Semarang - Nenek Ngatini, 90 tahun, mendadak viral di media sosial, khususnya di Twitter. Warga RT 2 RW 4 Kelurahan Gabahan Kecamatan Semarang Tengah ini menjadi terkenal di dunia maya karena merupakan contoh nyata potret kemiskinan di tengah megahnya kota metropolitan Semarang, Jawa Tengah.

Kisah hidup perempuan satu cucu ini mulai dikenal publik saat sebuah video tentangnya diunggah oleh @realaction_bandung dan diretwit akun @juventini_3rwin, pada Selasa, 9 Juli 2019. Video berdurasi 13 detik ini sudah diputar hampir 7 ribu tayangan, mendapat 261 like serta telah di-retwit sebanyak 159 kali.

Di unggahan video itu ada sebuah caption yang memberi penjelasan singkat soal aktivitas Ngatini. “Ibu ini tidur di jalan. Lokasi depan SMA Loyola, Jalan Karanganyar No 37. Semoga saja sudah ditangani. Di dekatnya ada warung namun sepertinya tidak ada yang melihat?” tulis @juventini_3rwin.

Seperti yang dijelaskan caption singkat itu, video memperlihatkan seorang perempuan tua yang tengah tergeletak tertidur di halaman depan sebuah sekolah. Tak ada yang peduli padahal di dekat situ banyak warga sedang antre makan di warung sekitarnya.

Ibu memang sudah lama kena gula. Ya karena tidak punya uang, jadi tidak pernah diperiksa.

Lantas siapakah sebenarnya sosok yang mengundang banyak empati para warganet tersebut ? Tagar bersama sejumlah awak media di Semarang pun mencoba menelusuri kehidupan sebenarnya Ngatinah. Diawali tentu dengan mencari tahu kediamannya.

Tidak terlalu sulit mencari alamat rumah yang bersangkutan. Bermodal tayangan yang ada di Twitter, sejumlah warga di lokasi tempat Ngatini tidur langsung memberitahu alamat berikut arah yang harus dilalui. Ternyata bagi warga Gabahan, khususnya di wilayah RT 2 RW 4, Ngatini lebih dikenal dengan sapaan Mbah Ngat.

Kami menuju rumahnya menggunakan sepeda motor. Kendaraan roda empat akan kesulitan melintas lantaran harus melalui beberapa jalan kampung yang sempit nan kumuh. Maklum saja, kawasan kediaman Mbah Ngat memang berada di lingkungan padat penduduk di tengah megahnya pembangunan fisik Kota Semarang.

Sempat beberapa kali salah masuk kampung lantaran banyaknya jalan tikus yang saling tembus, akhirnya sampai juga ke rumah Mbah Ngat. Jalan buntu menjadi titik pemberhentian pencarian kediamannya.

Rumahnya ada di paling pojok lingkungan RT 2. Sebuah tempat hunian yang terbilang sederhana dengan ukuran sekira 3 x 6 meter. Bentuk bangunannya memanjang dan menempel pada sebuah gedung yang ada di belakangnya.

Sering, luka di kaki itu di-rubung (dikerumuni) semut tapi seperti tidak dirasa ibu. Ya saya atau istri yang akhirnya sering membersihkan.

Kali pertama tiba di depan rumah bercat kusam dan telah mengelupas sana sini, Rabu sore, 10 Juli 2019, suasana sepi menyambut. Rumah itu terlihat tak ada ruang tamu yang lazim dijumpai di sebuah rumah. Malahan didapati kamar mandi darurat yang terletak di pintu depan rumah, lengkap dengan pompa air manual.

Ruang depan rumah langsung tembus bagian belakang yang multifungsi. Menjadi tempat memasak sekaligus kamar tidur yang dihuni anak Ngatinah, Sutejo, 58 tahun. Selain dengan Sutejo, selama ini Ngatinah hidup seatap dengan menantu atau istri Sutejo dan cucunya bernama Kurniawan 12 tahun.

Karena sepi, kami pun mencari tahu ke tetangga Mbah Ngat. Dan warga setempat mengabarkan sekitar pukul 15.00 WIB, rumah Mbah Ngat memang lengang. “Kalau jam segini, anaknya Mbah Ngat lagi kerja bangunan di gedung itu,” ujar seorang bapak sembari menunjuk gedung yang dimaksud.

“Tapi Mbah Ngat-nya biasanya lagi tiduran di rumah,” sambung si bapak itu.

Benar saja, seorang nenek dengan pakaian seadanya tengah tidur pulas di kursi panjang di depan rumah. Wajahnya lusuh, alas kaki tampak mengering dan kotor. Nampak ada luka di telapak kakinya, penanda penyakit diabetes. Tak mau mengganggu, kami pun menunggu kepulangan Sutejo.

Penuturan Anak Mbah Ngat

“Ibu memang sudah lama kena gula. Ya karena tidak punya uang, jadi tidak pernah diperiksa,” kata Sutejo (58) membuka perbincangan sekembalinya dari kerja.

Sebagai anak semata wayang, Sutejo sangat prihatin dengan kondisi ibu tercinta. Selama beberapa tahun terakhir ia berusaha merawat sekuat tenaga mengandalkan hasil dari pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Mengingat penghasilan yang didapat dari tukang batu juga terbatas dan harus dibagi dengan anak istri.

Semata menyandarkan asap dapur dari pekerjaan kasarnya, kehidupan keluarga Sutejo sangat memprihatinkan. Bisa dibilang warga tidak mampu namun sampai saat ini tidak ada satupun program pengentasan kemiskinan yang menyentuh mereka.

Mbah Ngat, Sutejo dan keluarganya belum pernah mendapat jaminan sosial dari pemerintah. Tidak ada fasilitas kesehatan, jatah beras rakyat miskin, gas subsidi, bahkan Kartu Indonesia Pintar tidak pernah dikantongi. Padahal fasilitas pendidikan gratis tersebut sangat dibutuhkan Kurniawan. Terlebih bocah tersebut adalah anak berkebutuhan khusus yang terpaksa putus sekolah lantaran tidak ada biaya.

Pemerintah Kota Semarang sebenarnya sudah membekali Sutejo dan keluarga dengan pelayanan kesehatan gratis yang biasa disebut Jamkesmaskot. Kepanjangan dari jaminan kesehatan masyarakat kota. Tapi apa mau dikata, keterbatasan pemahaman aturan membuat Sutejo lebih memilih mengandangkan kartu Jamkesmaskot-nya.

“Ada Jamkesmaskot tapi bingung cara makai-nya di Puskesmas, katanya harus pakai KIS (Kartu Indonesia Sehat),” ungkap Sutejo.

Apa mau dikata, Sutejo hanya bisa merawat Mbah Ngat seadanya. “Sering, luka di kaki itu di-rubung (dikerumuni) semut tapi seperti tidak dirasa ibu. Ya saya atau istri yang akhirnya sering membersihkan,” ujar dia.

Wong cilik bisa apa, Mas. Mau mengurus apa-apa juga bingung, hanya punya Kartu Keluarga saja. Orang seperti kami semestinya didata, difasilitasi. Bukan mereka yang punya motor saja yang dapat jaminan sosial tapi malah orang seperti kami terlewatkan.

Dengan segala keterbatasan itu Sutejo tetap bersyukur dengan kehidupan keluarga kecilnya. Bahkan saat disarankan untuk mengurus beragam fasilitas warga miskin, ia hanya tersenyum. Bukan karena tidak mau repot namun ia memang tidak paham dengan segala bentuk urusan administrasi persyaratan.

Terlebih ia satu-satunya tulang punggung keluarga. Waktu bekerja sangat penting agar ada jaminan makan untuk anak istri dan sang ibu. Kendati demikian ia tidak menolak jika ada bantuan dari pemerintah. Bukan untuk dikasihani namun lebih pada sebuah bentuk kepedulian pemerintah terhadap wong cilik (orang kecil) seperti dirinya.

“Wong cilik bisa apa, Mas. Mau mengurus apa-apa juga bingung, hanya punya Kartu Keluarga saja. Orang seperti kami semestinya didata, difasilitasi. Bukan mereka yang punya motor saja yang dapat jaminan sosial tapi malah orang seperti kami terlewatkan,” keluhnya setengah mengkritik pemerintah.

Terkait tayangan video di Twitter, Sutejo tidak menampik hal itu. Tidak ada maksud ia dan keluarga menelantarkan ibu namun karena memang sudah menjadi kebiasaan Mbah Ngat yang mengembara sekehendak hati di seputar Gabahan. Dan bisa dipastikan nenek yang biasa mengenakan pakaian ala kadarnya itu akan pulang saat petang menjelang.

"Kami, saya dan istri, kalau siang bekerja, jadi tidak ada yang jaga. Ibu jalan-jalan seperti itu sudah biasa. Hanya kami memang orang miskin. Jadi pakaian seadanya, dikira gelandangan,” jelas dia

Pengalaman tidak mengenakkan pernah menimpa Mbah Ngat. Karena kebiasaan walking on the street tersebut ia pernah kena razia Satpol PP lantaran dikira gelandangan. Dibawa sampai ke panti sosial tapi akhirnya dijemput oleh Sutejo.

"Pernah kena razia, karena perginya ke jalan protokol,” ujarnya tersenyum kecut.

Kebiasaannya sering tiduran kalau pas jalan-jalan sehingga banyak yang mengira beliau orang gila atau pengemis.

Penuturan Ketua RT Setempat

Ketua RT 02 RW 4 Kelurahan Gabahan, Sugianto 42 tahun membenarkan Mbah Ngat salah satu warga miskin di wilayahnya. Ia yakin Pemerintah Kota Semarang sudah memberi jaminan kesehatan untuk Mbah Ngat beserta anak cucunya.

"Kalau KIS saya rasa punya, karena ada program UHC (Universal Health Coverage) dari Pemkot Semarang. Tapi untuk beras raskin memang belum, sedang kami usahakan agar dapat jatah tahun depan,” ujar dia.

Sebagai warga yang dituakan di kampung, Sugianto sebenarnya berharap keluarga Sutejo mau mengurus Kartu Indonesia Pintar, agar cucu Mbah Ngat bisa melanjutkan sekolah.

“Kasihan cucunya, tidak sekolah dan berkebutuhan khusus. Lewat program pemerintah harusnya bisa masuk SLB. Kami hanya berharap itu bisa diurus agar cucunya bisa mengenyam pendidikan,” ujarnya.

Sugianto juga mengakui Mbah Ngat memang punya kebiasaan jalan-jalan menggunakan tongkat. Warga kampung dan penduduk Gabahan yang mengenalnya sudah mengetahui kebiasaan itu. Hanya Sutejo yang bisa membujuk Ngatini untuk pulang saat terlalu lama di jalanan.

“Sudah sepuh (tua) tapi masih terlihat sehat. Kalau jalan-jalan pakai tongkat sambil bawa buntalan,” ujarnya.

Ia pun menolak anggapan Mbah Ngat terganggu kejiwaannya hanya dengan melihat tampilan lusuhnya. Memang nenek itu cenderung diam jika diajak ngobrol orang yang tak dikenalnya. Namun bukan berarti dia tidak bisa berkomunikasi. Mbah Ngat hanya bersedia buka suara dengan orang yang dikenal, terutama Sutejo.

“Kebiasaannya sering tiduran kalau pas jalan-jalan sehingga banyak yang mengira beliau orang gila atau pengemis. Tapi Mbah Ngat itu tidak pernah meminta-minta meski banyak orang yang bertemu dengannya ngasih uang,” ujar Erik, warga Gabahan lain.

Sekretaris Dinas Sosial Jawa Tengah Yusadar Armunanto mengaku saat viral di media sosial pihaknya langsung menjemput dan memulangkan Mbah Ngat. Saat itu pihaknya juga sudah membujuk Sutejo agar Mbah Ngat bisa dirawat di panti sosial milik pemerintah. Namun hal itu ditolak karena Sutejo beranggapan masih bisa merawat ibunya.

“Tapi kami tetap terbuka untuk Mbah Ngatini dan keluarganya. Kami siap kapan pun ia mau menempati panti sosial karena kasihan kalau pergi-pergi, takutnya terjadi sesuatu di jalan,” ujar dia. []

Tulisan feature lain: