Jakarta - Gus Miftah menjadi sorotan, pernyataan Deddy Corbuzier menjadi mualaf erat kaitannya dengan ulama muda ini. Belum banyak yang mengetahui, bagaimana pasang surut dan titik balik kehidupannya, sebelum menjadi sosok populer seperti sekarang ini.

Pria yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini lahir di Desa Adiluhur, Jabung, Lampung Timur. Tercatat, ia menempa pendidikan agama sebagai santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Bustanul Ulum Jayasakti, Lampung Tengah. 

Setelah menyelesaikan jenjang Madrasah Aliyah dengan predikat peraih nem tertinggi sebagai santri madrasah se-Provinsi Lampung, selanjutnya Gus Miftah hijrah pada tahun 1999 ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam tayangan YouTube yang terdapat pada kanal "Kabar Baru", Gus Miftah menyebut dirinya Pujakesuma, putera Jawa kelahiran Sumatera.

Pria berdarah Ponorogo ini sempat bimbang harus menetap di Surabaya atau DIY, setelah menyelesaikan pendidikan agama. 

Berbekal uang tabungan sebesar satu juta rupiah dari beasiswa di Lampung, ustaz berambut gondrong ini kemudian mendaftar di kampus IAIN, belakangan berevolusi menjadi UIN Sunan Kalijaga. Ia mendaftar di Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam. 

Di Kota Gudeg, pria berusia 37 tahun ini langsung merasa hidup terkatung-katung, merana karena tak punya tempat tinggal. Ingin meminta pesangon kepada orang tuanya pun enggan. Meski hidup sebatang kara, dirinya sudah bertekad tak mau meminta sepeser rupiah pun dan hanya mau dikirimi Al-Fatihah oleh Ibundanya di Lampung. 

Di Yogyakarya, Gus Miftah menetap di masjid. Ia menjadi seorang marbot serta menjadi tukang kebun.

"Mau minta sudah kadung bilang sama orang tua hanya minta kirimin Al-Fatihah. Akhirnya saya memutuskan tinggal di Masjid Baiturrahman di Taman Siswa, Kota Yogyakarta," ungkapnya.

Pria yang lahir dari kalangan Nahdliyin ini mengaku harus beradaptasi lagi di lingkungan baru yang kental dengan nuansa Muhammadiyah

Untuk mencari uang saku sekaligus untuk makan sehari-hari, Gus Miftah sempat berdagang aksesoris di Alun-Alun Utara DIY. 

"Jualan itu harus saya lakukan buat pingin eksis, bukan pingin sukses," ucap dia.

Kemudian lelaki kelahiran 5 Agustus 1981 ini menyambi menjadi Ketua Paguyuban Ketua Pengemudi Becak Yogyakarta, yang berkantor di Giwangan. Jabatan tersebut pernah ia emban karena Gus Miftah dianugerahi Tuhan memiliki kecakapan berbicara di depan publik. Utamanya, karena ia pernah menjadi seorang penarik becak selama 6 bulan. 

Namun, mencari nafkah sebagai penarik becak harus ia hentikan, dengan alasan tidak cocok. Dia pernah dirawat di rumah sakit sebanyak dua kali karena penyakit tifus dan demam berdarah. Akibatnya, uang yang telah ia sisihkan untuk tabungan pun selalu ludes tanpa sisa. Bahkan, ia harus meminjam uang amir masjid untuk membayar biaya pengobatannya kala itu. 

Tahun 2004, Gus Miftah dipertemukan dengan Tutut Soeharto yang mengajaknya menjadi seorang pendatang baru di dunia politik. Ia mengaku diajak masuk ke Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang pada akhirnya ia cicipi mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dengan kendaraannya saat itu PKPB. 

Namun, upayanya yang ingin mencoba jalur politik harus kandas di tengah jalan. Ia memang tidak mujur di jalan itu, karena tidak banyak masyarakat yang memilihnya.

Setelah ia sadari, menurut Gus Miftah, investasi termahal di dunia ini adalah merajut silaturahmi antar sesama. Hal tersebut ia petik dari sabda Nabi Muhammad SAW. "Orang bersilaturahmi itu memanjangkan umur, itu memudahkan rezeki," imbuh dia.

Meskipun tak melenggang sebagai wakil rakyat, investasi di PKPB pun ia rasa tidak sia-sia. Di sana ia dapat mengenal banyak kolega, yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan salah satu pemilik lembaga kursus Primagama. 

Kala itu, Gus Miftah, sangat kepepet butuh uang untuk lamaran menikah dan tanpa ia sangka-sangka malah dihampiri rezeki. Dia ditawari mengisi jabatan sebagai kepala cabang Primagama pada posisi Manager Outlet di Cakung, Jakarta Timur.

"Waktu itu tahun 2005 gajinya Rp 1,3 juta belum termasuk insentif. Saya mikir ini mau menikah, gaji segitu lalu tinggal di Jakarta apa cukup," ucapnya mengisahkan.

Dengan tekad bulat ia ambil pekerjaan tersebut, meskipun mesti hijrah lagi ke kota besar yang belum tentu ramah dengannya, dengan sejuta teka-teki di benaknya yang baru saja benar-membuka lembaran baru dari mahligai rumah tangga. 

Di sana berselang satu tahun, saya bertemu dengan almarhum Gus Dur di Ciganjur. Setiap minggu pagi saya sowan. Gus Dur berkata kepada saya, kalau saya punya dua pilihan. Pertama, tidak usah kerja di Jakarta untuk pulang saja ke Lampung membesarkan Ponpes Bustanul Ulum, atau pulang lagi ke Yogyakarta bikin pesantren di sana.

Gus Miftah mengaku dibuat dilema dengan dua pilihan tersebut, karena ia dan istri masih pengantin baru yang baru menikah seumur jagung. Gus Miftah malah kehilangan pekerjaan karena dipecat Primagama. Padahal, kata dia, pada waktu yang bersamaan, anak pertamanya baru saja lahir. 

Dalam kondisi keruntuhan finansial, bersama keluarga, ia memilih kembali ke Yogyakarta. Namun, Gus Miftah kembali tertimpa musibah tak kalah besar, rumah mertua yang ia tinggali ambruk terkena gempa bumi.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, saat memberanikan diri membuat perusahaan Elmifta Visitama yang bergerak di bidang penjualan rokok. Demi menghidupi si buah hati dan istri, ia beranikan diri untuk mengadaikan sertifikat milik mertuanya ke seharga Rp 35 juta, untuk mencari modal awal. 

Namun nahas, dana tersebut yang rencananya akan ia gunakan untuk shared modal justru dibawa lari oleh teman dekatnya.

"Padahal yang hutang atas nama saya. Gak punya pekerjaan, tanpa penghasilan, sampai mertua saya menangis malu punya menantu seperti saya. Di tengah kegalauan saya ditelepon sama Lativi yang menawarkan pekerjaan pada program Ustad Favorite Grebek Sahur Lativi," kata dia dalam video berdurasi 54 menit itu.

Dalam program di Lativi, pria berdarah Ponorogo ini mengaku, sempat lolos audisi hingga ke babak final. Di sana Gus Miftah mulai mengenal deretan artis ibu kota, di antaranya adalah David Chalik, Asty Ananta, almarhum Basuki, Azis Gagap dan masih banyak yang lainnya. 

Saat itu ia menyebut ditawari kontrak oleh manajemen televisi swasta tersebut, namun dengan alasan prinsipal, dirinya harus menolak karena kerumitan perjanjian kontrak kerja. 

Gus Miftah dengan terang-terangan mengungkapkan tak suka apabila kerja harus melibatkan pihak lain. "Karena apa? Mau undang ustad kok melalui manajemen? Saya mikir ini podo kara ngundang lonte karo germo. Saya tidak mau, lalu saya pulang kembali ke Yogyakarta," cetusnya.

Pertemuan dengan Gus Dur merubah seluruh hidupnya. Mantan Presiden ke-4 RI itu sejak 2007 telah berpesan, bahwa rezeki Gus Miftah ada di belakangnya. Bertahun-tahun ia tak menemukan makna tersirat yang dituturkan Abdurahman Wahid. 

Hingga suatu waktu dirinya dibuat tersadar, ia tidak lagi akan berbisnis dan bekerja. Gus Miftah dengan teguh bertekad ingin fokus dengan agama Islam saja.

Tahun 2010 tanpa disangka-sangka ia mendapatkan limpahan rezeki dari jamaah pengajian. Perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibu angkat ini, memberinya sebuah amplop yang berisikan sertifikat tanah seluas 1.500 meter persegi.

Dengan kepemilikan tanah seluas itu, ia bermimpi membentuk sebuah Ponpes dengan konsep tak memungut biaya dari para santri, tak memungut biaya makan dan minum, dan Ponpes ini bebas dari biaya Pendidikan. Hal tersebut harus ia wujudkan yang menjadi bagian awal dari cita-cita berjuang di jalan Allah.

"Di mana ada kemauan pasti ada jalan, niat saya untuk membuat tamu-tamu saya bahagia dan pesantren ini dibuat untuk mendekatkan saya dengan Tuhan," ujar dia.

Pada tahun 2012, Gus Miftah berniat membuat suatu pengajian tanpa panitia, tanpa kotak infaq, dan tanpa proposal. Mimpi ini, bagi dia, harus terealisasi. Dia percaya, ini lah rezeki yang sesungguhnya.

"Alhamdulillah, sampai hari ini pengajian sudah berjalan 5 tahun, yang datang 5.000-7.000 orang. Semuanya makan tanpa panitia, tanpa kotak infaq, dan sampai hari ini saya tidak bangkrut," tukasnya.

Dari pengajian yang ia gagas ini lah, Gus Miftah dipertemukan dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. "Investasi yang saya lakukan adalah silaturahmi. Dan saya katakan, the power of la haula wala quwwata illa billa," tutup Gus Miftah. []

Baca juga: