Jakarta, (Tagar 14/3/2019) - Hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya, adalah gambaran keadaan 13 aktivis 1997-1998 yang diculik dan belum pulang hingga detik ini. Wiji Thukul adalah salah satunya.

Wiji adalah Penyair yang juga pimpinan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker), sebuah organisasi yang bergerak melawan pemerintahan represif Orde Baru melalui jalur kesenian rakyat di Solo, Jawa Tengah.

Pada 22 Juli 1996, Thukul berangkat ke Jakarta menggabungkan Jakker dengan beberapa organisasi lain, Partai Rakyat Demokratik (PRD). Jadilah Thukul sebagai Ketua Divisi Propaganda dan Editor Suluh Pembebasan, suplemen kebudayaan partai.

Thukul bukan penyair yang terlahir dari keluarga kaya. Ia hanyalah anak pertama dari tiga orang bersaudara, yang lahir dari ayah seorang tukang becak dan ibu rumah tangga biasa.

Pria kelahiran 25 Agustus 1963 ini, belajar sastra sejak di bangku sekolah dasar dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Meski tak merasakan sekolah yang tinggi, hanya sempat sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Jurusan Tari, namun karyanya sangat populer hingga kini dibawa dalam aksi peringatan hilangnya aktivis 1997-1998.

Ialah Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok yang ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994, yang sebenarnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Manus Amici adalah nama penerbit fiktif yang digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Thukul yang hilang, adalah suami dari Siti Dyah Sujirah alias Sipon, ayah dari Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Sebelum hilang, Sipon sempat bertemu dengan suaminya saat masa-masa genting penculikan aktivis 1997-1998.

Selang dua tahun setelah pertemuan terakhirnya, Thukul tak kunjung pulang. Sipon pun melaporkan hilang suaminya pada tahun 2000 ke KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

Sipon istrinya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, kedua anaknya memang tidak hadir berbagi kisah dalam dalam Konferensi Pers Keluarga Korban Penculikan Aktivis 1997-1998, Kembalikan Kawan Kami, Kalahkan Capres Pelanggar HAM, di Jalan Cemara 1 Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/3).

Namun, adiknya yakni Wahyu Waluyo yang kini menjadi Direktur Eksekutif Migrant Care hadir dalam pertemuan, dan membacakan sebuah puisi karya Wiji Thukul, Jenderal Marah-Marah.

"Saya akan membacakan puisi karya Wiji Thukul yang juga menghilang hampir bersamaan dengan Mugi, Aan Reza dan teman-teman lain," ujarnya sebelum membacakan puisi.

Para Jenderal Marah-Marah

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya, Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata ke luar dari mulutnya: ”Namamu di televisi .....” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi. Karena acara sudah diganti.

Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak. Aku memang lebih sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke dapur. Seperti biasa mertuaku yang setahun lalu ditinggal mati suaminya itu, telah meletakkan gelas berisi teh manis. Seperti biasanya ia meletakkan di sudut meja kayu panjang itu, dalam posisi yang gampang diambil.

Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali kalimat itu meluncur. ”Namamu di televisi....” ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagaimana kekejaman kemanusiaan itu dari pada aku.

Aku diburu pemerintahan ku sendiri layaknya aku ini penderita penyakit berbahaya. Aku sekarang buron tapi aku buron pemerintahan yang lali bukanlah cacat.

Pun seandainya aku dijebloskan ke dalam penjara aku sekarang telentang di belakang bak truk yang melaju kencang berpangkal atas dan punggung tangan pusat dalam-dalam segarnya udara malam langit amat jernih oleh jutaan bintang.

Sungguh baru malam ini begitu merdeka paru-paruku. Malam sangat jernih, sejernih pikiranku. Walaupun penguasa hendak mengeruhkan tapi siapa mampu mengusik ketenangan bintang-bintang. []