Jakarta, (Tagar 6/12/2018) -  Kancah indie sering dipandang sebelah mata sponsor dan produser acara hiburan. Grup musik atau band indie yang sejatinya punya barisan massa melimpah itu kemudian membuktikannya belakangan.

Tanpa bantuan sponsorship, band indie masih sanggup bernapas, berlari, hingga mengangkasa di ruang-ruang kreatif publik meski minim pemberitaan dari media arus utama.

Jadwal manggung yang padat, pendapatan jual merchandise, juga dari hasil menjajakan musik secara digital mampu menghidupi grup musik indie.

Bahkan awak panggung (crew), seperti photographer, sound engineer dan banyak profesi lain kini mampu mendapat bayaran layak di ekosistem yang dikelilingi band indie.

Seringai menjadi salah satu band yang bisa mewakili hal tersebut. Grup musik cadas itu tercatat menjadi salah satu band laris sepanjang tahun 2016 dengan raihan 44 pertunjukan.

Dalam sebuah kesempatan, vokalis Seringai, Arian 13 mengungkapkan jika pendapatan bandnya itu bisa mencapai ratusan juta hingga setengah miliar rupiah per tahun. Pemasukan itu hanya berasal dari membuat dan menjual merchandise asli milik Seringai.

SeringaiSeringai saat proses produksi video klip Selamanya. (Foto: Instagram @seringaiofficial)

Penghasilan itu, kata Arian, dikalkulasi dari penjualan 300 sampai 400 tshirt Seringai berharga Rp 200.000 sampai dengan Rp 250.000 per potong. Namun, jumlah itu hanya untuk satu desain. Jika satu tahun Seringai mencetak 24 desain, maka hasil keuntungan mencapai lebih dari setengah miliar rupiah.

"Harga jual 1 buah tshirt sekarang Rp 135.000, itu rata-rata. Tapi yang jual, dari Rp 70.000 sampe Rp 200.000, Rp 250.000 juga ada. Biaya 1 tshirt itu Rp 45.000 dan kalau kamu apa, dititipkan di distro atau ke manapun itu, mungkin konsinyasi adalah 25%. Artinya profit 1 tshirt adalah Rp 56.250," ujar Arian dalam dokumentasi Archipelago Festival 2017.

"Seringai sendiri, band gua, kita bisa bikin itu 300 sampai 400 (tshirt), 1 desain. Dan kalo desainnya bagus itu bisa habis dalam waktu mungkin 1 atau 2 bulan," lanjutnya.

Menurutnya, penjualan merchandise yang dikelola dengan baik bisa menghidupi para personel Seringai, sejumlah crew, bahkan rekaman untuk album baru. Keuntungan itu tentu saja di luar pendapatan lain, seperti manggung, penjualan album dan royalti dari penjualan musik secara digital.

Manager Seringai, Wendi Putranto, tidak menampik pernyataan Arian itu. Dia menyebut pendapatan Seringai bisa mencapai angka lebih dari setengah miliar rupiah.

Namun, Wendi menolak untuk menyebut nominal pasti keuntungan Seringai tiap tahunnya. Alasannya, Wendi belum mendapat laporan dari bagian keuangan Seringai. Tapi, yang pasti, kata Wendi, pendapatan terbesar berasal dari konser.

"Iya, bisa. Belum tau pastinya juga sih," ungkap Wendi kepada Tagar News, Kamis (6/12).

Dibentuk tahun 2002, Seringai serta personelnya cukup terkenal di kancah musik indie maupun insan kreatif nasional. Sang vokalis, Arian 13, sempat malang melintang di gerakan musik bawah tanah Bandung dengan band harcore lawas bernama Puppen.

Sementara gitarisnya Ricky Siahaan didaulat menjadi manajer aktor laga asal Indonesia yang mentereng di industri perfilman Hollywood, Iko Uwais. Kemudian bassisnya Sammy Bramantyo aktif menjadi penyiar radio di Ibu Kota dan sering menjadi announcer iklan televisi. Terakhir drumer Edy Khemod punya kesibukan sebagai director rumah produksi Cerahati. []