Soppeng - Andi Sumangelipu dalam tulisannya dengan judul "Tradisi Malleppe" memaparkan istilah Malleppe dalam khasanah keagamaan dan adat istiadat masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

Dia menjelaskan masyarakat Bugis mengenal Idul Fitri maupun Idul Adha dengan istilah Malleppe’. Dalam bahasa Bugis, istilah tersebut memiliki arti melipat. Ini memberikan makna bahwa kedua shalat id tersebut dijadikan momentum untuk melipat lembaran-lembaran lama yang penuh dosa yang telah dilakukan selama ini dan membuka lembaran baru untuk dapat diisi dengan hal yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Makna lain dari Malleppe’ adalah ‘melepas’, ini dimaksudkan bahwa pada perayaan ini menjadi momen pelepasan semua dosa-dosa dan juga saling memaafkan dosa antara sesama.

Dalam bentuk lain, tradisi Malleppe’ dikenal oleh sebagian kecil masyarakat Bugis dengan cara melepaskan dan melarungkan pakaian lama ke laut atau sungai sebagai tanda simbol pelepasan dosa, sial, keburukan masa lalu dan mengganti dengan pakaian yang baru.

Baca juga: Pemandian Air Panas Lejja, Eksotis Tapi Mistis

Dalam tradisi Bugis, setelah perayaan Malleppe’ ini berlangsung, terdapat tradisi massiara (berziarah) seperti halnya tradisi yang ada di belahan Indonesia lainnya.

Massiara dilakukan dengan mengunjungi sanak famili dan kerabat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal (Massiara Kubburu'). Massiara Kubburu' atau ziarah kubur dilakukan untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia agar senantiasa mendapatkan ampunan dari Allah.

Satu hari setelah lebaran, tepatnya hari Kamis 7 Juni 2019 lalu, Tagar mengikuti salah satu rombongan keluarga di Welongge, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng untuk menziarahi kuburan leluhurrnya di berbagai tempat pemakaman.

BugisZiarah kubur di beberapa pekuburan Kabupaten Soppeng. (Foto: Tagar/ Irsal Masudi)

Sekitar pukul 13.00 waktu setempat, suasana langit yang cerah, matahari pun bersinar terik memaksa rombongan kami memakai jaket atau baju lengan panjang agar panasnya tidak langsung kena kulit atau badan. Sementara, rumpun keluarga mereka sudah terkumpul dan terdapat sekitar 13 orang, baik pria, wanita maupun anak-anak telah siap berangkat ke kuburan.

Dari tempat kami berkumpul, hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit untuk menuju ke tempat pemakaman yang detmoung dengan kendaraan roda dua.

"Ayo berangkat sekarang," seru Hj Geddong kepada kerabatnya.

Satu persatu, mereka menaiki ke kendaraan masing-masing dengan riak muka bahagia dan saling menyapa satu dengan lainnya, mereka memacu kendaraan hingga melewati jalan setapak hingga sampai ke tujuan.

Di tempat pemakaman tersebut, sudah banyak pengunjung yang datang untuk ziarah, sehingga rombongan kami kewalahan mencari tempat parkir. Beruntung di sisi kanan pintu masuk, terdapat tanah kosong, Di tempat itulah kami memarkir kendaraan.

"Kita ziarah ke kuburan siapa, nek?" tanya Syahrul Ramadan kepada neneknya.

"Nanti di dalam saya jelaskan," timpal Hj Geddong.

Sambil lalu, mereka meninggalkan area parkir menuju salah satu kuburan. Langkah kaki pun harus pelan karena terdapat berbagai makam yang tidak tertata dengan rapi sehingga kaki pengunjung melewati sela-sela nisan antar makam.

Baca juga: Gubernur Sulsel Imbau ASN Taat Aturan Liburan

Di atas lahan sekitar 20 X 15 meter ini terdapat ribuan makam, daerah sekitarnya masih asri dengan pepohonan dan dikelilingi hamparan sawah milik warga setempat. Di tengah pemakaman terdapat satu pohon yang membumbung tinggi tanpa selembar daun.

Sementara, para peziarah lainnya sudah sibuk membersihkan makam sanak keluarga mereka yang dipenuhi daun dan rerumputan. Setelah bersih, barulah mereka melakukan ritual berupa menabur bunga, menyiram air dan membaca kan doa kepada yang telah meninggal.

"Ini kuburan orang tua saya," jelas Hj Geddong sambil menunjuk makam yang berukuran kurang lebih 1,5 x 0,5 meter.

Satu persatu, rombongan melakukan penyiraman makam tiga kali berturut-turut dimulai bagian atas atau kepala makam hingga bawah, setalah semua selesai melakukan penyiraman barulah prosesi doa dilaksanakan.

Setelah itu, satu persatu mereka meninggalkan area pemakaman dan sayapun bergegas mengajak salah satu diantara mereka untuk menjelajahi area pemakaman yang sering dikunjungi oleh masyarakat.

Adalah Syahrul Ramadan yang mengajukan diri untuk menemani saya menyusuri pemakaman yang ada di Kabupaten Soppeng. Sebelum berangkat, kami berdua berdiskusi terkait tujuan selanjutnya.

Syahrul menawarkan dua pemakaman yang akan dituju, yaitu Makam Petta Djangko Jara'e dan makam Raja-raja Soppeng.

"Dua makam tersebut dikenal sebagai Attauriolong atau nenek moyang, itu yang paling sering dikunjungi saat hari Lebaran, sering juga disebut sebagai makam leluhur," jelasnya.

Makam Petta Djangko Jara'e 

Makam ini berada di Kelurahan Attang Salo, Kecamatan Marioriawa, Soppeng. Sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Watansoppeng bagian utara.

Riwayat Petta Djangko sendiri tidak banyak diketahui oleh masyarakat setempat. Bahkan orang yang bertugas untuk merawat makam tersebut tidak tahu banyak tentangnya. Namun kehadiran dan bentuk makamnya menandakan, dia merupakan sosok penting dalam masyarakat Soppeng.

Terlihat, sejak kedatangan kami di lokasi banyak rombongan peziarah yang berdatangan, bahkan untuk masuk dan menyentuh nisan tersebut, para pengunjung harus mengambil nomor antrian yang telah disediakan oleh petugas pemakaman.

Baca juga: Mayoritas Anggota DPRD Sulsel Wajah Baru

"Antrian 51 silahkan masuk," panggil salah satu petugas.

Sesaat setelah itu, terlihat enam orang berbondong-bondong memasuki makam yang berbentuk bangunan rumah lengkap beserta atap dengan luas sekitar 8 x 6 Meter. Di dalam bangunan tersebut, terdapat satu makam yang berukuran 1x1 meter yang ditutupi kelambu berwarna putih.

Pada bagian pintu masuk bangunan terdapat tujuh orang laki-laki yang melayani peziarah untuk mengambil air dan bunga untuk pengunjung.

BugisZiarah kubur di beberapa pekuburan Kabupaten Soppeng. (Foto: Tagar/ Irsal Masudi)

"Kami di sini ada 13 orang merawat pemakaman, tujuh orang melayani keperluan peziarah, tiga orang bergantian untuk membacakan doa, sisanya bertugas di bagian antrian," jelas salah petugas yang enggan disebutkan namanya.

Saat Tagar menanyakan perihal asal usul makam, mereka tidak tahu banyak. "Kami cuma bertugas untuk merawat ini, jadi kami tidak banyak tahu terkait asal-usulnya," katanya.

Mereka yang datang hanya melaksanakan attauriolong atau tradisi nenek moyangnya.

"Pengunjung dari eppa sulapa atau empat penjuru mata angin, mereka berdatangan setelah Lebaran," tambahnya.

Massiara Kubburu' telah menjadi tradisi yang telah diwariskan dari nenek moyang dan dalam kepercayaan masyarakat setempat, jika tidak melakukan ziarah maka ada konsekuensi yang akan dihadapi.

"Biasanya kami melakukan ziarah setelah Lebaran dan melakukan hajatan, seperti melakukan pesta pernikahan, jika tidak berkunjung di sini akan ada bala yang menimpa misalnya akan terserang penyakit," ujar salah satu pengunjung, Sitti.

Sementara cerita yang berkembang di tengah masyarakat, pemakaman Petta Djangko Jara'e terbilang keramat atau angker, jika berkunjung ke tempat tersebut tidak diperbolehkan sembarang bicara.

"Di sini juga tidak boleh sembarang ngomong karena sering terjadi bala yang menimpa," tambahnya.

Makam Raja-raja Soppeng

Pukul 13.05 Wita, kami memacu sepeda motor menuju pemakaman Raja-raja Soppeng di Kelurahan Bila, sekitar dua kilometer dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng. Makam ini dikenal sebagai makam kuno Jera Lompoe. Makam berada di atas bukit sekitar 135 meter di atas permukaan laut, yang dikelilingi tanah yang lebih rendah.

Komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu taman purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan.

Di tempat tersebut terdapat sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu badik (keris). Ini satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Baca juga: Wagub Sulsel Lantik 188 Pejabat Lingkup Pemprov

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara - selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan Arab kalimat syahadat, Lailaha llallah Muhammadarrasulullah.

Anwar, salah satu koordinator makam yang berasal dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Kabupaten Soppeng mengatakan, nama Jera Lompoe memiliki arti makam besar. Makam ini juga biasa disebut Makam Agung atau Makam Raja, karena ada 30 raja yang dimakamkan di sini.

"Di sini terdapat 30 makam, namun sebagiannya belum teridentifikasi, hanya beberapa yang sudah diketahui," jelasnya kepada Tagar.

Uniknya, para raja tak hanya berasal dari Kerajaan Soppeng. Ada juga raja dari Kerajaan Bugis, seperti Kerajaan Luwu dan Kerajaan Sidenreng.

Hingga saat ini, keturunan para raja masih sering berziarah untuk berdoa hingga meminta restu di sini. Selain itu, kata Umar, ada juga pengunjung datang untuk berobat.

"Selain keturunan raja, ada juga yang datang ambil air yang diyakini sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Mereka yang datang biasanya mendapat petunjuk lewat mimpi atau dalam bahasa Bugis disebut nippi," jelas Umar.

Umar menjelaskan, makam raja Bugis memiliki dua nisan yang terletak di depan dan belakang. Raja laki-laki memiliki nisan yang sejajar, sedangkan raja perempuan memiliki satu nisan yang lebih tinggi dari nisan satunya.

Di sekeliling makam terdapat taman yang luas dan indah, dipenuhi pepohonan yang tinggi seperti kelapa. Konon ini sudah ada sejak kompleks makam tersebut ditemukan.

Setelah mengelilingi makam, matahari pun nyaris tenggelam yang menandakan malam akan segera datang, kamipun bergegas pamit dan bergegas untuk pulang. []