Gowa - Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Ma'minasata Pallantikang, Warga Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa mulai merintis industri keripik yang berbahan dasar buah-buahan.

Kasi Kesejahteraan Desa Pallantikang, Muhammad Ramli A Ewa yang juga sekaligus menjadi Anggota Badan Pengawas BUMDesa Ma'minasata Pallantikang menuturkan, industri keripik buah ini dirintis sejak Desember 2018 lalu. Namun, produksi dan pemasaran baru dimulai awal bulan Maret 2019.

"Proses persiapan lokasi usaha, perlengkapan teknologi dan manajemen sumberdayanya kami persiapkan kurang lebih dua bulan ini," tuturnya. Minggu 14 April 2019.

Diakui Ramli, kendati saat ini pemasaran produknya masih di wilayah Pattallassang,dirinya optimis produk olahan dari masyarakat ini bisa bersaing dengan produk-produk lainnya. Mengingat, proses pengolahannya juga dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

"Jadi, kegiatan produksi kita lakukan secara terpusat di rumah produksi yang berlokasi di Dusun Bilayya dan dikerjakan oleh manajemen BUMDesa dengan SOP tertentu. Hal ini kami lakukan untuk menjamin dan mengontrol standar kualitas produksi kami," katanya.

Produk keripik buah yang diproduksi masyarakat ini bermacam-macam. Ada keripik yang terbuat dari Pepaya, Nangka, Salak, Nanas, Mangga, Rambutan, Apel, Melon dan Semangka.

"Dengan menggunakan Teknologi Mesin Vacuum Fraying, pada dasarnya semua jenis buah yang ada bisa diolah menjadi keripik. Namun berbicara buah buahan setiap jenisnya dan pada daerah tertentu memiliki musim tertentu juga," ungkapnya.

"Selain itu produksi buah yang dihasilkan oleh petani pada musim tertentu yang jumlahnya banyak sehingga harga turun dapat kita olah sehingga tidak perlu lagi dibawa keluar," lanjutnya.

Kepada Tagar News, Ramli menjelaskan proses pembuatannya, dengan menggunakan bahan baku dari buah yang dihasilkan oleh petani. Kemudian diolah dengan sejumlah tahapan.

Dimulai dengan mengupas dan dibersihkan dengan air serta dipisahkan bijinya bagi buah yang memiliki biji. Kemudian diiris-iris dengan ketebalan tertentu untuk mendapatkan hasil kematangan yang merata.

"Bahan yang telah siap  dimasukkan dalam mesin Vacum Fraying kedap udara dengan suhu panas tertentu sesuai kandungan kadar Air (setiap jenis buah berbeda kadar airnya), untuk menghilangkan kadar airnya," jelas Ramli.

Lanjutnya, tingkat kematangan buah bisa dilihat jika tidak ada lagi gelembung di permukaan minyak goreng, selanjutnya ditiriskan dengan menggunakan mesin peniris. Setelah kadar minyak sudah tidak ada lagi maka dilanjutkan dengan proses pengemasan dan branding produk.

Harga yang ditawarkan cukup ekonomis, dengan harga Rp 5.000 rupiah perkemasan, produk keripik buah memiliki keunggulan tersendiri.

"Keripik ini tetap memunculkan rasa aslinya tanpa bahan perasa tambahan. Serta buah yang diolah pada umumnya dibudidayakan oleh warga sekitar," jelasnya.

Mewakili masyarakat desa, pengurus BUMDes dan Pengelola Unit Usaha, Ramli berharap, pemasaran produk keripik buah ini dapat menjangkau semua kalangan dan masuk ke supermarket- supermarket.

"Apabila permintaan pasar meningkat maka produksi juga harus ditingkatkan sehingga semakin banyak pula warga di Desa kami yang bisa diberdayakan baik sebagai tenaga kerja maupun petani buah," ucap Ramli.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang belum ada di desa, dirinya berharap ada kerjasama dengan pihak produsen buah yang dibutuhkan dari luar desa atau daerah lain. 

Tidak hanya itu, perhatian dan pendampingan dari instansi lembaga pemerintah maupun swasta untuk perkembangan kegiatan UKM ini kedepannya pun sangat dibutuhkan. []