Semarang, (Tagar 5/12/2018) - Suparjo berusia 57 tahun warga Gayamsari, sopir yang mengemudi taksi yang ditumpangi NH Dini pada hari kecelakaan. 

Ia berjalan tertatih di aula Santa Ana, Wisma Lansia Harapan Asri, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Rabu (5/12) pagi. Di tengah ruangan tersebut jenazah NH Dini disemayamkan.

Sesaat setelah menyalami sejumlah para pelayat yang hadir, Suparjo bergegas mendekati peti yang didalamnya terbujur jenazah NH Dini, diam dalam posisi berdoa.

Wajahnya sedih, menatap layu jenazah NH Dini. Tangan kiri berbalut perban didekapkan ke dada menahan haru. Tangisnya pecah di antara lantunan doa yang dipanjatkan.

Tak ada kata yang terucap, hanya terlihat mulut bergetar manahan tangis. Air matanya meleleh di antara keriput pipinya. Suparjo lemas hingga beberapa kerabat menuntunnya ke kursi pelayat.

Kemarin, Selasa (4/2) Suparjo dengan taksinya mengantar NH Dini pulang setelah berobat tusuk jarum. Suparjo sopir taksi langganan NH Dini. 

Di tengah perjalanan, tepatnya di ruas tol Tembalang KM 10, Tembalang, taksi yang ia kendarai mengalami kecelakaan sekira pukul 11.15 WIB.

Bermula dari truk bermuatan bawang melaju dari arah utara (Gayamsari) ke selatan (Tembalang). Di lokasi kejadian truk bernomor AD 1536 JU mengalami kerusakan sehingga berhenti sesaat di jalur utama.

Saat pengemudi truk, Gilang Septian (28) warga Magelang hendak melanjutkan perjalanan, truk ternyata tak kuat menanjak. Truk akhirnya berjalan mundur tak terkendali.

Nahas, dari arah belakang melaju taksi Avanza H 1362 GG yang ditumpangi Suparjo dan NH Dini. Kejadian yang cepat dan jarak yang dekat membuat dua kendaraan tabrakan. Truk terguling, menimpa bodi taksi beserta penumpangnya.

Suparjo hanya menderita luka di tangan, sementara NH Dini harus dilarikan ke rumah sakit. Novelis kenamaan Tanar Air tersebut akhirnya mengembuskan napas terakhir pada pukul 16.30 WIB setelah beberapa saat dirawat di RS St Elizabeth.

Cucu keponakan NH Dini, Aisa R Jusmar membenarkan almarhum berlangganan taksi yang disopiri Suparjo. "Beliau memang sering melakukan terapi tusuk jarum dan diantar oleh sopir taksi langganannya," ujar dia.

Kepala Wisma Lansia Harapan Ceria, Bruder Heri Suparno juga membenarkan NH Dini berlangganan taksi Suparjo. "Sudah jadi langganan selama lima tahun terakhir," kata dia. 

Heri Suparno bercerita, sastrawan bernama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu menjalani terapi tusuk jarum dua kali dalam sepekan.

"Setiap hari Rabu dan Jumat terapi tusuk jarum di daerah Jagalan, Semarang," kata Heri. []