Aceh Utara - Provinsi Aceh memiliki banyak situs sejarah yang sangat memberikan edukasi dan informasi bagi masyarakat tentang peradaban yang terjadi pada masa lalu. Tentunya situs sejarah itu tersebar di berbagai daerah.

Tentunya setiap situs sejarah yang telah ditinggalkan oleh pendahulu menyimpan berbagai cerita dan peristiwa penting, yang idealnya harus selalu dikaji serta melakukan penelitian-penelitian yang lebih mendalam. Hingga masyarakat bisa mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi pada masa lampau.

Apalagi jejak-jejak sejarah di Provinsi Aceh meninggalkan berbagai sejarah peradaban Islam, bahkan provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera itu dikenal sebagai tempat penyebaran Islam pertama di Nusantara dan bahkan di Asia Tenggara.

Namun sayang, kini berbagai situs sejarah tersebut banyak yang terbengkalai dan bahkan batu nisannya banyak yang ditemukan mulai rusak. Coba bayangkan saja, apabila situs sejarah mulai hilang, maka suatu daerah tersebut mulai kehilangan identitasnya.

Bahkan ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah”, namun dalam kenyataan hal tersebut tidak berlaku sama sekali dan berbagai situs sejarah itu kondisinya sangat memprihatinkan.

Kontributor Tagar menelusuri berbagai situs sejarah yang terbengkalai di kawasan Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Kondisi makam peninggalan peradaban Kerajaan Samudera Pasai banyak yang sangat memprihatinkan.

Seperti halnya salah satu makam yang terletak di kawasan Desa Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, makam tersebut tepat berada di pinggir jalan dan tidak dipugar sama sekali. Namun kedua makan tersebut belum diketahui siapa, hanya saja bentuk ukiran nisannya merupakan peradaban dari kerajaan Samudera Pasai.

Sebagaimana diketahui, Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama yang ada di Indonesia, meskipun dalam catatan lain kerajaan pertama di Indonesia adalah kerajaan Perlak. Samudera Pasai berdiri pada abad ke 13 dan didirikan oleh seorang laksamana laut dari Mesir bernama Nizamuddin Al-Kamil. Dengan berdirinya Kerajaan Samudra Pasai tersebut, perekonomian di sekitar Selat Malaka menjadi sangat berkembang pesat.

Tahun lalu ada makam para pelaut dari Kerajaan Samudera Pasai yang dibongkar secara paksa, untuk membangun kompleks perumahan.

Situs AcehMakan anak kandung Jenderal paling masyhur dalam sejarah dinasti China, Jenderal Han Xin dan anaknya itu bernama Buafaiying. (Foto: Tagar/ M. Agam Khalilullah)

Di sekitar areal makam tersebut juga dipenuhi oleh berbagai semak belukar, apabila dilihat secara sekilas maka bukan seperti makam peninggalan jejak kerajaan. Padahal makam itu mengandung nilai sejarah yang tinggi.

Begitu juga dengan makam Bate Balee yang terletak di Desa Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, kondisinya tidak kalah memprihatinkan bahkan banyak ukiran di batu nisan mulai pudar karena tidak ada perawatan.

Makam tersebut menyimpan peradaban Islam yang cukup tinggi. Bahkan sudah ada sejak abad ke-15, di mana generasinya merupakan periode ketiga dari kerajaan Samudera Pasai.

Berdasarkan hasil penelitian, dari setiap nama sultan yang tertera pada mata uang atau dirham dikeluarkan oleh Kerajaan Samudera Pasai, maka makam sultan tersebut ada di kompleks makam Batee Balee itu.

Dari ratusan batu nisan tersebut, sebagian nama-nama sultan yang dimakamkan di kompleks Makam Bate Balee tersebut yaitu Sultan Shalahuddin, Abu Zaid Ahmad, Mu’izzuddunya Waddin Ahmad, Muhammad Syah, Al Kamil bin manshur, Abdullah bin Manshur, Muhammad Syah III, Abdullah bin Mahmud dan Sultan Zainal Abidin IV.

Bukan hanya itu saja, penasihat Kolonial Belanda Christiaan Snouck Hurgronje juga pernah berkunjung ke makam tersebut dan sempat lama melakukan penelitian. Hasil penelitianya itu digunakan oleh penjajah Belanda untuk menghilangkan jejak sejarah.

Situs AcehPeneliti Sejarah Aceh Husani Usman memperlihatkan makam yang belum diketahui pemiliknya. Dilihat dari ukiran nisan, ini peninggalan jejak Kerajaan Malikussaleh. (Foto: Tagar/M. Agam Khalilullah)

Namun kini kondisi makam tersebut mulai rusak dan bahkan tulisan-tulisan di batu nisannya banyak yang mulai pudar, serta tidak terlihat dengan jelas. Apabila tidak diperhatikan sama sekali, maka jejak sejarah itu akan sirna.

Kondisi yang sama juga terlihat pada makam anak jenderal dari kerajaan China, yang terletak di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, kondisinya cukup memprihatinkan dan bahkan tidak diberikan pagar atau pelindung.

Makam tersebut merupakan anak kandung jenderal paling masyhur dalam sejarah dinasti China, yaitu Jenderal Han Xin dan anaknya itu bernama Buafaiying. Ia datang ke Aceh pada abad ke-9, yaitu pada masa kepemimpinan Ratu Nahrasiyah. Apabila dilihat dari bentuk nisan, maka dirinya diposisikan secara terhormat oleh ratu dan menjadi orang yang disegani dalam kerajaan.

Ada dua versi mengapa anak jenderal tersebut bisa tiba di Aceh, yang pertama karena mengalami kekalahan perang di China, sehingga terpaksa hijrah ke daerah lain dan disaat kepemimpinan Ratu Nahrasiyah siapa pun yang datang akan diterima.

Versi kedua, bisa juga diakibatkan karena aktivitas perdagangan dan sambil menuntut ilmu. Apalagi pada masa kepemimpinan ratu tersebut, sedang mengalami puncak kejayaan Islam.

Di balik itu, masih banyak makam yang mengandung nilai sejarah yang terbengkalai dan terabaikan, seharusnya kita semua mempunyai tanggung jawab bersama untuk melestarikan berbagai jejak sejarah itu.

Situs AcehPeneliti Sejarah Aceh Husani Usman memperlihatkan infrastruktur Kerajaan Samudera Pasai di Desa Geudong, Aceh Utara. (Foto: Tagar/M. Agam Khalilullah)

Ribuan Nisan Terbengkalai

Peneliti Sejarah Aceh Husaini Usman menyebutkan, untuk wilayah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara sangat banyak batu nisan peninggalan sejarah yang terbengkalai dan bahkan ada juga makamnya dibongkar untuk dibangun kompleks perumahan.

Pihaknya berinisiatif mengamankan berbagai batu nisan itu agar jejak sejarah tidak hilang. Batu nisan yang diamankan oleh pihaknya, merupakan makam para pelaut dari Kerajaan Samudera Pasai.

“Tahun lalu ada makam para pelaut dari Kerajaan Samudera Pasai yang dibongkar secara paksa, untuk membangun kompleks perumahan. Kami hanya bisa menyelamatkan ratusan batu nisan saja, agar jejaknya tidak hilang,” ujar Husaini Usman.

Hingga sekarang ini pihaknya sudah mengumpulkan ratusan batu nisan peninggalan peradaban Islam, karena kondisi makamnya mulai rusak dan karena ada yang dibongkar secara paksa.

“Seharusnya berbagai situs sejarah tersebut tidak boleh dirusak karena setiap peristiwa sejarah tidak akan pernah bisa kita ulangi lagi pada masa sekarang, maka begitu juga dengan setiap peninggalan harus kita jaga dengan baik, jangan sampai rusak,” katanya.

Pemerintah Harus Peduli Terhadap Sejarah

Para kepala daerah di Provinsi Aceh harus lebih peduli terhadap berbagai situs sejarah, jangan sampai peninggalan yang terjadi di masa silam itu hilang begitu saja, hal itu sangat disayangkan.

Akademisi Universitas Malikussaleh Masriadi Sambo mengatakan, setiap kepala daerah harus mempunyai kepedulian dari hati untuk melindungi berbagai situs sejarah tersebut, apabila masih belum terbesit di dalam hati nurani maka hal itu tidak akan pernah dilakukan.

“Kita sama-sama tahu bahwa di Aceh sangat banyak situs sejarah peninggalan peradaban Islam tapi banyak pula yang terbengkalai. Makanya orang yang bisa melestarikan situs sejarah itu, orang yang mempunyai niat di hati nuraninya,” ujar Masriadi.

Masriadi menambahkan, Aceh harus bisa belajar dari negara-negara maju, berbagai situs peninggalan sejarah dirawat dengan baik dan dijadikan sebagai media untuk edukasi bagi anak dan cucu kita nantinya.

Kalau memang karakter dan pemerintah daerah di provinsi ini yang mudah melupakan berbagai situs sejarah tersebut, maka harus malu pada diri sendiri karena situs sejarah itu peninggalan peradaban Islam.

“Sebenarnya saat ini kita harus malu pada diri sendiri, karena terlalu mudah melupakan berbagai situs sejarah. Sejarah merupakan hal yang tidak bisa diulang lagi, maka apa yang ditinggalkan harus dijaga,” tutur Masriadi. []