Sentul, (Tagar 12/7/2018) - "Malam ini saya minta satu orang saja maju ke depan yang hafal Pancasila. Saya ingin menguji jangan-jangan ini jajaran pengurus atau relawan Samawi enggak hafal Pancasila. Tapi saya yakin insya Allah hafal Pancasila."

Itu ucapan Presiden Joko Widodo saat berada di antara ulama muda dalam acara halalbihalal dan silaturrahim nasional ulama muda Indonesia yang tergabung dalam Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) di Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul, Bogor, Selasa (10/7) malam.

Ia mengundang seorang ulama muda untuk naik ke panggung dan menguji hafalan Pancasila di hadapan 15.000 orang yang hadir. 

Seorang ulama muda bernama Benny berasal dari Karawang Barat pun naik ke panggung setelah mengacungkan jari.

"Nama saya Benny dari Karawang Barat," katanya.

Ia dipersilakan Presiden untuk langsung menyebutkan hafalan Pancasila. Benny dengan tegas dan lantang menjawab tantangan Presiden sehingga mendapatkan hadiah sepeda.

"Sepedanya mana, Pak?" tanya Benny setelah selesai menjawab tantangan Presiden.

"Sebentar, sebentar. Apa bawa sepeda? Ya Kang Benny diberi satu sepeda," kata Presiden.

Selain Benny, Presiden juga memberikan kesempatan kepada peserta perempuan yang hadir dalam acara Samawi itu untuk naik ke panggung.

"Negara kita ini negara besar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dua pertiganya air, di dalam air banyak ikan. Ini untuk yang wanita. Sebutkan 10 nama ikan. Kalau enggak hafal jangan maju," katanya.

Seorang perempuan bernama Aya berasal dari Parung Panjang, Bogor, pun maju dan menyebutkan nama-nama ikan yang diminta.

"Ikan teri, ikan tongkol, ikan paus, hiu, pari, gabus, mujair, emas, lalu...," ia kebingungan karena mengaku grogi.

"Grogi saya dekat Bapak," kata Aya.

"Ikan grogi tidak ada itu. Ayo kurang dua apa lagi?" Tanya Presiden.

"Ikan cupang, ikan piranha," katanya.

"Ikan piranha bukan ikan Indonesia," kata Presiden.

"Ikan gurameh. Salam dari warga Parung Panjang Pak," kata Aya.

"Iya, iya, saya beri sepeda. Nanti kalau enggak bisa bawa bisa dikirim. Tapi dipegang dulu," kata Presiden.

Ribuan orang yang hadir pun riuh bertepuk tangan.

Memilih Pemimpin

Dalam kesempatan itu Jokowi mengajak para ulama agar bisa mendidik masyarakat untuk pandai-pandai memilih pemimpin pada tahun politik yang makin memanas.

"Pada tahun ini kita memasuki tahun politik, tahun depan adalah tahun politik, kita harus mengajak masyarakat masuk tahun politik pandai memilih pemimpin," katanya.

Dalam forum yang dihadiri 15.000 ulama muda dari berbagai provinsi itu, Presiden berpesan agar ulama memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, tetangga, teman, saudara, teman sedaerah, dan siapa pun sesuai fakta dan bukti yang ada.
Presiden ingin agar ulama tidak terjebak untuk ikut serta mengabarkan berita bohong, hoaks, terutama di media sosial.

"Ini harus kita jaga. Dalam pilih pemimpin, sampaikan kepada teman dilihat rekam jejak seperti apa? Track record-nya? Prestasinya apa? Kinerjanya apa? Jangan sampai mudah masyarakat dihasut, jangan diberi kabar tidak betul, fakta tidak betul," katanya.

Menurut Jokowi, memang masyarakat di Tanah Air diberi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Akan tetapi, tetap saja ada batasan, tata krama, sopan santun, dan etikanya. 

"Jangan sampai diberi kebebasan gampang mudah mencela, gampang cemooh orang lain, itu bukan nilai islami yang diajarkan Rasulullah," katanya.

Oleh karena itu, Presiden mengajak seluruh masyarakat, khususnya ulama, untuk berpikir penuh kecintaan, ke arah positif, dengan prasangka baik.

"Inilah yang akan menjadikan bangsa ini besar, kuat," katanya.

Presiden menjelaskan, terlebih berdasarkan perhitungan Bappenas dan berbagai lembaga dunia lain seperti Mckenzie dan Bank Dunia, Indonesia diproyeksikan akan menjadi lima besar ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2045.

"Memang masih menunggu, tetapi jalan ke tempat lebih terang sudah lebih kelihatan," kata Jokowi.

Alasan Dukung Jokowi

Sebelumnya di tempat yang sama 15 ribu ulama muda Indonesia yang tergabung dalam Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) ini menggelar deklarasi untuk mendukung Joko Widodo meneruskan periode keduanya sebagai Presiden RI.

"Kenapa para pemuda Islam dan ulama mendukung Jokowi, karena alasan rasional dan objektif. Di antaranya karena Presiden Jokowi sudah terbukti melakukan kerja-kerja nyata untuk kemajuan Islam di Indonesia, bahkan dunia," kata salah satu Dewan Pendiri Samawi Ustaz Ahmad Nawawi. 

Alasan lain, bahwa Presiden Jokowi selama beberapa tahun pemerintahannya terbukti bekerja membangun infrastruktur di seluruh Indonesia.

"Presiden Jokowi juga telah menetapkan 1 hari nasional sebagai Hari Santri Nasional. Di samping juga Presiden Jokowi terlibat aktif memperjuangkan perdamaian di Afghanistan, dan konsisten mendukung kemerdekaan Palestina," katanya.

Sekjen Samawi Aminuddin Maruf menyebutkan setidaknya ada dua alasan utama yang menjadi kesepakatan para ulama muda untuk kembali mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

"Jokowi dinilai sebagai pemimpin yang pro dan peduli dengan umat beragama, khususnya Islam. Jokowi hampir selalu menyempatkan diri hadir diberbagai agenda-agenda besar yang dihelat oleh banyak organisasi Islam yang ada di Indonesia," katanya.

Alasan kedua, terkait dengan pembangunan nasional. Ia menilai Jokowi telah mampu membangun Indonesia di berbagai daerah dengan tanpa melupakan pembangunan di Pulau Jawa. 

"Ini sesuai dengan prinsip keagamaan Islam Indonesia yaitu 'almuhafadzatu `ala qadimish shalih wal ahdu bil jadidil aslah' yang dalam konteks pembangunan manusia dapat dimaknai melaksanakan pembangunan-pembangunan baru yang lebih bermanfaat dan bermaslahah, tanpa melupakan pembangunan lama yang juga bermaslahah," katanya.

Samawi merupakan organisasi yang dibentuk oleh para anak muda dari berbagai latar belakang profesi dan organisasi Islam, sebagai wujud ijtihad dan ikhtiar politik sekaligus bentuk bakti kepada bangsa, agama, dan negara.

Ada enam ulama muda yang membidani Samawi dan sekarang duduk sebagai Dewan Pendiri yakni Ajengan Addin Jauharudin (Cirebon, Jawa Barat), Ustaz Djihadul Mubaroq (Jawa Tengah), Ustaz Mulyadi P Tamsir (Kalimantan), Gus Aminuddin Ma'ruf (Jakarta), Ustaz Ahmad Nawawi (Banten), dan Ajengan Nizar Ahmad Saputra (Bandung, Jawa Barat).

Saat ini, Samawi sudah terbentuk di 10 wilayah (Aceh, Sumut, Sumbar, Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, dan NTB). Di 10 provinsi ini, Samawi sudah dibentuk kepengurusannya hingga tingkat desa. Organisasi yang tumbuh atas dasar kesadaran para ulama muda itu terdiri dari kiai, pimpinan pesantren, organisasi kepemudaan Islam, guru madrasah, ustaz, penceramah, dan para santri.

Samawi menggelar Deklarasi pada hari Selasa (10/7) di Sentul International Convention Centre (SICC) Kabupaten Bogor. Acara itu dirangkai dengan agenda Halalbihalal dan Silaturahmi Nasional Ulama Muda dengan tema besar Ulama Muda Merekat Indonesia. Tema ini diangkat melihat kondisi terkini umat Islam di Indonesia yang sering kali terpecah dan saling membenci hanya disebabkan karena perbedaan pilihan politik. 

Harapan dan cita-cita Samawi adalah menyatukan kembali umat Islam di Indonesia dalam ukhuwah atau persaudaraan Islam, hidup damai dalam keberagaman mazab dan organisasi, serta berbeda dalam pilihan politik.

"Kehadiran Presiden Jokowi dalam agenda silaturahmi nasional dan deklarasi ini merupakan semangat baru bagi Samawi untuk terus memperjuangkan tujuan dan cita-cita kami," kata Aminuddin Maruf. 

Selain para ulama muda, hadir juga para ulama dari berbagai daerah dan hadir dalam kapasitas sebagai Majlis Syuro Samawi Pusat dan Majelis Syuro Samawi Daerah. (af)