Sleman - Menjadi pengusaha pada usia relatif muda apalagi dengan tanpa modal uang bukan perkara mudah. Butuh mental dan keuletan yang kuat. Seperti yang dialami Ahmad Jarifin, 28, pemuda asal Pati, Jawa Tengah yang kini tengah sukses menjajaki usahanya menggeluti susu kedelai yang ia jual di berbagai wilayah, khususnya di Sleman, Jogja dan sekitarnya.

Kesuksesan pemuda kelahiran 2 Februari 1992 itu tidak lepas dari kerja keras dan semangatnya yang tinggi. Prosesnya membutuhkan lebih dari sekadar niatan saja dan tidak semudah yang dibayangkan orang. Berawal pada 2010 Jarifin sudah berada di Yogyakarta dan memulai kuliah tahun 2011, dia berasal dari keluarga kurang mampu. Ia sempat nyantri untuk menimba ilmu di pondok pesantren Almunawir Krapyak, tepatnya di kompleks L di bawah asuhan Gus Munawar Ahmad (cucu mbah Munawir Krapyak) selama tiga tahun dari 2010 hingga 2013.

Saat di Krapyak, Jarifin setiap hari mengawali pagi dengan menjual koran di perempatan lampu merah dongkelan, Jalan Bantul. Ketika itu minat masyarakat untuk membeli koran masih relatif tinggi. Ia biasa mendapatkan keuntungan lumayan untuk uang jajan selama di pondok.

Kemudian malamnya jualan kaos kaki di depan Benteng Vredeburg kawasan titik nol km Malioboro. Semua itu dilakukan sebagai bekal tambahan ketika nanti akan kuliah. Karena menyadari dirinya yang serba kekurangan dari sisi finansial dibanding dengan teman-temannya yang dari keluarga tercukupi kebutuhannya. Ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhannya, salah satunya dengan cara berjualan koran dan kaos kaki itu di Yogyakarta.

Sekarang omzet saya per bulan kurang lebih Rp 10 jutaan.

JarifinProses penggilingan kedelai dan penggodokan susu kedelai di rumah produksi Jarifin. (Foto: Tagar/Aji Shofwan Ashari)

Ketika Keluarga Dirundung Duka

Ia sudah akrab dengan keringat dan bisingnya lalu lintas kendaraan bermotor yang melewati tempatnya berjualan itu, begitu juga orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Di saat teman-temannya merasa gengsi melakukan pekerjaan sepertinya, Jarifin telah mengajarkan arti perjuangan hidup dengan menerima keadaan dengan ikhlas dan bekerja keras bersama semangat yang ia bangun sejak menginjakkan kaki di Yogyakarta. Ia telah membuang perasaan malu, gengsi, dan atau sebagainya, Jarifin sudah lebih maju dalam hal pemikiran, dan itu yang membentuknya menjadi pemuda dengan jiwa yang kuat.

Sempat mengenyam bangku kuliah sejak 2011. Ia menempuh pendidikan di bangku kuliah sampai dengan semester lima, Jarifin mengambil Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Saintek (Sains dan Teknologi) di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengambil jurusan Pemad (Pendidikan Matematika) bukan asal-asalan, akan tetapi dengan pertimbangan yang matang bahwa sejak di sekolah ia pintar dan cerdas dalam hal hitung-hitungan. Bahkan, ia pernah membuka les privat matematika dan Grammar Bahasa Inggris di tahun 2014, Karena pernah belajar di Pare selama lima bulan untuk memperdalam wawasan Bahasa Inggrisnya. Semua biaya hidup dan pendidikannya saat itu ia usahakan secara mandiri.

Sayangnya, Jarifin harus menerima kenyataan, saat memasuki semester lima di 2014 keluarganya dirundung duka yang menyebabkannya justru menjadi seorang pria bertekad kuat dan tangguh seperti sekarang. “Saat itu bapak sakit dan akhirnya meninggal,” kenangnya saat berbincang dengan Tagar, di Depok, Sleman, Yogyakarta, Minggu, 7 Juli 2019.

JarifinJarifin menyaring susu kedelai dengan memisahkan antara sari susu dan ampas kedelai. (Foto: Tagar/Aji Shofwan Ashari)

Saat seorang bapak yang menjadi tulang punggung utama dalam menyokong kebutuhan keluarga telah tiada. Membuat Jarifin kondisinya menjadi tidak stabil dan terguncang hatinya sehingga membuatnya harus memilih di antara dua pilihan yang paling berat, yaitu kuliah atau kerja? Satu sisi ia memikirkan biaya pendidikan adiknya sudah tidak ada lagi yang membiayai.

Belajar Membuat Susu Kedelai

Dengan banyak pertimbangan akhirnya ia putuskan untuk menanggung beban keluarga termasuk biaya sekolah adiknya dan memilih keluar dari UIN Sunan Kalijaga lalu berikhtiar mencari penghidupan sendiri di Yogyakarta. Dari pondok Almunawir ia mencoba melamar menjadi takmir atau marbot di sejumlah masjid dan akhirnya diterima di Masjid Baitur Rohman Pringgolayan, Condongcatur, Depok, Sleman.

Pada 2012 Jarfin belajar membuat susu sari kedelai dengan bahan seadanya dan pengetahuan secara otodidak. “Saya belajar dari seminar,” ujarnya.

Di masjid itulah, ia menjalankan usaha pembuatan susu kedelai.

“Di Masjid Baitur Rohman punya BMT (Baitul Mal wa Tanwil), di sana ada usaha susu kedelai yang kemudian saya diberi tanggung jawab untuk membuat susu kedelai dan sekaligus memasarkannya,” kata Jarifin.

Dari usaha yang dirasa cukup baru itu ternyata respons masyarakat sangat baik. Maka, setelah dapat ilmu mengenai susu kedelai tersebut, Jarifin memutuskan keluar dari masjid dan mencari indekos untuk memulai membangun sendiri usaha susu kedelainya perlahan-lahan. Dengan keuletan dan tekad kuat serta semangatnya yang tinggi itu Jarifin menggenjot usahanya membuat susu sari kedelai itu dan memperluas pasarnya di berbagai daerah hingga kampus-kampus, khususnya di daerah Sleman.

JarifinProses pengemasan susu kedelai masih dilakukan manual dengan menggunakan plastik. (Foto: Tagar/Aji Shofwan Ashari)

“Susu kedelai adalah minuman bergizi, banyak vitamin, banyak kandungan yang bagus untuk tubuh manusia, banyak orang yang tidak suka susu sapi beralih ke susu kedelai karena banyak kelebihannya,” katanya di sela-sela kesibukan.

Cara Pembuatan

Untuk cara pembuatannya, Jarifin biasa mempersiapkan beragam ubarampe sendiri untuk menghasilkan produknya. Ia menyiapkan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan susu sari kedelai, kemudian sebelum dibuat menjadi sari susu, kedelai harus direndam selama tujuh sampai delapan jam supaya lunak ketika dimasukkan mesin penggiling. Misalkan untuk membuat pagi pukul 03.00 WIB, berarti delapan jam sebelumnya sudah harus direndam. Dan ia melakukannya kegiatan itu setiap hari.

Jarifin biasa menyiapkan bumbu di antaranya; gula alami, gula aren atau gula kelapa. Setelah delapan jam kedelai digiling dengan mesin penggiling kedelai. Setelah terpisah intisarinya kemudian direbus sampai mendidih baru dikasih bumbu, antara lain gula, gula aren, dan garam. Kemudian di atur sesuai dengan yang kita inginkan rasa manisnya, kemudian dikemas plastik. Bahkan dia sering jarang tidur untuk mempersiapkan itu semua apalagi dengan cara pembuatan yang masih manual.

Cara pembuatan yang masih manual itu dengan menggunakan plastik dan kap aqua yang dijadikan wadah untuk susu sari kedelai. Berkat ketekunannya, saat ini ia telah mencapai pelanggan 180 outlet atau supplierr, untuk langganan sudah 200 orang lebih. Sehari ia dapat menghasilkan susu kedelai sampai 500-600 bungkus ukuran sekitar 250 mililiter yang ia jual dengan harga murah meriah yaitu dua ribu rupiah.

Kini ia sudah memiliki rumah produksi sendiri dengan tiga orang karyawan, dua orang ibu-ibu, yang satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Bahkan untuk mengembangkan usahanya, ia sudah bisa menyewa salah satu kantin di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya kantin di Fakultas Adab. Ia mendapatkannya dari seorang teman sesama saat kuliah di Fakultas Saintek yang kemudian dioper kontrak.

JarifinHasil produksi susu kedelai yang siap dipasarkan di warung-warung sekitar dan kantin-kantin di beberapa kampus Yogyakarta. (Foto: Tagar/Aji Shofwan Ashari)

Sepuluh Juta Sebulan

"Sekarang omzet saya per bulan kurang lebih Rp 10 jutaan,” kata Jarifin.

Untuk menstabilkan pasar ia menjelaskan antara lain menjaga kepercayaan atau trust langganan. Dengan begitu ia yakin akan bisa terus survive di pasaran.

“Pelanggan adalah suatu hal yang penting bagi saya. Kalau tidak ada pelanggan, tidak bisa produksi dan sebagainya. Kami menjaga betul pelanggan, bagi saya pelanggan adalah raja. Kami memberikan pelayanan yang memuaskan. Untuk menyiasati dengan penjual lain, di antaranya kita buat rasanya tetap terjaga, tidak berubah, mengena, rasa kualitas tetap aman, kualitas pengiriman tepat waktu, kualitas pengemasan sangat baik, perekrutan karyawan baik, dan pelayanan yang terbaik pokoknya,” ujarnya.

Kini susu kedelai "Keraton" itu telah menjadi merek dagangnya banyak dikenal masyarakat Yogyakarta. Setelah sukses dengan usaha susu kedelainya, Jarifin kini pun juga telah membangun rumah sendiri sekaligus sebagai tempat produksi dari tanah yang ia sewa selama sepuluh tahun di dekat selokan Mataram, Condongcatur Depok, Sleman.

Di rumah usaha susu kedelai itu juga Jarifin membangun beberapa kamar untuk indekos yang ia sewakan kepada mahasiswa. Begitulah ide Jarifin untuk mendapatkan sumber pundi-pundi dan lahan pendapatan baru guna menambah penghasilan yang lebih banyak lagi demi memenuhi kebutuhan keluarga di kampung halaman.

Ia berpesan kepada para pemuda, jangan takut untuk memulai usaha, harus diawali dari tekad dan mental yang kuat. Ia telah membuktikannya meski dengan modal nol rupiah namun mampu membangun usaha sedikit demi sedikit.

"Intinya niat, berani, dan selalu jujur dalam membangun usaha, terutama jujur yang diterapkan pada produk kita demi menjaga kualitas," ucapnya. []

Tulisan feature lain: