Jakarta - Pagi itu, di loket tiket Pelabuhan Rakyat, tampak seorang pria mengenakan sweter abu-abu sibuk mengotak-atik ponsel. Tangannya memegang tiket Kapal Expres Bahari, tujuan Waisai Raja Ampat.

“Mas, kita dengan teman-teman sudah di loket, Mas di mana?” kata Dewi yang menelpon salah satu panitia Building Capacity yang ditugaskan menunggu di loket, sembari melambaikan tangan ke arah pria pemegang tiket itu.

Dahulu, Pelabuhan Rakyat menjadi tempat penyeberangan milik Pemerintah Kota Sorong. Tempat ini menjadi akses pariwisata internasional, karena melayani penyeberangan antar pulau di lima Kabupaten dan satu Kota di Sorong, saat itu.

Kini, rute pemberangkatan dari Pelabuhan Rakyat berkurang, hanya melayani sejumlah armada dari Sorong ke Raja Ampat, Tambraw, dan Bintuni.

Di pelabuhan, bersandar rapi sejumlah armada kapal di dermaga. Sementara kapal yang ditumpangi sejumlah wartawan se-Papua Barat untuk mengikuti kegiatan Capacity Bulding Wartawan Papua Barat dari 31 Juli hingga 2 Agustus 2019 adalah kapal cepat Bahari Expres yang melayani rute Sorong – Waisai, yang sudah menjadi primadona tranportasi bagi masyarakat Raja Ampat.

Siang itu, matahari seolah malu menampakkan sinarnya. Langit terasa gelap, samar, dipenuhi awan yang pekat menghitam. Rintik hujan pun mulai membasahi atap kapal. Di luar, semilir angin bertiup kencang hingga mengombang-ambingkan kapal hingga tak beraturan.

Lama perjalanan yang di tempuh dengan kapal cepat memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan. Itu pun tergantung cuaca.

“Lagi musim selatan pak, makanya ombak kencang,” kata salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Expres Bahari yang bersandar di dinding kapal sambil memegang erat sandaran kursi agar tidak terhuyung terjangan ombak yang menghantam kapal tiada habisnya.

Resort Korpak

Raja AmpatPemandangan yang membuat betah mata di Raja Ampat. (Foto: Tagar/Dzul Ahmad).

Butuh waktu sekitar 10 menit sampai di Resort Korpak. Memasuki gerbang penginapan ini tercium menyengat aroma air laut. Pohon mangrove berdiri menjulang di sekiataran jalan tempat saya melangkah.

Korpak Resort termasuk salah satu penginapan dengan konsep kekinian. Penginapannya berdiri di atas laut (floating cottage) yang jadi incaran tiap wisatawan yang menyambangi Raja Ampat. Nyanyian merdu burung Kakatua dan burung endemik Raja Ampat sejenak menghilangkan lelah perjalanan ini.

“Sebelum ke kamar, silakan nikmati welcome drink, nanti kamarnya akan kita pandu setelah ini,” tutur karyawan resort sambil persilakan rombongan menikmati minuman dingin yang telah disajikan.

Restoran Korpak terlihat unik dan enak dipandang. Berdesign khas etnik Papua, beratapkan daun sagu (rumbia), berlantaikan kayu besi (merbau). Khusus hari itu, restoran disulap jadi tempat Capacity Building yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat. Terdapat 21 jurnalis yang diundang dari Sorong dan Manokwari.

Liburan Sembari Bekerja

Kepala Perwakilan BI Papua Barat Donny Heatubun menjelaskan, BI berkerjasama dengan Departemen Komunikasi BI mengadakan kegiatan ini dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam menjalankan tugas jurnalistik, khususnya tentang pemberitaan ekonomi.

Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Warta Ekonomi, Herianto Lingga diundang sebagai pengisi materi. Ternyata tidak hanya jalan-jalan. Kami dibekali pula dengan ilmu framework untuk menyusun penulisan berita ekonomi.

Pelaksanaan kegiatan ini segaja dipilih di Raja Ampat karena pada nantinya, jurnalis, diharapkan mampu mengangkat isu-isu pariwisata guna meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

“Kita punya kewajiban sebagai penduduk di sini untuk selalu bisa mempromosikan apa yang kita punya, kekayaan apa yang kita miliki. Kalau tangan-tangan teman wartawan sangat handal untuk melukiskan atau menuliskan segala sesuatu, silakan diambil dari sudut manapun,” ujar Herianto.

Tetapi yang jelas, lanjutnya, tulisan mengenai Raja Ampat berfokus untuk mempromosikan wisata yang ada di Papua Barat.

“Tentunya dengan bantuan Pak Lingga, kami juga mengharapkan kemampuan teman-teman untuk bisa menyampaikan atau menuliskan mengenai pariwisata di Raja Ampat atau secara keseluruhan di Propinsi Papua Barat dengan keindahan alamnya, komoditas andalannya,” tuturnya.

Kami sudah mengimbau ke warga, siapa yang temukan spesies ini akan kami beri imbalan yang besar.

Kabupaten Raja Ampat, yang diresmikan pada tahun 2003 lalu, memiliki luas wilayah 67.379,60 kilometer. Populasi penduduknya ada 62.861 jiwa.

Di sini terdapat 2.713 pulau. Raja Ampat disebut sebagai jantung pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Tidak salah rasanya apabila ada orang yang menjuluki, Raja Ampat, sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi.

“Ada istilah yang sering disebut orang banyak yang sudah berkunjung, sekaligus masyarakat. ‘Jangan mati dulu sebelum Ke Raja Ampat,” ujar Kepala Dinas Pariwisata, Yusdi Lamatenggo saat menyampaikan materi Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Raja Ampat.

Raja AmpatSaatnya berenang menyaksikan keindahan bawah laut Raja Ampat. (Foto: Tagar/Dzul Ahmad).

Raja Ampat sebagai pusat keragaman hayati laut dunia, tutur Yusdi, di sini terdapat 553 jenis karang. Menurut dia, tempat ini adalah rumah dari 70 persen jenis karang yang ada di dunia, 1456 jenis ikan karang yang paling kaya di dunia, 699 jenis molusca, lima jenis penyu, dan 16 jenis mamalia laut (Cetacea), semuanya ada di surga tropis ini.

Tahun 2018 lalu, bahkan, ditemukan spesies hewan yang sudah punah 66 juta tahun lalu di Raja Ampat. Coelacanth namanya, atau orang biasa menyebut dengan raja laut fosil hidup. Di dunia ini masih ada tersisa dua spesies yang ditemukan di Afrika dan Sulawesi. Meski masih satu famili, hewan ini masih berbeda jenis.

“Spesies ini ada perbedaan dengan yang ditemukan di Africa dan Sulawesi. Warga temukan 2 Juli 2018 kemarin dan sedang diteliti lagi. Maka itu kami sudah mengimbau ke warga, siapa yang temukan spesies ini akan kami beri imbalan yang besar,” ungkap Yusdi.

Lebih menajubkan lagi, pada tahun 2017-2018 ditemukan 57 jenis bunga anggrek yang salah satunya dinamakan anggek Dendrobium Azureum oleh Maurits Kafiar, anggota organisasi Flora dan Fauna Internasional-Indonesia Programme (FFI-IP). Jenis Anggrek itu padahal sudah dinyatakan punah 100 tahun lalu.

“Itu dia (Maurits Kafiar) yang temukan anggrek itu, makanya sampai sekarang saya tahan dia disini untuk bantu temukan hewan dan tumbuhan yang lainnya,” Kata Yusdi sambil menunjuk ke arah pria berambut gimbal ini.

Pelisiran Ke Painemo

Kenyang dengan pemaparan materi, esokan harinya, peserta Capacity Building diberi kesempatan oleh panitia untuk pelesiran ke Pulau Painemo dan Sawandarek. Setelah perut kenyang peserta berduyun-duyun kegirangan saat menapak ke dermaga speed resort. Ada tiga speedboat melarung di tepi dermaga.

“Ayo berhitung. Satu sampai dua dan dilanjutkan seterusnya,” kata Ega disambut teriakan riuh peserta. “Yang nomor satu, di speedboat merah putih dan yang kedua speedboat biru muda,” sambungnya.

Setiap kapal cepat ini ditumpangi 15 orang, beserta motorrace (pengemudi), serta dua awaknya yang masing-masing memegang peran sebagai navigator dan mengawasi mesin bagian belakang.

Kapal cepat ini terbuat dari fiberglass, dapat membelah ombak, terkadang terombang-ambing terhempas debur ombak membuat penumpang wanita histeris berteriak ketakutan. Seperti yang telah dikatakan ABK Kapal Expres Bahari, dari bulan Agustus sampai September merupakan musim selatan yang membuat angin kencang dan ombak besar.

Dua jam perjalanan sudah saya jalani, kapal ini tiba Painemo, Distrik Waigeo Barat. Mendekati dermaga, keindahan laut Painemo memancarkan keindahan isi bawah lautnya dengan gradasi kebiruan kemudian berubah menjadi hijau tosca setelah speed kian mendekati dermaga.

Painemo biasa juga disebut sebagai miniatur pulau Wayag yang lebih dulu menjadi ikon wisata Raja Ampat.

Setiba di sana, pengunjung diperlihatkan pernak-pernik khas buatan masyarakat sekitar Pulau Painemo yang sangat memikat mata. Mereka menjajakan, gelang akar bahar, minyak virgin oil coconut, kelapa muda, dan masih banyak yang lainnya.

Raja Ampat 3Saatnya untuk snorkeling. (Foto: Tagar/Dzul Ahmad).

Menurut salah satu warga, dermaga Painemo ada dua. Satu terdapat di belakang yang menjadi dermaga baru. Tempat bersandarnya kapal ini dibuat tahun 2018, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginjakkan kakinya di Painemo.

Dengan mata telanjang ia melihat langsung, saat presiden mengintuksikan Kemeterian PUPR untuk membangun fasiltas disini. Pria berusia 50 tahun itu mengatakan, Presiden Jokowi juga yang menginstruksikan kalau menjual kelapa muda sebaiknya Rp15.000.

“Itu Bapak Presiden yang kasih harga, dulunya kita jual Rp10.000 saja,” kata dia.

Menuju Telaga Bintang, para pengunjung wajib menapaki 300 anak tangga untuk bias sampai tiba di anjungan pandang (view point) dengan jarak tempuh dari dermaga 122 meter dengan ketinggian 59 meter.

Bapak Presiden yang kasih harga, dulunya kita jual Rp10.000.

Setelah sampai di atas bukit, tentu lelah terbayar lunas bias menyaksikan keindahahan pemandangan gugusan karang yang menjulang tinggi yang mengelilingi Pulau Painemo, diperindah lagi dengan birunya air laut yang terhampar luas bertetangga dengan laut lepas.

Bermain dengan hiu di pantai Sauwandarek

Setelah puas menjejali keindahan Pulau Painemo, rombongan digiring ke Pulau Sauwandarek. Butuh 90 menit perjalanan laut untuk tina di sana.

Saat kami datang air laut sedang pasang. Untuk bisa sampai di sana saya harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit melewati hutan mangrove dan jembatan kayu yang sudah hampir ambrol.

Ketika menginjakkan kaki di kampung Sauwandarek, Kami disuguhkan hamparan pasir putih di sepanjang jalan perkampungan. Pohon kelapa congkak menjulang tegap, anak-anak kecil dengan senangnya bermain pasir, dan ada juga ibu-ibu yang tengah asyik bercengkrama di bawah pohon ketapang.

Tidak jauh dari bibir pantai, ikan-ikan berenang bebas di surga dunia yang rasanya sulit dilupakan.

“Mama, ada hiu,” teriak salah satu rombongan wisatawan yang berasal dari Bandung.

Ada sekitar lima ekor ikan hiu yang berenang ke pesisir pantai. Menurut salah satu warga, di sini memang tempat bermainnya ikan hiu.

“Ini masih kurang Bapak, biasanya mereka datang berombongan apalagi kalau ada yang kasih makan ikan,” kata Mambrasar

Di sini banyak ikan yang berwarna-warni. Warga sekitar dan wisatawan yang datang dilarang memancing. Dengan alasan untuk menjaga ekosistem sekitar dan agar daerah ini tetap kaya akan ikan. Hal itu yang dapat memancing kedatangan wisatawan ke Pantai Sauwandarek.

“Pernah ada orang wisatawan yang mancing didenda sama warga. Dendanya itu orang bayar ikan satu ekor 5 juta,” kata dia.

Baca juga: