Surabaya, (Tagar 16/5/2018) - Wenny (47), ibunda dari almarhun Vinsencius Evan (11 tahun) dan Nathan (8 tahun) datang ke Adijasa dibawa pakai ambulance.

Saat tiba di rumah duka, Wenny diusung pakai tempat tidur rumah sakit. Warga Barata Surabaya ini datang untuk melihat jenazah anaknya dimasukkan ke dalam peti.

Kedua jantung hatinya meninggal saat dia ajak beribadah di rumah Tuhan.
Nathan, korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Bedah Surabaya di Jalan Manyar Surabaya.

Nathan sebelumnya sempat menjalani operasi di RS Bedah Surabaya. Namun, nyawanya tidak bisa diselamatkan hingga meninggal dunia.

Nathan adalah adik dari Vinsencius Evan, yang meninggal dunia di lokasi kejadian di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya pada Minggu (13/5/2018) siang.

Sehabis melihat kedua anaknya, Wenny yang terkena serpihan bom di bagian perut dan kakinya, harus kembali lagi ke rumah sakit. Dia hanya diberi waktu 4 jam ke luar dari rumah sakit oleh dokter.

Wenny, mama kedua almarhum, walau hanya di atas tempat tidur sejak dari rumah sakit sudah bisa duduk, bicaranya juga tegas.

Saat Wenny melihat kedua anaknya, banyak tamu dan pelayat yang datang ikut menangis.

“Sudah jangan menangis,” kata Wenny menasihati, yang datang dari rumah sakit ke Adiyasa untuk terakhir kali melihat kedua anaknya yang terbujur kaku.

Dia juga mengatakan, jangan suka marahin anak, nanti menyesal.

Wenny sungguh memiliki kekuatan ekstra luar biasa. Dia sempet bicara bahwa dia sudah memaafkan orang yang nge-bom.

Dia ingin meneladani Bunda Maria yang anak satu-satunya disiksa dan disalibkan untuk menebus dosa manusia.

Jangan Takut, Jangan Kalah

Sementara itu, Relawan Sapa Jatim Adem Korda Surabaya setelah peledakan bom di sejumlah lokasi di Kota Pahlawan meminta warga Surabaya tidak takut.

"Warga Surabaya jangan takut. Harus tetap kondusif dan tetap rukun di antara umat beragama," kata Koordinator Relawan Sapa Jatim Adem Korda Surabaya, Fuad Bernardi di Surabaya, Rabu (16/5).

Fuad Bernardi mengatakan, pihaknya mengutuk keras teror yang dilakukan para teroris yang mengakibatkan banyak korban meninggal dan luka-luka.

Dia menilai, perbuatan para teroris tidak dibenarkan oleh agama apa pun.

"Sungguh jahat. Apalagi ini sampai melibatkan anak-anak kecil yang tidak berdosa," ujar putra sulung Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini.

Selain itu, dia mengimbau masyarakat tidak menyebarkan berita dan foto para korban yang membuat kondisi semakin kacau karena hal itu merupakan tujuan dari teroris.

"Jangan buat teroris senang dengan kepanikan kita," ujarnya.

Hal senada disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Dia mengimbau warga Kota Pahlawan agar tidak menyerah kalah dengan aksi teror yang dilancarkan para teroris.

Risma berpesan agar warga Surabaya tetap tenang dalam situasi saat ini. Dia menyebutkan semua jajaran mulai dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Polres dan TNI sepakat untuk lebih intens menjaga keamanan Surabaya.

"Kita tidak boleh menyerah dan kita tidak boleh kalah. Ingat kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa," pintanya.

Apabila melihat orang-orang yang mencurigakan, orang baru, pertemuan-pertemuan yang tidak ada laporan, kata Risma, patut diwaspadai dan segera dilaporkan.

"Bukan berarti berprasangka buruk, tetapi mendeteksi dini itu yang sangat penting dan terjaga. Tolong kita sama-sama peka," kata dia. (yps)