lintang lirih.

Lintang lahir tahun 1961 buah perkawinan NH Dini dengan Yves Coffin, seorang Konsulat asal Perancis. Sang adik, Pierre Louis Padang Coffin adalah sutradara film Despicable Me: The Minions, lahir pada tahun 1967 dan menetap di Perancis.

Lintang berbeda dengan sang adik maupun ibu yang lebih menjadi seniman dan sastrawan. Lintang cenderung menyukai dunia pendidikan.

Menjadi guru memang bukan profesi awal yang ditekuni Lintang. Ia sempat meniti karier sebagai hubungan masyarakat di sebuah kantor swasta di Perancis. Kemudian alih profesi menjadi wartawan di majalah ekonomi harian The Windsor Star di Toronto.

Saat menekuni dunia jurnalis ini lah kemampuan mengajar muncul begitu saja. Ia menjadi pengajar di international school dan dosen tidak tetap selama 10 tahun di University of Windsor di Ontario, Kanada.

Lintang berpredikat PhD di bidang komunikasi dan media dari Wayne State University di Detroit, Amerika Serikat. Ia memiliki dua putra dari pernikahannya dengan Jessie Simonetti, yaitu Gabriel (24) dan Sebastien (21).

Lintang bercerita, adiknya Pierre Coffin, sebenarnya juga berkeinginan melihat dari dekat wajah sang ibu sebelum diperabukan. Sayang Tuhan berkehendak lain. Adiknya itu tidak mendapat tiket pesawat dari tempat tinggalnya di Perancis yang bisa membuatnya tepat waktu tiba di Semarang.  

"Saudara saya tidak bisa datang menyaksikan pemakaman ini karena dia tidak dapat penerbangan hari ini. Kami akhirnya diskusi, saya datang duluan. Intinya kami sama-sama mendoakan ibu," kata dia.

Terkait karya-karya NH Dini, Lintang lebih menyerahkan ke pihak-pihak yang selama ini mengelola. Ia hanya berharap tulisan ibunya bisa bermanfaat untuk siapa pun yang membutuhkan. "Ada yang tersimpan di Museum HB Yasin di Jakarta, ada juga di Balai Kepustakaan di Semarang," tuturnya. []