Jepara - Gereja Injili Tanah Jawi (GITJ) Jepara, Jawa Tengah, menggelar ibadah Kamis Putih basuh kaki. Meneladani Yesus, acara ini bertujuan membumikan ajaran Tuhan untuk mencintai sesama, termasuk yang berseberangan paham.

Dalam sejarahnya, sebelum disalib Yesus Kristus memberi contoh kepada pengikutnya mengenai budaya basuh kaki. Ia membasuh kaki muridnya guna memberikan teladan tentang pelayanan.

Apa yang dicontohkan oleh Yesus Kristus, berbeda dari budaya saat itu, karena lazimnya pelayan lah yang membasuh kaki para tamu.

"Ibadah Kamis putih kali ini adalah upaya kita untuk meneladani Kristus. Ia telah mencontohkan dengan merendahkan diri dan mengasihi. Maka sudah menjadi tugas kita untuk meneladani dan saling melayani antar sesama pejabat," kata Pendeta HN Widi Susabda kepada Tagar News, Kamis malam 18 April 2019.  

Apalagi habis pemilu ini kan banyak yang saling kontra, harapannya pasca pemungutan suara kita bisa lebih damai dan bersatu dengan beraneka ragam budaya.

Ia menjelaskan basuh kaki dilaksanakan setelah upacara kebaktian. Selanjutnya, para jemaat yang hadir dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Kemudian, mereka saling bergantian membasuh kaki sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan.

Febby Intan Puspita, seorang jemaat  GITJ Jepara mengatakan tradisi basuh kaki merupakan upaya untuk saling melayani antar jemaat. Terlebih lagi setelah pemilu.

"Basuh kaki menurut saya adalah ajaran untuk  tak memandang siapa pun orangnya, kita harus merendahkan diri dan saling melayani. Apalagi habis pemilu ini kan banyak yang saling kontra, harapannya pasca pemungutan suara kita bisa lebih damai dan bersatu dengan beraneka ragam budaya," tuturnya.

Sementara itu, Pendeta Danang Kristiawan menambahkan, acara basuh kaki sudah dilaksanakan sejak 2007. Menurutnya, acara tersebut merupakan upaya untuk menggali kembali kebiasaan lama yang dilakukan oleh Yesus Kristus, pada masanya. Disamping basuh kaki, pihaknya juga menggagas agar para jemaat berdonasi.

"Melalui yang namanya Puasa Paskah kami mengajak jemaat untuk berderma. Mengurangi jatah makan, kemudian uang jatah makan itu, dikumpulkan untuk membantu jemaat lain yang sedang kesusahan," terangnya.

Terkait makna basuh kaki, ia menyebut hal itu sesuai ajaran Yesus untuk mencintai sesama. Hal itu juga merupakan bentuk penjagaan terhadap nilai-nilai persaudaraan, sebagaimana tradisi gereja Mennonite seperti GITJ Jepara.

"Bukan hanya merangkul yang mencintai kita, tapi juga merangkul orang yang membenci kita. Itulah inti dari ajaran Yesus," pungkas Danang. []

Baca juga: