Yogyakarta - Aroma khas jamu tradisional Jawa menyeruak ke rongga penciuman. Beberapa kendil atau periuk dari tanah liat tertata rapi di meja. Masing-masing berisi ramuan jamu yang berbeda.

Di sudut ruangan berukuran sekira 5x2 meter tersebut, seorang pria berkemeja putih tampak berbincang dengan pria lain. Jemari Hayom Erstanto, pria berkemeja putih itu, memegang pergelangan tangan lawan bicaranya, yang merupakan pasiennya.

Hayom menjelaskan beberapa hal pada pasiennya tersebut kemudian menulis pada secarik kertas putih, layaknya dokter yang tengah menulis resep obat.

Hayom bukan seorang dokter. Ia adalah pemilik warung Djamu Djawa Java Herbal, berlokasi di Jalan Bausasran Nomor 31, Yogyakarta.

Di belakang meja tempat beberapa kendil berjejer rapi, seorang rekan Hayom menyiapkan jamu yang telah diresepkan oleh Hayom pada pasien tadi. Aroma dedaunan makin tajam tercium.

Di luar ruangan, tujuh pasien lain menunggu giliran untuk berkonsultasi. Maklum, mereka harus menunggu selama sepekan untuk dapat berkonsultasi kepada Hayom. Hayom mengikhlaskan Rabu malamnya untuk mereka.

Deru kenalpot sepeda motor dan klakson mobil di jalanan depan warung tak dihiraukan oleh Hayom. Ia dengan telaten mendengarkan keluhan pasien, kemudian memberi solusi atas sakit yang dialami.

Sebagian pasien membeli paket jamu yang diresepkan untuk diminum di rumah. Beberapa lainnya memilih untuk meminum jamu di lokasi itu, dan akan kembali datang keesokan harinya untuk meminum kembali jamu sesuai yang disarankan.

Harga jamu racikan Hayom sangat terjangkau. Paket jamu untuk 10 gelas dibanderol seharga Rp 50 ribu, sementara paket jamu untuk 20 gelas dihargai Rp 90 ribu. Sedangkan kalau diminum di tempat, harganya Rp 6 ribu per gelas.

Kenapa kok saya gratiskan? Karena saya dapatnya juga gratis. Kalau saya tularkan, terus saya dapat penghasilan dari mana? Ya nanti yang di Atas yang gaji kita ini.

Jamu YogyakartaHayom (kiri) sedang melayani konsultasi pasien. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Konsultasi Gratis

Selain harga jamu yang sangat terjangkau, Hayom tidak memungut biaya untuk pasien yang berkonsultasi. Satu di antara alasannya, karena ia memperoleh ilmunya secara gratis.

"Kenapa kok saya gratiskan? Karena saya dapatnya juga gratis. Kalau saya tularkan, terus saya dapat penghasilan dari mana? Ya nanti yang di Atas yang gaji kita ini," ucap Hayom saat ditemui di warung jamunya, Rabu malam, 31 Juli 2019.

Hayom menggunakan sekitar 300 jenis tanaman untuk diracik menjadi bermacam jenis jamu, khususnya yang menjadi kebutuhan utama bagi tubuh manusia. Sedangkan untuk jamu yang membutuhkan ramuan khusus, ia bisa menggunakan antara 21 hingga 30 jenis tanaman.

"Supaya tepat sasaran. Tidak bisa jamu A misalnya untuk semua keluhan kesehatan seseorang. Semua ada tahapannya," tutur Hayom.

Sebenarnya, kata Hayom, manusia dikaruniai daya sembuh sendiri oleh Tuhan. Hanya saja, terkadang organ tubuh manusia yang lemah karena pola makan, pola pikir, dan pola hidup yang tidak sehat.

Jamu itulah yang nantinya membantu menguatkan organ tubuh manusia, sehingga tubuhnya kembali mampu menyembuhkan diri sendiri.

"Kalau yang lemah dari paru paru, kita kasih sayuran untuk paru paru. Kalau yang membuat lemah dari jantung, yang membuat detaknya cepat karena tersumbat, nah sayur atau jamu untuk membobol sumbatannya supaya jantungnya bisa berdetak dengan bagus lagi," kata Hayom.

Mengenai metode pemeriksaan, Hayom menggunakan jari untuk memeriksa denyut nadi pasien. Dari kecepatan denyut itu bisa diketahui penyebab sakit, termasuk menentukan jamu yang cocok untuk dikonsumsi.

"Misalnya oksigen dalam tubuh itu kurang atau tidak? Kalau cepat, pertama bisa napas. Tapi kalau dia sudah duduk lama, misalnya 15 menit, dipegang kok masih cepat, bisa oksigennya dalam tubuh kurang. Kurangnya karena apa? nah itu yang kita cari lagi. Sebab akibat itu pasti ada," tuturnya.

Jamu YogyakartaPasien mengantre di warung jamu Hayom. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kagum Terhadap Sirih

Hayom mengaku telah membuka usaha warung jamu selama 12 tahun.

Ketertarikan membuka warung jamu dimulai saat ia mengagumi tanaman sirih pada 1986.

Sirih, kata dia, mampu mengobati beberapa macam penyakit, misalnya digigit ular atau keracunan.

"Saya berpikir, ini baru tanaman ini saja. Lha tanaman lain bagaimana? Negara kita ini tropis, yang mempunyai tanaman banyak macam. Jangan salah, jangan sampai kita cari herbal ke luar negeri," katanya.

Alasan lain karena ia ingin melestarikan jamu sebagai budaya dan peninggalan nenek moyang yang notabene memiliki manfaat untuk kesehatan.

Jika warisan atau peninggalan budaya tidak dipelihara dan dilestarikan, ia meyakini hal itu akan melemahkan bangsa Indonesia.

"Yang pokok saya ini ingin nguri-uri (melestarikan) jamu. Jamu ini adalah peninggalan nenek moyang kita, ini Insya Allah dari dulu sampai sekarang ada ini, jelas manfaatnya. Ini sama saja kita nguri-uri gamelan," ungkapnya.

Usaha warung jamu milik Hayom pernah akan dibeli oleh beberapa orang. Hayom menyebut mereka sebagai pengusaha yang menawarkan nominal harga cukup besar.

Tapi Hayom enggan melepasnya, karena menurutnya mereka hanya berpikir tentang keuntungan. Sementara dirinya lebih mengutamakan bagaimana melestarikan budaya leluhur, dan menolong orang lain.

"Istilahnya, mereka hanya berpikir tentang nominal, nominal dan nominal. Padahal saya berpikir bahwa jamu ini adalah milik semua. Memang benar, kalau saya memilih nominal, saya pasti memilih mereka, tapi saya enggak akan ketemu njenengan (kamu) dan lain-lain," kata Hayom.

Jamu YogyakartaSeorang staf warung jamu Hayom sedang melayani pelanggan. Ia berdiri di antara kendil berisi aneka racikan jamu. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Saat ditanya, apakah jamu tradisional bisa menyembuhkan kanker seperti yang tertulis dalam banner yang dipasangnya, Hayom mengatakan sel kanker berkembang karena ada makanan untuk sel itu.

Makanan untuk sel kanker biasanya muncul karena pola hidup yang tidak sehat. Sehingga yang harus dilakukan pertama kali untuk membunuh sel kanker, adalah meluruhkan makanannya.

"Supaya sel kankernya lemah. Setelah itu baru diperkuat ke tubuh pasien, sel kankernya akan mati. Biasanya orang kalau divonis kena kanker, langsung loyo, lemah. Itu justru menguatkan sel kanker. Harus dilawan," ujarnya.

Kesaksian Pasien

Sigit, seorang pasien mengaku telah lama menjadi pelanggan jamu racikan Hayom. Ia warga Muja-muju Yogyakarta.

Ia menceritakan pada 2013 istrinya mengalami sakit asam urat. Setelah rutin berobat dan meminum jamu racikan Hayom, perlahan asam urat yang dideritanya sembuh, meski sesekali masih kambuh, jika dia tidak mengindahkan pantangan makanannya.

"Dulu tahun 2013 sampai 2014 sering antar istri berobat ke sini. Tahun 2015 sudah tidak pernah lagi," ucap Sigit ditemui di warung jamu Hayom.

Sepuluh hari terakhir, Sigit kembali mendatangi warung jamu milik Hayom. Kali ini bukan untuk penyakit istrinya, melainkan sakit batuk yang dialaminya sendiri.

Kata Sigit, setelah sepuluh kali meminum jamu, batuknya sangat banyak berkurang, dan kondisinya mulai membaik.

"Sudo kathah (berkurang banyak) batuknya. Ini saya mau konsultasi lagi," kata Sigit. []