Yogyakarta, (Tagar 7/3/2019) - Keraton Yogyakarta sudah berusia hampir 300 tahun. Pergantian raja atau Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) sudah berlangsung 10 kali selama tiga abad ini.

Berikut sejarah raja-raja Keraton Yogyakarta:

Sri Sultan HB I (1755-1792)

Lahirnya Keraton Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Perjanjian ini merupakan kesepakatan tiga belah pihak, yakni VOC, Kasultanan Mataram yang diwakili Sunan Paku Buwono (PB) III dan kelompok Pangeran Mangkubumi.

Perjanjian Giyanti ini sekaligus menandai berakhirnya Kasultanan Mataram secara de facto dan de jure. Dari perjanjian ini, Kasultanan Mataram dibagi menjadi dua bagian. Sebelah timur Sungai Opak (Prambanan Jawa Tengah) menjadi milik Kasunanan Mataram atau Surakarta, yakni Sunan Paku Buwono III.

Sebelah barat Sungai Opak, atau Yogyakarta yang merupakan daerah Mataram yang asli, diberikan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian diangkat sebagai Sultan Hamengku Buwono (HB) I. Sebulan setelah Perjanjian Giyanti, tepatnya 13 Maret Keraton Yogyakarta resmi berdiri.

Siapa Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan HB I yang pendiri Keraton Yogyakarta itu? 

Mengutip dari berbagai sumber, Pangeran Mangkubumi lahir pada 5 Agustus 1717 dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono. Dia merupakan putra Sunan Amangkurat IV melalui istri selir bernama Mas Ayu Tejawati.

Pangeran Mangkubumi mahir dalam keprajuritan, berkuda dan bermain senjata. Selain itu, dia taat beribadah; salat lima waktu, puasa Senin dan Kamis dan mengaji dengan tetap menjunjung tinggi Budaya Jawa. Dia dianggap sebagai peletak dasar budaya Mataram.

Berkat kecakapannya dalam berperang, Pangeran Mangkumi yang memiliki 3.000 prajurit berhasil membebaskan banyak daerah yang dikuasai VOC. Perjuangannya melawan VOC ini diabadikan dalam relief di sekitar kompleks Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Banyak peninggalan Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan HB I sepanjang hayatnya. Selain arsitektur istana maupun Kompleks Keraton yang sarat nilai filosofis, juga membangun kompleks istana air, Taman Sari yang fenomenal sampai saat ini. Banyak sejarawan HB I sebagai "a great builder”, sejajar dengan Sultan Agung.

Dalam bidang seni, peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I di antaranya adalah: Beksan Lawung, Tarian Wayang Wong Lakon Gondowerdaya, Tarian Eteng, dan seni Wayang Purwo. Gendhing kehormatan raja “Raja Manggala” dan “Tedhak Saking” juga diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sri Sultan HB I wafat pada 24 Maret 1972 dimakamkan di Kompleks Makam Raja, Astana Kasuwargan Imogiri Kabupaten Bantul. Pemerintah Indonesia menganugerahi Sri Sultan HB I sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasa dalam memperjuangkan jati diri bangsa.

Sri Sultan HB II (1792-1828)

Sri Sultan HB II bernama lahir Raden Mas (RM) Sundoro, pada 7 Maret 1750. Dia merupakan anak dari Sri Sultan HB I dari permaisuri kedua bernama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kadipaten. Dia lahir di lereng Gunung Sindoro saat pengungsian akibat perang melawan VOC. Saat usia delapan tahun, RM Sundoro diangkat menjadi putra mahkota, penerus tahta.

HB I sebenarnya sangat berkeinginan menyatukan kembali Dinasti Mataram yang terpecah dua, Surakarta dan Yogyakarta. Cara dengan menjodohkan RM Sundoro dengan putri PB III, tapi upaya itu gagal. Dinasti Mataram semakin sulit untuk disatukan kembali.

HB II ini meneruskan perjuangan ayahnya. Mengingat daerah kekuasaan Keraton Yogyakarta banyak yang dicaplok VOC. HB II juga membangun tembok mengelilingi alun-alun utara dan selatan Yogyakarta. Di dalam tembok itulah istana Keraton Yogyakarta. Tembok itu bernama Baluwarti.

Peristiwa internasional berpengaruh pada masa pemerintahan HB II. Saat itu, VOC bangkrut dan Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Napoleon dari Perancis. Dampaknya, daerah yang dikuasai VOC dikendalikan pemerintah Belanda di bawah kendali Perancis. Termasuk mengharuskan Raja Jawa tunduk kepada Raja Belanda.

HB II menolak aturan itu. Daendels membawa 3.300 pasukan ke Yogyakarta menekan HB II. Sempat terjadi peperangan, namun HB II dipaksa turun tahta dan trah mahkotanya RM Surojo sebagai HB III pada 31 Desember 1810. HB II juga harus menandatangani perjanjian dengan Belanda dengan syarat memberatkan.

Namun, perjanjian itu tidak sempat dilaksanakan karena Inggris datang dan memukul mundur Belanda. HB II mengambil kembali tahtanya. Pemerintah Inggris menggempur Keraton Yogyakarta pada 19-20 Juni 1812. Peristiwa Geger Sepehi ini keraton diduduki Inggris, harta benda termasuk ribuan karya sastra Jawa dijarah, dibawa ke Inggris sampai saat ini.

Selama hayatnya, HB II dua kali mengalami pembuangan yakni di Pulau Pinang dan Ambon. Selama hayatnya pula, HB II meninggalkan karya monumental. Pertama, satuan keprajuritan persenjataan semakin baik, membangun tembok benteng Baluwarti yang dilengkapi meriam untuk melindungi Keraton dari serangan luar.  Di bidang sastra, HB II juga mewariskan karya-karya fenomenal.

Keraton JogjaAbdi dalem: Para abdi dalem, selain melayani keraton juga bertugas membawa dan mengajarkan seni dan budaya Keraton di tengah-tengah masyarakat. (Foto: Dok Keraton Yogyakarta/Tagar/Ridwan Anshori)

HB III (1810 - 1814)

Lahir bernama RM Surojo pada 20 Februari 1769. Dia putra HB II dengan GKR Kedhaton. HB III orang yang pendiam dan cenderung mengalah. Dia diangkat sebagai HB III oleh Kolonial Belanda dengan melengserkan HB II.

Saat Inggris mengalahkan Belanda dan merebut tanah Jawa, HB III dilengserkan dari statusnya dan kembali menjadi putra mahkota. HB II kembali naik tahta. Saat HB II meninggal, HB III resmi menggantikannya.

HB III ini satu saudara dengan Pangeran Diponegoro, satu ayah namun beda ibu. Pangeran Diponegoro tidak mau tinggal di dalam istana, namun memilih tinggal bersama neneknya mendalami ilmu agama. Pangeran Diponegoro mengobarkan perlawanan terhadap Belanda yang dicatat dalam sejarah pemerintah kolonial sebagai perang yang paling menguras energi dan biaya.

HB III wafat pada 3 November 1814 di usia 45 tahun dan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Imogiri Bantul. HB III menjadi raja hanya 865 hari. Meski tergolong singkat, namun banyak peninggalannya.

Salah satunya Kampung Ketandan Malioboro, sebagai pusat niaga serta budaya Tionghoa di Yogyakarta. HB III membangun Kampung Ketandan ini sebagai tempat para pekerja pemungut pajak yang digeluti pendatang dari China.

HB IV (1814 - 1822)

Lahir pada 3 April 1804 dengan nama kecil GRM Ibnu Jarot, anak bungsu dari HB III dengan GKR Hageng. Dia menjadi raja saat berusia 10 tahun. Karena masih muda, HB IV dalam menjalankan pemerintahan didampingi wali raja sampai akil balig atau usia 16 tahun.

Sejak menjalankan pemerintahan secara mandiri, HB IV meninggal dunia pada 6 Desember 1822. Dia meninggal di usia muda, 19 tahun. Namun, memiliki sembilan istri dan dikaruniai 18 anak. Salah satu anaknya dari permaisuri GKR Kencono, GRM Gatot Menol kelak diangkat sebagai HB V di usia 3 tahun.

Selama pemerintahannya, tidak banyak karya sastra dan seni yang dihasilkan pada masa HB IV. Kebijakan lebih banyak dikendalikan ibu dan Belanda. Tercatat dua kereta pusaka Keraton yang dihasilkan HB IV, yakni kereta kencana Kyai Manik Retno, Kyai Jolodoro dan kereta kecil untuk pesiar.

HB V (1823 - 1855)

Lahir pada 20 Januari 1821 dengan nama GRM Gatot Menol. Dia merupakan anak dari HB IV dengan GKR Kencono. Diangkat menjadi raja saat berusia 3 tahun. Dalam menjalankan pemerintahan dibantu dewan perwalian yang terdiri beberapa orang dengan ketugasan masing-masing.

Salah satu anggota dewan perwalian adalah Pangeran Diponegoro. Pada masa pemerintahan HB V inilah terjadi perang Diponegoro (1825-1830). Perang ini dipicu karena kolonial Belanda banyak menyewakan tanah keraton kepada orang Eropa serta menarik pajak tinggi dari masyarakat. Selain itu, saat itu juga terjadi wabah kolera dan gagal panen yang semakin menyengesarakan rakyat.

Kondisi ini yang membuat Pangeran Diponegoro keluar dari dewan perwalian Keraton dan mengobarkan perlawanan terhadap Belanda. Sejarah mencatat, Perang Diponegoro atau Perang Jawa ini menjadi peperangan terbesar pemerintah kolonial.

Selama dua tahun pertama perang, Belanda mengerahkan 6.000 pasukan infanteri dan 1.200 pasukan artileri. Belanda mengalami kerugian besar dari perang ini. Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro dan mengasingkannya di Manado dan wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, HB V mengambil strategi taktik perang pasif dengan Belanda. Melawan tanpa pertumpahan darah. Hubungan Keraton dengan Belanda saling menguntungkan. Saat masa damai ini, HB V banyak menghasilkan karya sastra, tari-tarian dan keris pusaka. HB V wafat pada 5 Juni 1855 dan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Imogiri, Bantul.

Keraton JogjaBeksan Lawung Agung: Para abdi dalem sedang membawakan tarian atau beksa Lawung Ageng yang biasanya disuguhkan dalam perayaan besar Keraton atau menjamu tamu penting. (Foto: Dok Keraton Yogyakarta/Tagar/Ridwan Anshori)

HB VI (1855 - 1877)

Lahir dengan GRM Mustojo pada 10 Agustus 1821. Dia bukan anak dari HB V, melainkan adik kandungnya. Dengan kata lain, anak dari IV dari permaisuri GKR Kencono. HB VI naik tahta pada 5 Juli 1855.

Saat berusia 27 tahun, HB VI menikahi puteri Susuhunan Paku Buwono VIII dari Surakarta, bernama GKR Kencono. HB VI mengangkatnya sebagai permaisuri dan bergelar GKR Hamengku Buwono.

Pernikahan ini menjadi sejarah terjalinnya Dinasti Mataram, sekaligus kembali hubungan baik di antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang sejak Perjanjian Giyanti (1755) sering terjadi ketegangan. HB VI juga menikahi puteri dari Kerajaan Brunei.

Pada masa HB VI, tepatnya 10 Juni 1867 terjadi gempa bumi berkekuatan 6,8 skala richter mengguncang Yogyakarta. Gempa besar ini membuat 500-an orang meninggal, merusak ratusan banguan milik Keraton.

HB VI meninggal pada 20 Juli 1877 saat usia 56 tahun dan dimakamkan di Astana Raja-raja Imogiri, Bantul. HB VI meninggalkan karya seni tari yakni Bedhaya Babar Layar dan Srimpi Endra Wasesa.

HB VII (1877 - 1921)

Lahir dengan nama GRM Murtejo pada 4 Februari 1839, anak dari HB VI dengan permaisuri kedua bernama GKR Sultan. GKR Sultan merupakan permaisuri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono VI.

Pada masa HB VII berkembang pesat industrialisasi seiring era Cultuur Stelsel. Di bawah HB VII, berdiri 17 pabrik gula, baik milik Kasultanan, swasta maupun Belanda. Dari setiap pabrik, ia menerima uang sebesar f 200.000 (f = florin, rupiah Belanda) dari Belanda.

Kasultanan Yogyakarta mendapat keuntungan berlakunya era liberalisme sejak 1870. Kasultanan Yogyakarta mengenalkan sistem Hak Sewa Tanah untuk masa sewa 70 tahun. Tidak heran HB VII dikenal sebagai Sultan Sugih. Sugih berarti kaya.

Masa HB VII merupakan masa transisi menuju modernisasi. Banyak sekolah didirikan. HB VII juga menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi sampai Belanda. HB VII juga mendukung seni tari diperkenalkan di luar istana Keraton. HB VII mendukung anak-anaknya mendirikan sekolah tari gaya Yogyakarta, Krido Bekso Wiromo untuk siapa saja yang belajar.

Pola pikir HB VII yang terbuka menjadikan masa itu banyak berdiri organisasi-organisasi massa. Salah satunya organisasi besar seperti saat ini, Muhammadiyah. Organisasi ini lahir dari lingkungan Keraton Yogyakarta.

Pendiri Muhammadiyah, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan, merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta dengan nama Raden Ngabei Ngabdul Darwis. HB VII menyekolahkan KH Ahmad Dahlan ke Arab Saudi, lalu setelah pulang mendirikan Muhammadiyah.

Selama pemerintahannya, banyak peninggalan HB VII. Peninggalan itu antara lain pabrik gula, jalur kereta api, bangunan bersejarah Pesanggrahan Ambarukmo, merenovasi Tugu Golog Gilig yang rusak akibat gempa bumi. Seni tari, sastra, rias berkembang pesat, demikian juga menghasilkan keris-keris bagus karya abdi dalem.

HB VII wafat pada 30 Desember 1921 dan dimakamkan di Makam Raja-raja Imogiri, Bantul.

Keraton JogjaGrebeg: Ratusan warga berebut gunungan hasil bumi yang disuguhkan Keraton Yogyakarta di depan Kagungan Dalem Masjid Ageng Kauman. Acara grebeg ini selalu dinanti warga, sampai luar Yogyakarta. (Foto: Dok Keraton Yogyakarta/Tagar/Ridwan Anshori)

HB VIII (1921 - 1939)

Lahir dengan nama GRM Sujadi pada 3 Maret 1880, anak dari HB VII dengan GKR Hemas. HB VIII menggantikan ayahnya, HB VII yang lengser keprabon atau turun tahta serta memilih tinggal di pesanggrahan Amberketawang. Saat itu, HB VIII masih menempuh sekolah di Belanda.

HB VIII dengan pikiran terbuka, memanfaatkan kekayaan Keraton untuk mendorong dunia pendidikan. Pada masa pemerintahannya, banyak organisasi juga muncul, salah satunya Sekolah Taman Siswa Nasional yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Pada masa pemerintahan HB VII, Yogyakarta mengalami perkembangan pesat di bidang pendidikan, kesehatan dan arsitektur. Bentuk fisik Keraton sampai sekarang ini merupakan hasil renovasi pada masa HB VIII.

Bidang seni dan sastra juga berkembang pesat. Pada masa HB VIII ini mulai ada pembakuan terhadap pakem tari klasik Gaya Yogyakarta. Pentas wayang orang juga mengalami keemasan.

Sebelum HB VIII wafat, memanggil putra BRM Dorojatun yang sedang belajar di Belanda. Keduanya bertemu di Batavia, lalu HB VIII menyerahkan pusaka Keraton Kyai Joko Piturun. Ini menandakan HB VIII sudah menyerahkan penerus tahtanya kepada BRM Dorojatun. HB VIII meninggal pada 22 Oktober 1939 dan dimakamkan di Astana Saptarengga, Pajimatan Imogiri, Bantul.

HB IX (1940 - 1988)

Lahir dengan nama GRM Dorojatun pada 12 April 1912. Dia adalah anak kesembilan HB VIII dari istri kelimanya, Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit. Masa muda HB IX lebih banyak di luar lingkungan keraton sehingga jauh dari kesan bangsawan.

Masa muda HB IX bersekolah di Belanda, berkenalan akrab dengan putri Ratu Juliana yang kelak menjadi ratu. Sebelum Perang Dunia II meletus, ayahnya memanggilnya pulang ke Tanah Air. Pada 18 Maret 1940 dinobatkan sebagai Raja dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kandjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX.

HB IX bersabda pada saat penobatan sebagai raja, satu penggal kalimatnya dikenang sampai saat ini. "Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”.

Saat Indonesia merdeka, HB IX mengucapkan selamat kepada proklamator. Dua minggu setelah proklamasi, 5 September 1945, HB IX bersama Paku Alam VIII mengeluarkan maklumat bahwa Daerah Yogyakarta adalah bagian dari NKRI.

HB IX berujar saat itu, Yogyakarta resmi memasuki abad modern. Yogyakarta bukan lagi sebuah entitas negara sendiri, tetapi bagian dari negara republik (NKRI). Langkah ini didukung sepenuhnya oleh rakyat.

Keraton JogjaWarga Yogyakarta menggelar salat berjamaah di Pagelaran Keraton Yogyakara dalam rangka memperingati hadeging atau berdirinya Keraton Yogyakarta sebagai penerus Mataram Islam. (Foto: Dok Keraton Yogyakarta/Tagar/Ridwan Anshori)

Saat NKRI dalam tekanan yang luar biasa oleh Belanda, HB IX mengusulkan ibu kota pindah ke Yogyakarta. Langkah ini untuk menegaskan agar NKRI tetap berdiri, tidak jatuh kepada Belanda. Selama beribu kota di Yogyakarta, seluruh finansial ditanggung oleh kas Keraton Yogyakarta.

HB IX tercatat menempati posisi strategis di negeri ini. Antara lain Menteri Negara era Kabinet Syahrir (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) hingga Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 s/d 4 Agustus 1949). Menjabat Menteri Pertahanan pada masa kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 s/d 20 Desember 1949) hingga masa RIS (20 Desember 1949 s.d. 6 September 1950).

Menjadi Wakil Perdana Menteri di era Kabinet Natsir (6 September 1950 s.d. 27 April 1951). Pada 1973 menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia yang kedua, lalu mengundurkan diri pada 23 Maret 1978.

Peninggalan monumental HB IX adalah membuat Selokan Mataram. Saluran air mengalir membelah Yogyakarta dari Sungai Progo dengan Kali Opak . Saluran pengairan sawah tidak pernah berhenti di musim kemarau sekali pun.

Proyek pembuatan Selokan Mataram ini sebenarnya untuk menyelematkan rakyat Yogyakarta dalam program kerja paksa Jepang, Romusha. Langkah KB IX ini tidak sekadar menyelamatkan nyawa rakyatnya kala itu, namun proyek dibuatnya tetap bisa dinikmati sampai saat ini.

Seperti raja-raja Keraton pendahulunya, HB IX juga punya kepedulian yang tinggi terhadap seni dan budaya. Antara lain menciptakan tari klasik Golek Menak yang meneguhkan karekter khas gerak tari gaya Yogyakarta.

HB IX wafat pada 2 Oktober 1988  di George Washington University Medical Center. HB IX dimakankan di Kompleks Pemakaman Raja-raja di Imogiri. Sepanjang perjalanan jenazah dari Keraton Yogyakarta sampai ke pemakaman sepanjang 20 kilometer, di kanan kiri jalan dipenuhi orang. Lautan manusia itu menangisi kepergiannya. Atas jasanya, pemerintah RI menganugerahi HB IX gelar Pahlawan Nasional.

HB X (1989 - sekarang)

Lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito pada 2 April 1946, yang merupakan anak tertua dari Sri Sultan HB IX dari istri kedua BRAy Adipati Anum. Menikah dengan Tatiek Drajad yang kemudian bernama GKR Hemas dikarunia lima putri. HB X ditetapkan sebagai Gubernur DIY pada 1998 sampai sekarang.

Berganti nama KGPH Mangkubumi saat dinobatkan sebagai putra mahkota bergelar Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.

HB X naik tahta raja pada 7 Maret 1989 menggantikan ayahnya, HB IX. HB X bertahta dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pada 30 April 2015, HB X mengeluarkan Sabdaraja, yang salah satu isinya mengganti nama dan gelar. Nama dari Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono dengan gelar baru menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati-ing-Ngalaga Langgeng ing Bawana, Langgeng, Langgeng ing Tata Panatagama.

HB X kembali mengeluarkan Dawuhraja 5 Mei 2015. Isi dari Dawuhraja ini mengganti nama putri sulungnya, GKR Pembayun berubah menjadi GKR Mangkubumi dengan gelar Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Banyak yang menduga, penggantian nama putri sulungnya ini merupakan pengangkatan putri mahkota yang kelak akan naik tahta.

Sabdaraja dan Dawuhraja HB X ini ditentang oleh adik-adik kandungnya atau pangeran Keraton yang berjumlah 14 orang. Sabdaraja dan Dawuhraja ini menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan menimbulkan pro dan kontra di luar istana Keraton. Sejak saat itu, hubungan kelurga inti HB X dengan para pangeran Keraton (adik-adik HB X) tidak harmonis sampai sekarang. []

Baca juga: