Bogor, Jawa Barat, (Tagar 29/11/2018) - Empat anak berumur belasan tahun itu tetap mencuci motor dan mobil. Mereka tak menghiraukan hujan deras disertai petir sedang mengguyur Pondok Pesantren (Ponpes) Tajul Alwiyyin di Pabuaran, Kemang, Bogor, Jawa Barat.

Tajul Alwiyyin merupakan pondok pesantren yang didirikan oleh Bahar bin Smith alias Bahar Smith. Orang-orang ada yang memanggilnya Habib Bahar Smith.

Abdul Qodir (16), santri ponpes mengatakan Tajul Alwiyyin berdiri sejak 4 tahun lalu.

Ia bercerita, mayoritas santri di sini dididik untuk mendalami ilmu agama Islam. Berbekal ilmu tersebut, nantinya santri-santri akan berkembang menjadi seorang ulama ataupun pendakwah.

"Saya sudah lima bulan di sini. Dari Senin sampai Minggu belajar nahu, tajwid, hadis, imlak, sorof, akhlaq dan mafudot," ucap santri asal Palembang itu kepada Tagar News, Kamis sore (29/11).

Selain itu, lanjutnya, masih banyak kitab yang ia belum sempat pelajari. "Kalau ujian wajib menulis pakai Bahasa Arab. Kalau pakai bahasa Indonesia tidak boleh, nanti salah-salah bisa dapat nilai jelek," ujarnya.

Baca juga Nasdem: Bahar Smith Penceramah Paling Buruk

Bahar SmithPara santri di Ponpes Tajul Alwiyyin milik Bahar Smith berlokasi di Pabuaran, Kemang, Bogor, Jawa Barat. Mereka tak hiraukan hujan petir, terus saja dengan kegiatan mencuci mobil dan motor di pelataran Ponpes, Kamis (29/11/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

Banyak santri di sini bercita-cita menjadi pendakwah, salah satunya adalah Ardi (16) asal Medan. Ardi anak keempat dari tujuh bersaudara, ingin suatu hari nanti menjadi seorang pendakwah. Orangtuanya mengirimnya ke tempat ini agar Ardi bisa mewujudkan cita-citanya.

"Saya ke sini sejak lima bulan lalu, ingin lulus dari sini dan setelah itu jadi seorang pendakwah. Meskipun untuk lulus bisa sekitar empat sampai delapan tahun, saya akan coba" kata Ardi.

Ardi mengatakan, tidak merasa keberatan meskipun sehari-hari tidak diajarkan pelajaran-pelajaran seperti di sekolah umum, di antaranya ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, matematika.

Di Ponpes milik Bahar Smith ini, kata Ardi, juga tidak diajarkan pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan.

"Ada satu pelajaran untuk membaca huruf Arab gundul, dan saya ingin bisa itu, saya harus bisa" harapnya.

Ardi menjelaskan, ia bisa pulang ke Medan hanya sekali dalam setahun, itu pun saat momen Lebaran saja. 

Bahar SmithSeorang santri sedang mencuci mobil Bahar Smith di pelataran Ponpes Tajul Alwiyyin di Pabuaran, Kemang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/11/2018). (Foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna)

"Di Tajul Alwiyyin saya tetap bisa berkomunikasi dengan orangtua melalui telepon, tetapi dua minggu sekali, handphone diberikan selama 2 hari," ucap Ardi.

Abdul Qodir mengatakan, saat ini Ponpes Tajul Alwiyyin dihuni sekitar 60-80 santri, jumlah tersebut berbeda jauh ketika bulan Juli ia masuk. 

"Waktu itu masih ada 120-140 santri, tapi sekarang menurun jadi 60-80 santri. Saya tidak tahu kenapa pada keluar," kata Abdul Qodir.

Ia menunjukkan raut wajah bingung seperti tidak tahu, tidak mengerti apa-apa, saat disinggung mengenai ceramah Bahar Smith yang diduga mengandung penghinaan (hate speech) kepada Kepala Negara. 

Abdul Qodir hanya mengatakan, Bahar Smith yang ia panggil Habib itu sedang tidur dan bangunnya nanti pada waktu malam. Ia menunjuk sebuah mobil warna hitam di pelataran Ponpes, mobil berplat nomor B 1 MPR milik Bahar Smith. 

Sebelumnya, Cyber Indonesia melaporkan penceramah Bahar Smith terkait ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo melalui media sosial yang tersebar ke Polda Metro Jaya.

Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid menyebutkan Bahar menyampaikan ucapan yang mengandung kebencian yakni, "Kalau kamu ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu, jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu." []