Jakarta, (Tagar 3/1/2019) - Jokowi sejak dilantik menjadi Presiden RI tanggal 20 Oktober 2014 hingga sekarang, setidaknya telah mengunjungi 400 kota dan kabupaten di 34 Provinsi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Jokowi saat menghadiri acara Peringatan Haul Syekh Abdul Qodir Jaelani di Jombang.

“Saya, 34 provinsi saya datangi, 400 kabupaten dan kota sudah saya datangi," kata Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren Darul Ulum di Peterongan Jombang, Jawa Timur, Selasa, 18 Desember 2018.

Baca juga: Presiden Harus Strong, Jangan Sakit-sakitan

Di hadapan jamaah, para kiai dan santri, Presiden menceritakan pengalamannya terbang dari Aceh ke Wamena selama sembilan jam 15 menit naik pesawat.

"Ini jauh sekali, seperti terbang dari London sampai Istanbul melewati tujuh negara, artinya negara kita negara besar sekali. Oleh sebab itu saya ajak semuanya untuk menjaga persatuan dan kerukunan kita," katanya saat itu.

Selain 400 kota dan kabupaten di 34 provinsi Indonesia, Jokowi juga tercatat telah melawat ke 34 negara dalam rangka kunjungan kerja.

Baca juga: Kenapa Jokowi Tidak Pernah Sakit?

Pasca dilantik menjadi Presiden ketujuh RI, Jokowi mengawali kunjungan kerja ke luar negeri pertamanya ke tiga negara sekaligus. 

Kunjungan tersebut dilakukan sepanjang 8-16 November 2014, ke Tiongkok, Myanmar dan Australia. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menghadiri konferensi APEC di Beijing, KTT ASEAN di Nay Pyi Taw, dan KTT G20 di Brisbane.

Tahun berikutnya, kunjungan kenegaraan Jokowi berlangsung dalam beberapa fase. Pertama dilakukan sepanjang 5-10 Februari 2015, rangkaian lawatan tersebut juga dilakukan dengan mengunjungi 3 negara sekaligus. Kali ini, negara-negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Brunei dan Filipina, dikunjungi secara berurutan.

Fase kedua pada tanggal 22-29 Maret 2015, ke Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Fase ketiga pada 26-27 April, Jokowi kembali ke Malaysia.

Berikutnya, Jokowi menuju Papua Nugini pada 11-12 Mei, Singapura pada 28-29 Juli, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar di sepanjang 11-15 September, Amerika Serikat pada 25-28 Oktober, Turki pada 15-16 November dan Perancis di 30 November sampai dengan 2 Desember 2015.

Sepanjang tahun 2016, Jokowi mengunjungi Timor Leste, Amerika Serikat, Jerman, Britania Raya, Belgia, Belanda, Korea Selatan, Rusia, Jepang, Tiongkok, Laos, India,dan Iran. 

Sementara pada tahun 2017, Joko Widodo mengunjungi Australia, Filipina, Hongkong, Tiongkok, Arab Saudi, Turki (Ankara), Jerman, Singapura, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan kembali ke Turki (Istanbul).

Pada tahun 2018 Jokowi melakukan perjalanan ke sepuluh negara, yaitu Srilanka, India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan, Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam.

Secara keseluruhan, sepanjang menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo telah melakukan sebanyak 54 perjalanan ke luar negeri dalam berbagai agenda kenegaraan, ke sebanyak 34 negara.

Pengamat Politik sekaligus Akademisi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando, mengaku terkejut dengan jumlah kunjungan kerja dan kunjungan kenegaraan Jokowi. Ade mengaku salut dengan pencapaian tersebut.

Ade Armando meyakini Presiden Joko Widodo, dibantu oleh staf  telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, termasuk dalam hal menjaga fisik dan kesehatan presiden berusia 57 tahun tersebut.

“Saya salut ya. Saya bahkan baru tahu Presiden Jokowi sudah melakukan kunjungan-kunjungan itu. Dahsyat sekali," tutur Ade Armando kepada Tagar News, Jumat malam (1/2).

"Saya pikir, kesiapan fisik sudah pasti dipersiapkan ya. Entah itu exercise, suplemen dari kedokteran dan kalau saya melihatnya, Jokowi ini kan selalu positif ya orangnya. Yaa tiga kombinasi itu barangkali yang membuat fisiknya selalu prima," imbuh Ade.

Secara umum, Ade Armando juga mengaku puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo sepanjang menjabat sejak tahun 2014 lalu. Prestasi dan hasil kerja Presiden ke-7 itu disebut Ade terlihat nyata dan menciptakan banyak perubahan.

Ade juga memuji stamina yang dimiliki Jokowi. Menurutnya, sudah sewajarnya bagi seorang pemimpin negara memiliki kesiapan fisik yang sedemikian baik.

"Jokowi kan memang ingin menjadi milik semua rakyat Indonesia ya. Dia punya kontribusi besar bagi pembangunan Papua dan lain sebagainya. Bukan berarti Presiden terdahulu tidak memberikan perhatian, tapi kadarnya ini yang luar biasa. Kalau saya nilai, Jokowi ini nilainya A ya," ucap Ade.

“Yaa memang harus memiliki kesiapan fisik yang baik. Apalagi Pak Jokowi ini kan sudah 57 tahun kan. Memang yang seperti itu yang seharusnya memimpin sebuah negara,” pungkas Ade Armando. []