Jakarta, (Tagar 13/3/2019) - Hubungan percintaan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan putri presiden kedua Soeharto, Siti Hediati Hariyadi Soeharto atau Titiek Soeharto ternyata sempat dibahas ayah Prabowo, yakni Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam buku biografi berjudul "Jejak Perlawanan Begawan Pejuang", Mantan Menteri Perdagangan era orde baru itu, menyebut pernikahan antara keduanya terjadi setelah mereka berpacaran selama dua tahun.

Titiek bukanlah wanita pertama yang dekat dengan Prabowo. Sebelumnya, Sumitro menyebut anak sulungnya itu pernah beberapa kali dekat dengan lawan jenis. Prabowo bahkan disebut pernah menjalin hubungan yang serius dengan seorang gadis asal Yogyakarta, meski kemudian kandas.

Awalnya, Sumitro tidak mengetahui ihwal siapa Titiek. Staff pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu baru menyadari ketika Titiek Soeharto, yang tak lain adalah muridnya di FEUI, menyambangi rumahnya. Belakangan, dia juga baru tahu bahwa Titiek merupakan putri dari presiden Soeharto.

Hubungan antara Sumitro dengan Keluarga Cendana kala itu sedang dalam kondisi tidak terlalu baik. Pasalnya, saat Sumitro menjabat sebagai Menteri Perdagangan, dirinya sempat menolak permintaan Ibu Negara Tien Soeharto. Beruntung, hubungan Prabowo-Titiek mendapat restu dari Ibu Tien.

Suatu ketika, saat bertemu dalam sebuah acara, Tien Soeharto mendekati Sumitro dan berbisik dan bertanya mengenai kedekatan Prabowo dan anaknya. Tjoa Hok Sui, orang kepercayaan Probosutedjo yang turut berada disana, mendorong Sumitro segera meresmikan hubungan mereka berdua.

Prabowo yang ditanya oleh Sumitro kemudian menjawab, "Ya, nanti saya lamar". Meski kemudian dia diberitahu bahwa kalau tak boleh melamar sendiri, melainkan harus menghadirkan pula pihak keluarga.

Acara lamaran pun terjadi. Soeharto yang kala itu menerima kedatangan Sumitro dan keluarga, menjawab:

"Pak Mitro, tentu kita betul-betul merasa bahagia, tapi saya harus bicara juga sama kedua anak ini terlebih dahulu untuk kasih nasihat. Bagaimanapun juga pasti masyarakat luas akan menyoroti ini, mengingat saya sebagai kepala negara dan Pak Mitro sebagai cendekiawan terkemuka."

Setelah lamaran diterima, pernikahan digelar pada pada Mei 1983. Saat itu, mantan Panglima ABRI Jenderal M Jusuf didaulat sebagai saksi pernikahan.

Pernikahan mereka berdua kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Ragowo Hediprasetyo atau lebih dikenal sebagai Didit Prabowo.

Sayangnya, selepas lima belas tahun hidup bersama, hubungan mereka kandas dengan perceraian. Kondisi politik pasca kerusuhan Mei 1998 disebut-sebut sebagai sebab perpisahan mereka.

Keduanya dikabarkan bercerai sebelum Prabowo bertolak ke Yordania untuk mengasingkan diri pada akhir tahun 1998. Namun, tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya perceraian tersebut terjadi. []