Jakarta, (Tagar 7/12/2018) - Achmad Wirawan dan Khunoah pada usia senja mendadak jadi miliarder karena rumah dan tanahnya mengalami penggusuran. Achmad mendapat kompensasi yang ia sebut ganti untung Rp 7,3 miliar. Khunoah juga mengatakan dirinya mendapat miliaran rupiah walau ia tak menyebut secara pasti angkanya.

Penggusuran lahan, selama warga tidak tinggal di atas tanah negara, maka pemerintah wajib menyediakan anggaran untuk penggantian hak tanah dan bangunan milik warga yang terkena imbas gusuran.

Pemerintah dengan pendekatan humanis pada warga, memberikan kompensasi sepadan akan menghindarkan timbulnya perselisihan antara kedua belah pihak terkait sengketa lahan.

Pelebaran jalan untuk kepentingan umum bisa dilakukan, warga yang tergusur pun hatinya senang. Seperti pengalaman Achmad Wirawan dan Khunoah berikut ini. 

Achmad Wirawan, 279 Meter Tanah Seharga Rp 7,3 Miliar 

Achmad Wirawan akrab disapa Mamat, 62 tahun, warga Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Ia mengaku tak keberatan rumah milik orangtuanya yang telah berdiri sejak tahun 1940 itu, kondisinya kini rata dengan tanah.

September 2018, 11 Kepala Keluarga di RT 13 Cipinang Cempedak mau tak mau harus menyingkir, lantaran rumah serta tanah mereka masuk dalam pemetaan tahap II dengan perubahan rute trase tol Becakayu (Bekasi - Cawang - Kampung Melayu), yang ditargetkan nantinya akan terintegrasi dengan tol lingkar dalam Jakarta.

Kakek lima cucu ini menyebut bukan dia saja yang "ketiban pulung" imbas dari penggusuran pemukiman. Ia mengisahkan, mayoritas tetangganya menganggap peristiwa penggusuran pemukiman sebagai suatu proses ganti untung, bukan ganti rugi.

"Kenyataannya saat rumah saya digusur, akhirnya saya bisa beli rumah baru. Termasuk bisa membelikan rumah untuk anak, serta sudah membagikan rata uang gusuran kemarin kepada keluarga terdekat," tutur Mamat saat ditemui Tagar News, Kamis (6/12).

PenggusuranAchmad Wirawan, 62 tahun, warga Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Ia menganggap rumah dan tanahnya digusur sebagai berkah, dan yang ia dapatkan sebagai kompensasi bukan ganti rugi tapi ganti untung. Maman sapaan akrabnya saat ditemui, Kamis (6/12/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

Mamat menerangkan, tanah yang terkena gusuran di RT 13 Cipinang Cempedak dihargai bervariasi oleh pihak pengembang. Menurut dia, tanah yang berada di pinggir jalan atau digunakan untuk lokasi usaha dihargai Rp 26 juta per meter. Sementara, lokasi miliknya yang berada agak ke dalam gang, dihargai Rp 17 juta per meter.  

"Kalau saya bilangnya rezeki deh. Dari uang gusuran saya dapat Rp 7,3 miliar," ucapnya sumringah.

Maka itu, kata dia, lebih baik terkena gusuran saja. "Sejujurnya saya sudah mengetahui dari tahun 1997 bahwa lokasi tanah yang saya tempati ini termasuk dalam jalur hijau, yang suatu waktu nanti pasti disengketakan, karena terlalu dekat dengan badan jalan," ujarnya.

Lebih lanjut Mamat menceritakan, "Saat dilakukan pengukuran ulang oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) dan pihak develepor, pihak keluarga kita datang semua komplet hadir untuk menyaksikan. Saya lihat cara kerja mereka (BPN) bagus. Masyarakat di sini juga rata-rata sangat berterima kasih dengan adanya penggusuran. Dengan itu, kami (warga) dapat membeli tanah yang lebih luas dari lahan kita yang sebelumnya," kata dia.

Ia mengatakan, dana gusuran rumah milik orangtuanya telah ia sebar rata ke pihak keluarga dan anaknya. Adik Mamat, bahkan telah membeli aset berupa tanah seluas 300 meter di wilayah Jatiasih, Bekasi, dan ada juga yang pindah ke daerah Kranji.

"Keluarga saya yang tadinya meributkan masalah warisan gono-gini, bagusnya sekarang sudah tidak cekcok lagi. Setelah kena gusuran, sekarang malah masing-masing punya rumah," ujarnya menambahkan.

Dengan deposito uang gusuran, Mamat berencana naik haji bersama enam adiknya tahun depan. "Kita berangkat bareng insya Allah tahun depan ke Mekkah," katanya.

Terdapat 67 bidang tanah terkena gusur efek dari rencana pemerintah yang ingin mengintegrasikan dua ruas tol di Jakarta Timur. Penggusuran lahan dialihfungsikan untuk kepentingan pembangunan tol Becakayu. Ini merupakan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ BPN yang terpampang di Kelurahan Cipinang Cempedak. 

Kurang lebih 10.034 meter lahan di area Cipinang Cempedak terkena efek gusuran, termasuk bangunan Kantor Kecamatan Jatinegara, PT Pegadaian (Persero), Kementerian Agama.

Pelaksanaan penggusuran harus memenuhi ketentuan dalam Pasal 29 UU No 2 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Khunoah, Nenek Penjual Sayur Berharta Miliaran

Khunoah akrab disapa Noah, 65 tahun, penjual sayur, warga Sawah Barat, Duren Sawit, Jakarta Timur. Ia mengalami rumah dan tanahnya terkena gusur pada tahun 2006. Saat itu, Gubernur DKI Fauzi Bowo sedang membangun proyek banjir kanal timur (BKT) yang membentang sepanjang 23,5 kilometer dari Jakarta Timur hingga Jakarta Utara.

Nenek 11 cucu ini menetap di Jakarta sejak 43 tahun silam. "Saya datang dari Pemalang, Jawa Tengah, pas umur 22 tahun. Saat itu saya masih numpang di rumah saudara saya, daerah Jakarta Timur juga," tuturnya pada Tagar News, Selasa (4/12).

Perlahan ia memberanikan diri dan memilih hidup mandiri, tanpa harus menumpang lagi, meskipun kenyataan pendapatannya masih tak pasti. Noah memilih pindah ke Sawah Barat, untuk berjualan sayur mayur setiap pagi dan sore di depan kontrakan sepetak yang rutin ia bayar tiap akhir bulan.

PenggusuranKhunoah (65) dan sayur-mayur dagangannya di rumahnya di Sawah Barat, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (4/12/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

Kegigihan serta ketekunan berprofesi sebagai pedagang sayur telah ia lakoni selama puluhan tahun, bahkan hingga sekarang.

Pada suatu hari berpuluh tahun lalu ia ditawarkan untuk membeli tanah dengan harga murah oleh penduduk setempat. "Pelan, saya beranikan untuk membeli tanah pada tahun yang saya tidak ingat pasti. Saat itu, saya beli sawah seluas 200 meter. Tanah di sini masih girik, saya beli dari warga setempat, dengan harga Rp 4.500 per meter," kenangnya.

Selama berdagang di Sawah Barat, ia berjumpa dan mengenal banyak warga setempat. Banyak di antaranya meminjam uang ke Noah. Kemudian hari, ada yang mampu melunasi utang, dan ada pula yang tak bisa membayar sisa utang. Ia mendapatkan gadaian surat tanah girik dari para peminjam uang yang tak mampu melunasi sisa utangnya.

Noah mengisahkan, ada yang memberi surat tanah girik seluas 50 meter persegi, 200 meter persegi, hingga 650 meter persegi yang kemudian menjadi asetnya, karena si pengutang tak kunjung menebusnya juga. Ia menyimpan semua surat tanah girik itu, termasuk yang sudah resmi menjadi miliknya.

Tahun 2006, Pemprov DKI menjalankan proyek kanalisasi BKT untuk mengatasi problem banjir yang kerap melanda Ibu Kota, dan diperkirakan membutuhkan pembebasan lahan seluas 257, 3 hektar di Jakarta Timur.

Bak ketiban pulung, tak usah kerja berat, Noah mendulang rupiah dalam jumlah miliaran secara instan. "Tahun 2007 tanah saya per meter dihargai Rp 1.300.000. Saya terima untuk diputer modal yang lainnya lagi," tuturnya.

Dari uang gusuran tersebut, Noah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, Arab Saudi. "Saya jalan berdua (dengan suami) naik haji, tidak pakai masa tunggu. Waktu itu haji masih Rp 30 juta. Ongkos naik haji tahun itu belum mahal seperti sekarang," kata dia.

Masih dengan uang gusuran, Noah membeli motor untuk enam anaknya, juga membeli kendaraan roda empat dengan merk Avanza.

"Saya juga membeli beberapa tanah lagi dari hasil uang penggusuran yang lalu, dan saya jadikan kontrakan berpetak-petak," ucapnya. 

Noah memahami, uang yang hanya didiamkan pasti habis. Karena itulah ia menggunakan uang sebagai modal, diputar untuk investasi rumah kontrakan.

"Alhamdulillah, sekarang saya sudah punya tanah sendiri juga. Bisa menguliahkan anak, bahkan ada yang sudah kerja di Pertamina," tuturnya.

"Kalau uang ganti rugi tanah dihabiskan, nanti sekolahin anak pakai apa, lebih baik saya bikin kontrakan biar muter terus," lanjutnya.

Noah saat ini mengalami pengapuran tulang kaki. Ia sudah mencoba berobat ke Cimande, dukun, hingga dokter, namun tak kunjung memperbaiki kondisi kakinya.

"Lebaran tahun kemarin saya jatuh pas di wc, saat ingin ibadah salat Subuh, dengkul kiri saya sakit. Jadi, tidak bisa jalan sampai sekarang," ucapnya.

Sementara dengkul kanannya mulai terserang pengapuran. "Jadi kalau mau ke wc, sekarang saya harus berjalan ngesot, kalau tidak ada yang membantu," tuturnya tanpa bermaksud mengeluh.

Noah berupaya bangkit dari rasa sakit. Meskipun tak bisa berjalan, ia tiap pagi tetap menemui pembeli sayuran di gelarannya di depan rumah. Ia ingin mempengaruhi sekitarnya dengan caranya, dengan segenap semangatnya untuk bekerja, tidak lengah dengan kekayaan, menikmati kesederhanaan dalam keseharian. []