Medan - Matahari bersinar terik siang di awal bulan Mei itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari Medan, saya pun sampai di sebuah gudang kopi yang cukup luas di bilangan Jalan Binjai, Kabupaten Deli Serdang.

Di areal pergudangan yang lumayan luas, terdapat satu ruangan berukuran sekitar 6 x 12 meter. Kipas angin berputar lumayan kencang untuk menghalau gerah. Terdengar cengkerama beberapa perempuan, yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga.

Saya mendatangi mereka dan mulai menyapa satu per satu. Tidak tampak wajah cemberut, namun semringah seolah tanpa beban hidup. Sembari bercerita-cerita, jari mereka tetap lincah di antara biji-biji kopi hijau (green bean) yang siap untuk dipasarkan.

Jari tangan mereka begitu lincah memisahkan biji-biji kopi yang cacat dari biji-biji kopi yang bagus. Dalam perkopian, proses ini disebut sortasi.

Biji-biji kopi yang rusak mereka taruh dalam baskom di atas meja, sementara biji-biji kopi yang sudah bersih dari yang cacat dikumpulkan kembali ke dalam goni.

Seorang di antara mereka mengatakan, pekerjaan ini ibarat ngumpul-ngumpul di teras rumah. Bedanya, ngumpul-ngumpul seperti ini menghasilkan uang.

"Daripada di rumah, tak ada hasil lebih baik di sini," ujar seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya- ia hanya menyebut marganya boru Nainggolan.

Dalam sehari, seorang bisa bisa menyortir 100 Kg kopi. Besar upahnya disesuaikan dengan kualitas kopi yang akan disortir. Ia menunjukkan biji kopi kualitas grade 2.

"Kalau seperti ini kan cacatnya tidak begitu banyak. Kalau ini segoni bisa upahnya Rp 50.000," ujarnya.

Segoni yang dimaksud setara dengan 100 Kg. Kalau gabah yang cacatnya lebih banyak, upahnya bisa Rp 80.000 – Rp 100.000 per goni.

Supaya upah bisa dirasakan, mau tidak mau waktu penyortiran pun harus dipercepat. "Dalam sehari ini mesti siap. Kalau sampai dua hari mengerjakannya, ya nggak bisalah kita kasih makan anak di rumah," kata seorang yang lain.

Buruh KopiBeberapa perempuan, mayoritas ibu rumah tangga, menyortir biji kopi mentah sebelum dipasarkan. (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Karena sistem borongan, maka upah mereka dibayar sesuai volume yang selesai dikerjakan. "Kalau tak datang, tak ada dapat upah. Tak ada bawa uang ke rumah," ujarnya.

Ibu-ibu ini bekerja membantu suami mereka yang umumnya bekerja serabutan, buruh pabrik dan sopir angkutan umum. Bagi mereka bekerja bukan hanya sekadar untuk makan, tapi juga untuk menyekolahkan anak agar kelak tidak menjadi buruh seperti mereka.

Keringat Penjemur Kopi

Kenikmatan secangkir kopi tidak akan dapat diseruput tanpa keringat yang bercucuran dari tubuh buruh penjemur kopi. Bekerja di bawah terik matahari merupakan tantangan biasa bagi mereka.

Setelah beranjak dari ruang penyortiran, pada siang yang terik itu, saya keluar ke halaman penjemuran kopi. Lima orang laki-laki mulai bergegas mengambil goni dan peralatan kerjanya masing-masing. Meski terik, tapi awan hitam tampak mulai muncul.

"Jangan sampai turun hujan," kata seorang di antara mereka. Siang itu, bergegas mereka bekerja berirama.

Seorang memegang goni, seorang lagi menyekop biji kopi dan memasukkannya ke goni. Mereka saling bergantian posisi.

Salah seorang di antara mereka, Edo, bertubuh kekar dan berkulit gelap.

"Orang bilang aku seperti orang Batak, padahal aku aslinya dari Banten. Bapakku dulunya veteran dari Jawa dikirim ke Sumatera," katanya.

Edo belum lama bekerja di gudang kopi itu. "Baru mau jalan sebulan," katanya. Sebelumnya dia bekerja di pabrik karet namun di-PHK karena perusahaan tutup.

Buruh KopiEdo (kanan), buruh penjemur kopi bekerja di bawah terik matahari. (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Dia dibayar dengan sistem borongan. Per 100 Kg upah per orang Rp 10.000. Penjemuran bisa memakan waktu tiga sampai tujuh hari. Jika misalnya lima orang buruh jemur mengerjakan 16 ton (1 kontainer) gabah kopi dalam seminggu, maka seorang bisa mendapat upah sekitar Rp 300.000.

"Daripada menganggur," ujarnya.

Menurut Edo, pekerjaan ini menguras energi yang banyak. Belum lagi jam kerja yang tak tentu. Kadang mereka juga bekerja sampai malam. Namun, baginya itu sudah biasa.

"Nggak tetap. Pokoknya setiap ada jemuran, kita kerjakan. Kalau nggak ada, tak dapat upah. Tapi kalau lagi banyak, bisa sampai malam," ujarnya.

Biji kopi yang selesai dijemur diikat dengan kuat, disusun di gudang menunggu dikirim ke pembeli.

Sesampai ke tangan pembeli, biji kopi itu disangrai dan siap diseduh. Kenikmatannya tak hanya diseruput di rumah-rumah saat sarapan, tapi juga di kedai-kedai kopi papan atas.

Bagi Edo sendiri, yang masih melajang walau usia sudah beranjak 38 tahun, kopi tidak lebih dari tumpukan goni yang setiap hari membuatnya berkeringat dan upah untuk menyambung hidup.

Upah yang didapatnya belum mampu mengubah hidupnya. "Gimana mau menikah, untuk diri sendiri saja masih pas-pasan," ujarnya.

Namun, tanpa peluh orang seperti dia, barangkali tak akan ada kopi nikmat yang bisa diseruput di kedai-kedai kopi hingga kafe papan atas. []

Artikel lainnya: