Jakarta, (Tagar 13/3/2019) - Kekerasan terhadap Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri terus terjadi. Ironisnya kekerasan yang dilakukan sampai berujung pada kematian. Selain itu, ada yang sampai dihukum mati.

Cynthia Abdon-Tellez dari Mission for Migrant Workers mengatakan, kondisi yang dialami para pekerja migran terkait penganiayaan fisik tidak berubah sejak 1990-an. Pekerja menjadi rentan, karena persiapan di Indonesia yang disebutnya tidak memberikan cukup penjelasan tentang hak pekerja.

"Proses yang mereka lalui sebelum ke negara tujuan kerja, misalnya Hongkong, di kamp pelatihan oleh agen untuk belajar bahasa, mempelajari alat-alat rumah tangga, tapi mereka juga diminta untuk menurut kepada majikan," ujar Cynthia.

Berikut tiga pejuang devisa Indonesia yang tidak seberuntung Siti Aisyah.

1. Tuti Tursilawati

Tiga SrikandiTiga Srikandi Pejuang Devisa Indonesia. (Foto: Instagram/migrantcare)

TKW asal Majalengka, Tuti Tursilawati menjalani proses hukum selama kurang lebih delapan tahun di Timur Tengah.

Direktur perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementrian Luar Negeri RI, Muhammad Iqbal mengatakan perempuan kelahiran 1984 itu ditangkap otoritas Saudi Mei 2010, karena dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap majikannya Suud Mulhak Al Utaibi.

Tindakan itu dilakukan karena majikannya kerap melakukan pelecehan seksual dan kekerasan. Namun, saat terjadinya pembunuhan, sang majikan tidak melakukan apa yang dituduhkan Tuti, sehingga tidak bisa dijadikan pembelaan.

"Betul bahwa Tuti memang pernah mengalami harassment. Namun, pada saat Tuti melakukan pembunuhan tersebut, dia sedang tidak menghadapi pelecehan dari sang majikan sehingga tidak bisa dianggap sebagai defense," tutur Iqbal.

Iqbal mengatakan, Tuti membunuh Suud yang sudah lanjut usia dengan memukul menggunakan kayu, menurut kepolisian sudah disiapkannya. 

Karena itu, hakim memutuskan Tuti telah merencanakan pembunuhan. Pada 2011, hakim memvonis hukuman mati had gillah atau mati mutlak.

Had gillah merupakan salah satu tingkatan hukuman mati tertinggi di Saudi, setelah qisas dan takzir, lantaran tidak bisa diampuni oleh raja atau bahkan keluarga korban.

"Kalau divonis hukuman mati had gillah berarti yang bisa memaafkan hanya Allah SWT. Kalau qisas dan takzir kan masih bisa diampuni dengan diyat atau pengampunan raja dan keluarga," tutur Iqbal.

Meski berbagai usaha dilakukan pemerintah, mulai dari mengirimkan surat pada 2011 dan 2016 untuk meminta keringanan atas hukuman. Bahkan pemerintah juga memfasilitasi pengacara.

Selain itu, pemerintah juga melakukan pedampingan Kekonsuleran terhadap Tuti sejak 2011-2018. Justru Tuti dihukum mati tanpa adanya notifikasi kepada pemerintah Indonesia.

"Yang kami sayangkan adalah eksekusi Tuti dilakukan tanpa pemberitahuan notifikasi kekonsuleran kepada perwakilan RI di Jeddah dan Riyadh," kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, ia langsung bertolak ke Majalengka setelah mengetahui kabar eksekusi Tuti dan memberitahukan kabar tersebut. 

Tuti dieksekusi mati pada 29 Oktober 2018, sekitar pukul 09:00 pagi waktu Saudi di Kota Thaif. Staf KJRI Jeddah berada di sana dan menyaksikan pemakaman Tuti.

"Pemerintah mengungkapkan duka cita terdalam kepada keluarga Tuti Tursilawati. Kepada saya, keluarga Tuti mengatakan mereka telah ikhlas dengan apa yang telah dihadapi oleh Tuti," ungkap Iqbal.

2. Adelina Lisao

Tiga SrikandiTiga Srikandi Pejuang Devisa Indonesia. (Foto: newsapi)

Adelina Lisao merupakan salah seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal di rumah sakit Bukit Mertajam, Malaysia, Minggu (11/2/2018).

Perempuan 21 tahun itu ditemukan meninggal oleh penegak hukum Seberang Perai Tengah, Malaysia. Setelah mendapat laporan adanya dugaan penganiayaan terhadap seorang warga negara Indonesia. 

Saat itu kondisi Adelia kritis dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Bukit Mertajam. Melihat kondisi Adelia, diduga dianiaya oleh majikannya. Sempat menjalani perawatan yang intensif, akhirnya Adelia meninggal pada 11 Februari 2018. 

Sebelum meninggal, pihak penegak hukum tidak bisa mendapatkan keterangan, karena saat itu Adelia mengalami trauma berat. 

Meski begitu, aparat hukum Malaysia kemudian menahan dua orang kakak beradik yang merupakan majikan Adelina, beberapa saat setelah meninggal.

"Setelah menahan dua orang majikan, pada keesokan harinya, polisi kembali menahan seorang perempuan yang merupakan ibu kandung dari majikan Adelina," tutur Perwakilan Kementerian Luar Negeri, Tody Baskoro.

Otoritas hukum setempat menjerat dengan Pasal 302 hukuman pidana, dengan ancaman hukuman mati. Selain memulangkan jenazah Adelina ke kampung halamannya, Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI Penang berhasil mengupayakan pemenuhan hak-hak Adelina.

3. Erwiana Sulistyaningsih

Tiga SrikandiMirisnya Nasib Tiga Srikandi Pejuang Devisa Indonesia. (Foto: South China Morning Post)

Kisah yang dialami Erwiana Sulistyaningsih, mantan TKI asal Ngawi yang disiksa majikannya di Hongkong, sempat menjadi sorotan media tanah air bahkan media asing.

Erwiana ke Hong Kong pada 2013, kemudian bekerja dengan Law Wan-tung sebagai pembantu. Ia dipaksa tidur di lantai, bekerja 21 jam perhari dan tidak diizinkan untuk libur.

Gadis berparas cantik ini mendapat luka parah di wajah dan sekujur tubuh. Bila dianggap lamban bekerja, ia mendapatkan pukulan dengan menggunakan peralatan rumah tangga, gagang sapu, penggaris, dan gantungan baju.

Delapan bulan Erwiana menerima siksaan bertubi-tubi, hingga luka-lukanya infeksi. Karena tidak dibawa ke dokter oleh majikannya, ia dibiarkan sekarat dan tak mampu berjalan. 

Majikan Erwiana akhirnya ditangkap Kepolisian Hong Kong, saat berupaya kabur ke Thailand, Kemudian mendapatkan vonis enam tahun penjara.

Erwiana menjadi simbol pembelaan hak-hak buruh imigran perempuan. Bahkan namanya masuk dalam daftar 100 tokoh berpengaruh versi Majalah Time. []